Manusia dan Lingkungan (Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 2)
Siklus Air
Manusia selalu membutuhkan air dalam kehidupan sehari-hari. Kegunaan air antara lain untuk keperluan rumah tangga, pertanian, industri, dan untuk pembangkit listrik. Begitu besarnya kebutuhan manusia akan air. Kita bersyukur, air senantiasa tersedia di bumi. Oleh karena itu, manusia seharusnya senantiasa bersyukur kepada Tuhan pencipta alam.
Mengapa air selalu tersedia di bumi? Air selalu
tersedia di bumi karena air mengalami siklus. Siklus air merupakan sirkulasi (perputaran)
air secara terusmenerus dari bumi ke atmosfer, lalu kembali ke bumi. Siklus air
ini terjadi melalui proses penguapan, pengendapan, dan pengembunan. Perhatikan skema
proses siklus air berikut ini!
| Siklus Air |
Air di laut, sungai, dan danau menguap akibat panas dari sinar matahari. Proses penguapan ini disebut evaporasi. Tumbuhan juga mengeluarkan uap air ke udara. Uap air dari permukaan bumi naik dan berkumpul di udara. Lama-kelamaan, udara tidak dapat lagi menampung uap air (jenuh). Proses ini disebut presipitasi (pengendapan). Ketika suhu udara turun, uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Titik-titik air ini membentuk awan. Proses ini disebut kondensasi (pengembunan).
Titik-titik air di awan selanjutnya akan turun menjadi
hujan. Air hujan akan turun di darat maupun di laut. Air hujan itu akan jatuh
ke tanah atau perairan. Air hujan yang jatuh di tanah akan meresap menjadi air
tanah. Selanjutnya, air tanah akan keluar melalui sumur.
Air tanah juga akan merembes ke danau atau sungai. Air
hujan yang jatuh ke perairan, misalnya sungai atau danau, akan menambah jumlah
air di tempat tersebut. Selanjutnya air sungai akan mengalir ke laut. Namun,
sebagian air di sungai dapat menguap kembali. Air sungai yang menguap membentuk
awan bersama dengan uap dari air laut dan tumbuhan. Proses siklus air pun
terulang lagi.
Dari proses siklus air itu dapat disimpulkan bahwa
sebenarnya jumlah air di bumi secara keseluruhan cenderung tetap. Hanya wujud
dan tempatnya yang berubah.
Sumber: IPA Salingtemas 5 untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Semut dan Beruang
Pada suatu hari, Beri si Beruang melihat ke dalam mata
air. Beri mengeluh, “Sepertinya air di mata air ini semakin sedikit saja. Pasti
bangsa semut terlalu banyak mengambil air!” Beri lalu menundukkan kepala,
melihat ke tanah dengan teliti. Ah, ia melihat seekor semut hitam berjalan
membawa guci mungil di pundak.
“Berhenti, semut!” teriaknya. “Aku tak akan
membiarkanmu mengambil air di sumber airku lagi. Kamu sudah terlalu banyak mengambil
air. Berhenti atau kucakar kau!” ancam Beri Beruang.
Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan teriakan
Beri. Ia merangkak ke bawah beberapa helai daun kering. Ia terus berjalan
menuju sumber mata air. Beri mencakar dan mengendus daun-daun sambil berteriak,
“Tak ada gunanya sembunyi! Aku bisa menemukanmu!”
Semut hitam berteriak dari arah belakang Beri, “Kenapa
kamu pelit sekali? Bayi-bayi semut di lembah semut sangat kehausan. Air di mata
air ini kan masih banyak sekali. Bahkan masih cukup untuk seribu rusa.”
“Dengar kataku!” geram Beri sambil membalik tubuhnya.
“Aku tak akan memberikanmu air lagi. Semua semut dilarang mengambil air di sini
lagi!” Semut Hitam terdiam sebentar. Lalu katanya, “Apa boleh buat, kalau kau sudah
memutuskan begitu! Tapi aku tetap akan mengambil air untuk bayi-bayi semut di
lembah!”
Beri beruang sangat marah. Namun, Semut Hitam sudah
menghilang lagi ke bawah daun-daun kering. Beri mencarinya, tetapi ia tidak
melihat apa-apa di rumput. Akhirnya ia kembali dengan jengkel ke sarangnya di
dekat pohon oak.
Semut-semut yang haus menunggu di lembah semut.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berbaris menuju mata air. Salah
satu semut melihat guci air milik Semut Hitam yang tergeletak di jalan.
“Pasti Semut Hitam mendapat masalah. Lihatlah! Ini
gucinya, tapi dia tidak tampak!” Mereka memungut guci itu dan terus berjalan.
Saat itu seekor kelinci mengintip dari balik semak.
Kelinci itu mengangkat telinganya dan berbisik, “Jangan pergi ke mata air itu.
Pulanglah, kalian dalam bahaya. Beri sedang marah. Ia bilang, air di mata
airnya berkurang. Ia akan mencakar semut-semut yang berani mengambil air dari
mata airnya!”
Akan tetapi semut-semut itu tidak takut. “Mana beruang
itu sekarang?”
tanya
mereka. “Ia sedang di rumahnya beristirahat,” jawab Kelinci. Semut-semut itu
berbaris seperti tali sepatu di rumput. Mereka melihat seekor tupai duduk di
pohon dan bertanya, “Apa kami sedang berjalan tepat ke arah sarang beruang?”
“Ya, ya, ini memang jalan ke arah sarangnya,” jawab
Tupai. “Tapi sebaiknya kalian balik ke rumah. Beri beruang dari tadi berteriak
terus. Katanya, kalua kalian mengambil air dari mata airnya, ia akan mencakar
kalian.”
Akan tetapi semut-semut itu tak mau kembali. Mereka
terus berbaris seperti tali sepatu di tanah. Hari hampir malam ketika mereka
tiba di depan pohon oak tua. Mereka melihat sekeliling, dan menemukan sebuah
retakan di tanah. Mereka masuk ke dalamnya, dan mulai menggali sebuah lubang.
“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menggali?”
tanya Tikus Tanah yang merasa terganggu dari tidurnya. “Kami ingin menangkap
Beri beruang. Kami sedang membuat jebakan untuknya,” kata para semut.
“Bahaya sekali!” seru Tikus Tanah.
“Dia pasti sudah menangkap Semut Hitam saudara kami.
Ia juga berniat mencakar kami, hanya karena kami mengambil air dari mata air!”
kata semutsemut.
“Aku akan menolong kalian menggali di bawah sarangnya.
Aku pernah hampir tertangkap dia dahulu.”
Seharian itu, para semut dan Tikus Tanah menggali lubang
di bawah sarang
Beri.
Mereka terus menggali selama sepuluh hari. Beri beruang sama sekali tidak
curiga.
Suatu malam di hari kesepuluh, Beri beruang kembali ke
sarangnya dengan hati gembira. Ia berhenti di depan rumahnya di pohon oak dan
berkata pada dirinya,
“Aku sudah makan dan minum sampai kenyang.
Satu-satunya yang bikin aku jengkel adalah semut-semut itu. Mereka masih berani
mengambil air dari mata airku! Besok akan aku hancurkan lembah semut itu! Akan
kucakar mereka dengan cakarku seperti ini…”
Beri beruang mulai mencakar ke segala arah. Ia
menghentakkan kakinyake lantai sarangnya dan… BRRUUKK…
Lantai sarangnya jebol. Beri beruang jatuh ke lubang
di bawah sarangnya. Lubang itulah yang telah digali para semut dan Tikus Tanah.
Beri Beruang harus terus tinggal di
lubang itu, kecuali ada penjaga hutan yang menemukannya.
Semut-semut itu akhirnya hidup damai di lembah semut.
Saat itu Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah. Ternyata ia
hanya terpeleset di jalan. Jadi tidak ada yang merusak kebahagiaan mereka
sekarang. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.
(Sumber: bobo.kidnesia.com)
Sumber Belajar:
Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kemendikbud. RI 2017
Penulis: Heny Kusumawati
Penelaah: Widia Pekerti, Daru Wahyuni, Suharji,
Bambang Prihadi, Ana Ratna Wulan, Elindra Yetti, Margono, Liliana Muliastuti,
Nur Wahyu R
Pre-review: Ihal
Penyelia Penerbitan: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
Balitbang, Kemendikbud.
Posting Komentar
Posting Komentar