KENANGAN BERSAMA DIAN PRAMANA PUTRA
Dian Pramana Putra adalah
seorang musisi Jazz Legendaris Indonesia, dialah yang pertama membuat istilah
Indonesia Jazz Vokal di album perdananya.
Karier musik musisi
kelahiran Medan, 2 April 1961 ini mulai dilihat sejak ia menjadi juara tiga di
ajang festival Lomba Cipta Lagu Remaja 1980. Lagu Pengabdian sebagai bukti
kalau dirinya adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu.
Selain bernyanyi solo, Dian
PP juga tergabung dalam grup musik. Hingga akhir hayatnya, ia masih dengan grup
2D bersama Deddy Dhukun. Sebelumnya, ia pernah membentuk trio K3S (Kelompok 3
Suara) bersama Deddy Dhukun dan Bagoes A Ariyanto.
Pada 1983, Dian PP merilis
album pertama solonya bertajuk Indonesia Jazz Vocal. Album berikutnya Intermezzo
(1984), Kau Seputih Melati (1986), Biru (1998), 5 Menit Lagi (1988) dan Gadis
Cafetaria (1989).
Bakat musiknya mengalir dari
ayahnya yang juga seorang pemusik jazz. Di ajang festival Lomba Cipta lagu
remaja 1980, sempat meraih juara tiga lewat lagu “Pengabdian”.
Untuk lagu-lagu Dian PP
sendiri ada sejumlah hit yang sangat popular dan fenomenal pada era 80-an
seperti Masih Ada, Biru dan Dunia Akhirat. Mungkin para millennial saat ini tak
mengetahui lagu-lagu tersebut.
Saya mengenal Dian Pramana Putra
dari salah satu teman. Saat itu, di tahun 1986 seorang teman memberi kado ulang
tahun berupa kaset. Mulanya saya tidak pernah tahu nama penyanyi yang tertulis
di kaset itu. Namun setelah saya mendengar suaranya, seketika saya jatuh hati.
Terlebih lagi wajah penyanyinya tampan. Sejak saat itu pula saya mulai menyukai
musik jazz.
Setiap penyanyi ini
mengeluarkan album, saya pasti membeli kasetnya, sampai sekarang masih
tersimpan. The Best Dian Pramana Putra adalah salah satu album yang saya sukai.
Berisi lagu-lagu terfavorit seperti Kubawa Kau Serta, Kusabar Menanti, Gelisah
dan Melati Diatas Bukit.
Kecintaan saya pada musik
jazz saat itu, semakin membuat saya mengenal penyanyi-penyanyi jazz lainnya,
sebut saja Harvey Malaiholo, January Christy, Vina Panduwinata, Luluk Purwanto,
Utha Likumahua, Ermy Kullit, Indra Lesmana, Fariz RM, Trie Utami, Iga Mawarni
dan Vonny Sumlang. Hingga sekarang saya tidak pernah bosan mendengar lagu-lagu
mereka.
Pada tahun 2016 lalu, untuk
ketiga kalinya saya berkesempatan nonton acara Jazz De Ijen yang diselengarakan
oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bondowoso, bertempat di
halaman Hotel Arabika Kecamatan Sempol, Dian Pramana Putra dan
Deddy Dhukun (2D) hadir sebagai bintang tamu. Penyanyi idola masa remaja saya,
dan hingga kini tak bosan mendengar alunan suaranya yang khas.
Jazz De Ijen tahun ketiga
itu mengusung tema Republik Kopi yang merupakan jargon anyar Kabupaten
Bondowoso. Dihadiri Bupati dan seluruh jajarannya.
Penikmat jazz di Bondowoso
bukan mayoritas, namun di kemas lebih kearah pop jazz agar bisa dinikmati semua
kalangan. Kesan eksklusif langsung terlihat sesaat setelah memasuki halaman
Hotel Arabika. Ini tergambar dari letak dan posisi kursi yang mayoritas
disediakan hanya untuk pejabat yang datang bersama keluarga. Sisanya memilih
menyaksikan penyanyi di depan panggung dan di belakang para tamu undangan
dengan berdiri.
Di sisi kiri panggung
terdapat kursi memanjang yang terbuat dari kayu. Kursi ini sedianya digunakan
untuk wartawan yang sedang meliput acara, Namun hanya segelintir saja wartawan
yang duduk di kursi itu. Sebagian lainnya memilih bergabung bersama penonton
yang berdiri di belakang para undangan. Beruntung saya menempati salah kursi
itu, sehingga bisa menikmati alunan merdu suara 2D dari dekat.
Dibuka dengan penampilan
Dian Pramana Putra dengan lagu Melayang.
Lagu yang dipopulerkan oleh January Christy ini mencapai puncak tangga hingga
beberapa minggu di awal tahun 1999. Dian PP sukses membius penonton untuk
bergoyang mengikuti irama sambil menghentakkan kaki, bertepuk tangan seraya
ikut bernyanyi. Suasana semakin menghangat ketika Dian PP dan Deddy Dhukun (2D)
tampil membawakan lagu Masih Ada.
Benar-benar asyik dan menyenangkan bisa menonton Jazz Ijen malam itu.
Di akhir acara, banyak
pengunjung berebut ingin mengabadikan kehadiran 2D ini dengan foto bersama.
Saya hanya diberi kesempatan foto bersama Dian PP saja.
Dua tahun kemudian, tepatnya hari Kamis, 27
Desember 2018, kabar duka menyelimuti jagad musik tanah air. Setelah bertahun-tahun
berjuang melawan leukemia stadium akhir, Dian Pramana Putra menghembuskan napas
terakhirnya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Penikmat musik jazz tanah air
sangat kehilangan musisi terbaik Indonesia. Semoga damai di sisi Allah SWT.
.
Bondowoso, 25 Agustus 2020.


Sih....sayang ya tinggal foto kenangan...
BalasHapusHe he ..
Hapus