TRADISI SONTENGAN
![]() |
| Dok. pribadi |
Kabupaten Bondowoso yang terletak di
antara kabupaten Jember (sebelah selatan) dan Kabupaten Situbondo (sebelah
utara) dikenal dengan sebutan Kota Tape. Sebab, Bondowoso merupakan penghasil
singkong produktif. Salah satu makanan khasnya yang paling populer adalah tape.
Selain kuliner tape, Bondowoso juga memiliki destinasi wisata, adat istiadat,
kerajinan, kesenian dan beragam budaya berkearifan lokal yang hingga kini masih
dilestarikan oleh sebagian besar masyarakatnya.
Destinasi wisata yang sangat populer
adalah keindahan alam dan pesona blue fire Kawah Ijen yang memukau. Kawah
Ijen tidak saja dikunjungi oleh masyarakat Bondowoso. Bahkan, masyarakat dari
berbagai daerah juga datang untuk menikmati panorama api biru yang menakjubkan.
Di Bondowoso, pada event tertentu selalu dilaksanakan pertunjukan seni
budaya, setiap tahun. Misalnya saja pertunjukan sejarah tentang peristiwa
Gerbong Maut.
Selain itu, salah satu tradisi masyarakat
Bondowoso yang masih kental dilaksanakan adalah tradisi Sontengan. Tradisi
Sontengan merupakan tradisi peletakan sesaji yang diperuntukkan kepada
hal yang gaib dengan melakukan tata cara tertentu. Di beberapa daerah di
Bondowoso, tradisi Sontengan memiliki cara yang sama, namun tujuan
berbeda.
Di pedesaan, orang masih percaya pada
unsur-unsur gaib atau supranatural. Percaya adaya penunggu tempat-tempat yang
disakralkan atau dikeramatkan. Mereka biasa menyebut praksanah, atau sang penunggu di tempat itu. Apapun namanya,
unsur-unsur gaib itu merupakan kekuatan di luar dirinya yang kemudian
melahirkan ritual-ritual ala leluhur masyarakat. Ritual yang secara turun
temurun masih tetap dilaksanakan.
Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan
kajian tradisi Sontengan dari perspektif budaya yang menjadi fenomena
sosial dan kearifan lokal. Telaah tradisi Sontengan ini ditulis
berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku tradisi tersebut sebagai narasumber.
Jadi, sajian tulisan ini sengaja tidak mengupas dari dimensi religiusitas.
Menurut salah satu narasumber, manusia dalam hidup dan kehidupannya selalu
memerlukan unsur kekuatan di luar dirinya, yaitu hal-hal yang gaib. Inilah yang
mendasari lahirnya tradisi Sontengan itu.
Air merupakan sumber kehidupan dan
kebutuhan utama bagi makhluk hidup, terutama bagi warga Desa Tasnan Kecamatan
Grujugan. Oleh karenanya, seluruh masyarakat berkewajiban melakukan tindakan
penyelamatan terhadap sumber mata air di desa tersebut. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah mengadakan tradisi Sontengan, artinya membawa sesaji
berupa tumpeng ke sekitar sumber mata air di desa itu.
Menurut Pak Hom, sesepuh desa tersebut,
tradisi Sontengan dilaksanakan dengan tujuan sebagai wujud rasa syukur
atas limpahan air, hingga desa ini menjadi subur dan tidak pernah kekurangan
air bahkan di musim kemarau. Selain itu untuk keselamatan seluruh warga desa,
dan sebagai penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini sudah berlangsung turun
temurun dan tetap dilestarikan hingga kini.
Sontengan dilaksanakan
pada 10 Suro setiap tahunnya. Pada hari yang ditentukan, warga berjalan berarak
menuju sumber mata air, membawa tumpeng berukuran besar, dengan menu potongan
daging ayam, daging sapi, telur serta menu lainnya. Sebelum nyonteng, sesepuh
desa membacakan doa dan ayat-ayat dari kitab suci Al-Quran. Prosesi Sontengan
diakhiri dengan makan bersama. Di sinilah tercipta rasa persaudaraan dan
kebersamaan antarwarga tanpa melihat perbedaan dan status sosial.
Selain di Desa Tasnan, Sontengan, juga dilaksanakan di Kelurahan Curahdami Kecamatan Curahdami. Prosesi ini dimaksudkan untuk beberapa tujuan, yakni sebagai wujud kesyukuran atas segala yang diterima dari Sang Maha Kuasa, sebagai acara doa dan persembahan sesaji, kepada yang gaib, dan sebagai ikhtiar sebelum melakukan sesuatu.
Menurut Muhammad Djoko, salah
seorang yang ditokohkan dalam hal Sontengan di kelurahan Curahdami ini,
bahwa sebagai orang yang ditokohkan harus bisa menjelaskan kepada masyarakat
agar tidak tersesat. Menurutnya yang
gaib itu banyak makhluk serupa tetapi jika salah memberikan pemahaman pada
masyarakat, bisa-bisa menjadi pemuja setan. Percayakan semuanya kepada Allah
SWT, dan ritual ini hanya melestarikan budaya leluhur, perkara jin dan setan
menikmati sesaji atau Sontengan biarkan saja, kita tidak memujanya, dan
biarkan dia menikmati sajian kita. Jangan sekali kali menganggap ini sebagai
kewajiban, dan hanya sebagai hiburan mistis, demikian yang disampaikan pada
penulis saat mewawancarainya.
Prosesi Sontengan
ini memerlukan bahan yang biasa di persiapkan oleh orang yang nyonteng,
seperti: sere penang, rokok, sek rasol,
tajhin berna lema’, dhe’ kembheng, dhemar kambheng, uang receh, dan jaman dahulu ada ayam
panggangnya. Sere–penang (sirih dan
pinang) ditempatkan di samping tajhin
berna lema’. Se’ rasol/nase’ rasol adalah
nasi punjung yang berbentuk kerucut, di atasnya diberi telur rebus.
Tajhin
berna lema’ (jenang/ bubur beras lima warna) adalah bubur beras putih yang diberi
lima warna: merah perlambang api, hitam tanah, kuning air, hijau angin dan
putih unsur benih ayah dan ibu manusia. Semuanya diberi dengan jumlah yang
seimbang dengan harapan tidak ada yang terlalu dominan pada manusianya,
sehingga hidup dalam keseimbangan. Kalau misalnya terlalu banyak merah (api)
maka orang tersebut menjadi pemarah dan sebagainya.
Dhemar
kambheng adalah lentera kecil yang menggunakan minyak
kelapa sebagai bahan bakarnya, ditempatkan di tengah-tengah tajhin,
harapannya ada unsur penerang pada diri manusia yang melakukan sontengan
tersebut. Dhe’ kembheng adalah bunga
sesaji yang biasa dijual di pasar-pasar, diletakkan pada daun pisang yang
berbentuk segiempat. Pesse (uang
receh) diletakkan dalam dhe’ kembheng. Tujuannya untuk bersedekah tanpa
diketahui dari dan ditujukan kepada siapa uang tersebut.
Biasanya jika ada orang lewat, uang itu
bisa diambil. Hal ini mengajarkan sikap tanpa pamrih dan pilah pilih. Semua
bahan tersebut diletakkan di atas ancak, yaitu
nampan segi empat dari batang daun pisang yang diberi jeruji saling
silang dari bambu di bagian bawahnya. Demikian penjelasan dari bapak Muhammad
Djoko.
Di kelurahan Curahdami, tradisi Sontengan
biasanya dilaksanakan ketika akan menggarap lahan pertanian. Pada saat
menjelang tanam, menjelang menyiangi rumput, pemupukan serta menjelang panen.
Tempat pelaksanaan di dekat aliran air di sawah tersebut. Selain itu, Sontengan
juga dilaksanakan di acara hajatan pernikahan. Bertempat di sumber air atau
sumur yang airnya digunakan untuk keperluan hajatan.
Pada saat Kadhisa (selamatan desa)
yang biasa dilakukan pada bulan tertentu tiap tahunnya, tak lepas peletakan sonteng.
Sontengan ditempatkan di area sumber air yang dipakai oleh masyarakat
desa tersebut.
Mengakhiri
perbincangan dengan Bapak Muhammad Djoko, beliau menitipkan agar tidak menganggap
Sontengan sebagai kewajiban dan ibadah. Sontengan hanya tradisi
sedangkan ibadahnya adalah acara baca doanya saja. Harapannya masyarakat
memahami bahwa Sontengan ini merupakan tradisi yang perlu dilestarikan,
bukan memuja jin dan setan.
Di Desa Kejayan Kecamatan Pujer, tradisi Sontengan selain untuk keselamatan warga, juga mewarnai aktivitas sebelum membangun rumah di kalangan masyarakat desa. Hal ini bertujuan demi keselamatan penghuni rumah.
Pak Halim, salah satu sesepuh desa itu, menuturkan
bahwa tradisi Sontengan yang secara rutin dilaksanakan pada bulan Sora
(bulan Muharram dalam penanggalan hijriah), ditujukan kepada leluhur
penjaga pekarangan. Warga menyebutnya rokat pekarangan, bertujuan untuk keselamatan
diri dan seluruh warga.
Bahan yang disiapkan oleh orang yang
nyonteng hampir sama dengan masyarakat kelurahan Curahdami. Bedanya, pada
sesaji ada tambahan kue leppet dan gellung teleng.
Leppet
terbuat dari beras ketan dicampur kelapa parut, dimasukkan kedalam selongsongan
yang terbuat dari janur. Gellung teleng terbuat dari tepung beras ketan,
kelapa parut dan irisan gula merah. Semua adonan dibungkus daun pisang lalu
dikukus. Semua bahan yang diletakkan di ancak, dibawa ke Surau. Sesepuh desa bersama
warga membaca doa dan ayat-ayat Al-Quran.
Sontengan merupakan
salah satu kekayaan budaya yang memegang peranan penting dalam kemajuan Bondowoso.
Pemerintah daerah dan masyarakat terutama
generasi muda hendaknya menjaga dan melestarikannya agar tidak punah. Berbagai cara
dapat dilakukan generasi muda dalam melestarikan budaya sontengan, di antaranya
mempelajari tradisi ini lalu mempraktikkannya, dan berpartisipasi apabila ada
kegiatan tersebut..
Harapan penulis, pemerintah daerah mengupayakan ada tetua yang bisa dianggap sebagai tokoh Sontengan ini.
Narasumber 1
Nama: Sanidin alias Pak Hom
Usia: 63 tahun
Alamat: Desa Tasnan Kecamatan Grujugan Bondowoso
Narasumber 2
Nama: Muhammad Djoko
Usia: 67 tahun
Alamat: Kelurahan Curahdami Kecamatan Curahdami Bondowoso
Narasumber 3
Nama: Pak Halim
Usia: 65 tahun
Alamat: Desa Kejayan Kecamatan Pujer Bondowoso

Mantap keren ...kearifan lokal
BalasHapusTerima kasih, Pak
HapusKeren.....
BalasHapusTerima kasih Pak..
Hapusmakasih ilmunya
BalasHapusSsma-sama Bu Novi..:)
Hapus