KENANGAN BERSAMA DIAN PRAMANA PUTRA

Author
Published Agustus 26, 2020
KENANGAN BERSAMA DIAN PRAMANA PUTRA

             

Dian Pramana Putra adalah seorang musisi Jazz Legendaris Indonesia, dialah yang pertama membuat istilah Indonesia Jazz Vokal di album perdananya.

Karier musik musisi kelahiran Medan, 2 April 1961 ini mulai dilihat sejak ia menjadi juara tiga di ajang festival Lomba Cipta Lagu Remaja 1980. Lagu Pengabdian sebagai bukti kalau dirinya adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu.

Selain bernyanyi solo, Dian PP juga tergabung dalam grup musik. Hingga akhir hayatnya, ia masih dengan grup 2D bersama Deddy Dhukun. Sebelumnya, ia pernah membentuk trio K3S (Kelompok 3 Suara) bersama Deddy Dhukun dan Bagoes A Ariyanto.

Pada 1983, Dian PP merilis album pertama solonya bertajuk Indonesia Jazz Vocal. Album berikutnya Intermezzo (1984), Kau Seputih Melati (1986), Biru (1998), 5 Menit Lagi (1988) dan Gadis Cafetaria (1989).

Bakat musiknya mengalir dari ayahnya yang juga seorang pemusik jazz. Di ajang festival Lomba Cipta lagu remaja 1980, sempat meraih juara tiga lewat lagu “Pengabdian”.

Untuk lagu-lagu Dian PP sendiri ada sejumlah hit yang sangat popular dan fenomenal pada era 80-an seperti Masih Ada, Biru dan Dunia Akhirat. Mungkin para millennial saat ini tak mengetahui lagu-lagu tersebut.

Saya mengenal Dian Pramana Putra dari salah satu teman. Saat itu, di tahun 1986 seorang teman memberi kado ulang tahun berupa kaset. Mulanya saya tidak pernah tahu nama penyanyi yang tertulis di kaset itu. Namun setelah saya mendengar suaranya, seketika saya jatuh hati. Terlebih lagi wajah penyanyinya tampan. Sejak saat itu pula saya mulai menyukai musik jazz.

Setiap penyanyi ini mengeluarkan album, saya pasti membeli kasetnya, sampai sekarang masih tersimpan. The Best Dian Pramana Putra adalah salah satu album yang saya sukai. Berisi lagu-lagu terfavorit seperti Kubawa Kau Serta, Kusabar Menanti, Gelisah dan Melati Diatas Bukit.

Kecintaan saya pada musik jazz saat itu, semakin membuat saya mengenal penyanyi-penyanyi jazz lainnya, sebut saja Harvey Malaiholo, January Christy, Vina Panduwinata, Luluk Purwanto, Utha Likumahua, Ermy Kullit, Indra Lesmana, Fariz RM, Trie Utami, Iga Mawarni dan Vonny Sumlang. Hingga sekarang saya tidak pernah bosan mendengar lagu-lagu mereka.

Pada tahun 2016 lalu, untuk ketiga kalinya saya berkesempatan nonton acara Jazz De Ijen yang diselengarakan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bondowoso, bertempat di halaman Hotel  Arabika  Kecamatan Sempol, Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun (2D) hadir sebagai bintang tamu. Penyanyi idola masa remaja saya, dan hingga kini tak bosan mendengar alunan suaranya yang khas.

Jazz De Ijen tahun ketiga itu mengusung tema Republik Kopi yang merupakan jargon anyar Kabupaten Bondowoso. Dihadiri Bupati dan seluruh jajarannya.

Penikmat jazz di Bondowoso bukan mayoritas, namun di kemas lebih kearah pop jazz agar bisa dinikmati semua kalangan. Kesan eksklusif langsung terlihat sesaat setelah memasuki halaman Hotel Arabika. Ini tergambar dari letak dan posisi kursi yang mayoritas disediakan hanya untuk pejabat yang datang bersama keluarga. Sisanya memilih menyaksikan penyanyi di depan panggung dan di belakang para tamu undangan dengan berdiri.

Di sisi kiri panggung terdapat kursi memanjang yang terbuat dari kayu. Kursi ini sedianya digunakan untuk wartawan yang sedang meliput acara, Namun hanya segelintir saja wartawan yang duduk di kursi itu. Sebagian lainnya memilih bergabung bersama penonton yang berdiri di belakang para undangan. Beruntung saya menempati salah kursi itu, sehingga bisa menikmati alunan merdu suara 2D dari dekat.

Dibuka dengan penampilan Dian Pramana Putra dengan lagu Melayang. Lagu yang dipopulerkan oleh January Christy ini mencapai puncak tangga hingga beberapa minggu di awal tahun 1999. Dian PP sukses membius penonton untuk bergoyang mengikuti irama sambil menghentakkan kaki, bertepuk tangan seraya ikut bernyanyi. Suasana semakin menghangat ketika Dian PP dan Deddy Dhukun (2D) tampil membawakan lagu Masih Ada. Benar-benar asyik dan menyenangkan bisa menonton Jazz Ijen malam itu.

Di akhir acara, banyak pengunjung berebut ingin mengabadikan kehadiran 2D ini dengan foto bersama. Saya hanya diberi kesempatan foto bersama Dian PP saja.


  Dua tahun kemudian, tepatnya hari Kamis, 27 Desember 2018, kabar duka menyelimuti jagad musik tanah air. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan leukemia stadium akhir, Dian Pramana Putra menghembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Penikmat musik jazz tanah air sangat kehilangan musisi terbaik Indonesia. Semoga damai di sisi Allah SWT.

.

 

Bondowoso, 25 Agustus 2020.

 

2 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021