RERE
Aku sering melihat tapi
belum mengenalnya. Setiap aku datang, dia selalu ada. Hmm, semakin penasaran,
siapakah dia?.
Suatu hari dia datang lagi. Gerak
geriknya membuat aku tertawa dalam hati. Diam-diam kuamati dari jauh. Wajahnya
selalu ceria seperti tidak ada beban hidup
“Re, rere!” salah satu teman
memanggilnya.
“Oh, namanya Rere, to,”
batinku.
Kulihat akun facebook-nya, tertulis Rere Sitohang.
Wah, pasti orang Batak atau keturunan Batak, lalu bertemu jodohnya di
Bondowoso. Tapi wajahnya kok tidak tampak kalau dia orang Batak, ya?
Hari berganti hari minggu
berganti minggu, sampai akhirnya kami dipertemukan (lagi) di sebuah Pelatihan
Kurikulum 2013 bertempat di Aula Kemenag. Dia duduk persis dibelakangku.
Diam-diam kudengar obrolannya. Hmm, suka ngocol
juga anak ini. Sampai akhir acara, dia belum juga menyapaku. Mungkin karena aku
terlalu diam, pikirnya aku ini sombong (atau jaim?; ngakak).
Hari kedua pelatihan, kami
mulai saling tegur sapa. Disinilah keakraban terjalin, hingga akhirnya aku di invite ke whatsapp grup Kotempah.
Sampai hari ini aku tidak tahu arti Kotempah.
Meskipun dijelaskan aku tidak akan pernah mengerti. Ah, sudahlah, abaikan saja.
Di saat jam istirahat, iseng
kulihat daftar hadir yang tergeletak di meja luar aula. Kubaca satu persatu
nama peserta, tidak ada nama Rere Sitohang. Kuulang lagi, mungkin saja
terlewat, namun tetap tak kutemukan nama itu. Ingin bertanya tapi aku malu, he
he.
Sampai hari terakhir
pelatihan, aku belum tahu nama aslinya. Kami pun semakin akrab bersama
teman-teman di grup Kotempah. Di hari
terakhir itu, kuajak Rere bersama beberapa teman mengunjungi obyek wisata, tuk
hilangkan penat setelah satu minggu pelatihan. Jiwa petualangku terpanggil. Ku
ajak mereka ke Batu So’on di Solor. Sebuah tempat yang telah lama ingin kukunjungi.
Setelah 3 jam perjalanan,
kami sampai di Batu So’on. Berada di tempat itu, bisa menenangkan diri sejenak
dari berbagai masalah di sela-sela aktivitas yang melelahkan. Kulihat Rere
asyik memotret menggunakan gawainya. Suka fotografi rupanya, sama seperti
aku. Biasanya orang yang suka fotografi,
suka menulis juga. Itu pendapatku.
Semakin hari teman satu ini
semakin membuat aku penasaran. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku
harus cari tahu. Tiga bulan lalu adalah jawaban dari semua rasa penasaranku.
Saat itu kukirim pesan whatsapp, kami
terlibat obrolan yang tidak jelas temanya. Lama-lama dia terpancing oleh
tanyaku tentang menulis, dan tiba-tiba dia tunjukkan lembaran-lembaran kertas
yang telah kusam satu bendel berisi puisi. Ada kurang lebih 40 judul puisi,
semua ditulis puluhan tahun silam. Ternyata benar dugaanku, dan saat itulah aku
baru tahu namanya Kurnia Fitriadi, tertulis di bawah judul puisinya.
Suatu hari kutantang dia
menulis 40 judul puisi lagi, karena sayang sekali jika bakat menulisnya tidak
dikembangkan.Tak disangka dia terima tantanganku dan salah satu puisinya
berjudul Diana. Aku terharu
membacanya. Dia tulis puisi itu untukku, dan beberapa hari lalu aku ditantang
menulis puisi tentangnya. Wah, aku tidak pandai menulis puisi. Kuakui, aku
masih jauh dibanding dia yang diksinya sangat keren. Tapi sebagai gantinya,
kubuat tulisan ini untuk penuhi tantangannya. Lunaslah hutangku.
Rere, sudah kupenuhi
janjiku. Semoga kamu semakin semangat menulis. Aku yakin, satu dua buku akan
terbit dari jemarimu yang tak pernah lelah menari-nari diatas keyboard. Salam Literasi!
Bondowoso, 14 Agustus 2020.

😪keren uti....aku jadi terharu
BalasHapusWaaahhhhh, menantag sya jga ke saya tuk menulis...essssippp
BalasHapusWaduh kotempah🤣🤣🤣 saya pikir perempuan Rere itu bund, ternyata laki2 toh, salam literasi pak Rere
BalasHapusRasa penasaran yg jd ide tulisan...mantab, keren, salam litersi pula
BalasHapus