RERE

Author
Published Agustus 14, 2020
RERE


Aku sering melihat tapi belum mengenalnya. Setiap aku datang, dia selalu ada. Hmm, semakin penasaran, siapakah dia?.

Suatu hari dia datang lagi. Gerak geriknya membuat aku tertawa dalam hati. Diam-diam kuamati dari jauh. Wajahnya selalu ceria seperti tidak ada beban hidup

“Re, rere!” salah satu teman memanggilnya.

“Oh, namanya Rere, to,” batinku.

Kulihat akun facebook-nya, tertulis Rere Sitohang. Wah, pasti orang Batak atau keturunan Batak, lalu bertemu jodohnya di Bondowoso. Tapi wajahnya kok tidak tampak kalau dia orang Batak, ya?

Hari berganti hari minggu berganti minggu, sampai akhirnya kami dipertemukan (lagi) di sebuah Pelatihan Kurikulum 2013 bertempat di Aula Kemenag. Dia duduk persis dibelakangku. Diam-diam kudengar obrolannya. Hmm, suka ngocol juga anak ini. Sampai akhir acara, dia belum juga menyapaku. Mungkin karena aku terlalu diam, pikirnya aku ini sombong (atau jaim?; ngakak).

Hari kedua pelatihan, kami mulai saling tegur sapa. Disinilah keakraban terjalin, hingga akhirnya aku di invite ke whatsapp grup Kotempah. Sampai hari ini aku tidak tahu arti Kotempah. Meskipun dijelaskan aku tidak akan pernah mengerti. Ah, sudahlah, abaikan saja.

Di saat jam istirahat, iseng kulihat daftar hadir yang tergeletak di meja luar aula. Kubaca satu persatu nama peserta, tidak ada nama Rere Sitohang. Kuulang lagi, mungkin saja terlewat, namun tetap tak kutemukan nama itu. Ingin bertanya tapi aku malu, he he.

Sampai hari terakhir pelatihan, aku belum tahu nama aslinya. Kami pun semakin akrab bersama teman-teman di grup Kotempah. Di hari terakhir itu, kuajak Rere bersama beberapa teman mengunjungi obyek wisata, tuk hilangkan penat setelah satu minggu pelatihan. Jiwa petualangku terpanggil. Ku ajak mereka ke Batu So’on di Solor. Sebuah tempat yang telah lama ingin kukunjungi.

Setelah 3 jam perjalanan, kami sampai di Batu So’on. Berada di tempat itu, bisa menenangkan diri sejenak dari berbagai masalah di sela-sela aktivitas yang melelahkan. Kulihat Rere asyik memotret menggunakan gawainya. Suka fotografi rupanya, sama seperti aku.  Biasanya orang yang suka fotografi, suka menulis juga. Itu pendapatku.

Semakin hari teman satu ini semakin membuat aku penasaran. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku harus cari tahu. Tiga bulan lalu adalah jawaban dari semua rasa penasaranku. Saat itu kukirim pesan whatsapp, kami terlibat obrolan yang tidak jelas temanya. Lama-lama dia terpancing oleh tanyaku tentang menulis, dan tiba-tiba dia tunjukkan lembaran-lembaran kertas yang telah kusam satu bendel berisi puisi. Ada kurang lebih 40 judul puisi, semua ditulis puluhan tahun silam. Ternyata benar dugaanku, dan saat itulah aku baru tahu namanya Kurnia Fitriadi, tertulis di bawah judul puisinya.

Suatu hari kutantang dia menulis 40 judul puisi lagi, karena sayang sekali jika bakat menulisnya tidak dikembangkan.Tak disangka dia terima tantanganku dan salah satu puisinya berjudul Diana. Aku terharu membacanya. Dia tulis puisi itu untukku, dan beberapa hari lalu aku ditantang menulis puisi tentangnya. Wah, aku tidak pandai menulis puisi. Kuakui, aku masih jauh dibanding dia yang diksinya sangat keren. Tapi sebagai gantinya, kubuat tulisan ini untuk penuhi tantangannya. Lunaslah hutangku.

Rere, sudah kupenuhi janjiku. Semoga kamu semakin semangat menulis. Aku yakin, satu dua buku akan terbit dari jemarimu yang tak pernah lelah menari-nari diatas keyboard. Salam Literasi!

 

Bondowoso, 14 Agustus 2020. 

 

4 komentar

  1. 😪keren uti....aku jadi terharu

    BalasHapus
  2. Waaahhhhh, menantag sya jga ke saya tuk menulis...essssippp

    BalasHapus
  3. Waduh kotempah🤣🤣🤣 saya pikir perempuan Rere itu bund, ternyata laki2 toh, salam literasi pak Rere

    BalasHapus
  4. Rasa penasaran yg jd ide tulisan...mantab, keren, salam litersi pula

    BalasHapus

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021