Melukis, Intuisiku
![]() |
| Dokumen pribadi |
Setiap orang pasti memiliki kegemaran yang beragam. Kegemaran atau hobi itu menjadi istimewa manakala seseorang memiliki perhatian dan waktu khusus untuk menyalurkan hobinya itu. Bahkan rela mengeluarkan budget yang tidak sedikit, tujuannya pun beragam, misal untuk mengisi waktu senggang, menghibur diri, melepas penat setelah seharian bekerja maupun menghilangkan stres.
Saat ditanya tentang hobi, seseorang tidak
akan menjawab hanya satu kegemaran saja, bisa bermacam-macam, misal travelling,
shopping, melukis, bersepeda, badminton, jelajah kuliner, memancing, merawat
bunga, beternak dan lain-lain. Di antara sekian kegemaran yang dimiliki, pasti
ada satu yang teristimewa. Sama halnya denganku, badminton, bersepeda,
travelling, menggambar dan nonton bola adalah kegemaranku. Namun satu yang
paling aku suka hingga kini, yaitu menggambar. Aku lebih suka memakai istilah
menggambar daripada melukis, sebab kegemaranku ini otodidak, hanya sekedarnya
saja dan tidak ada teknik khusus dalam menggambar, bahkan aku tidak tahu
termasuk genre apa.
Bermula dari kebiasaan melihat ilustrasi
cerpen di sebuat majalah remaja, hampir setiapkali majalah itu terbit, yang pertama
kulihat adalah ilustrasinya. Semakin lama aku tertarik dan ingin mencoba menggambar
sama persis dengan di majalah itu. Media yang kugunakan yaitu pensil, buku
gambar dan cat air-belakangan aku tahu bahwa teknik yang kugunakan itu termasuk
teknik basah. Ternyata menggambar itu tidak mudah, butuh kesabaran ekstra, harus
telaten dan terpenting ada mood.
Seseorang yang hobi menggambar, harus
memiliki kesabaran tingkat tinggi agar gambar yang dihasilkan sesuai dengan
harapan dan memiliki karakter. Telaten dapat diartikan teliti, dalam menggambar
dibutuhkan ketelitian terhadap setiap detail objek yang akan digambar, misalnya
menggambar wajah. Harus benar-benar diteliti setiap lekuk-lekuk wajah, mulai
dari mata, hidung, bibir, dagu dan sebagainya. Mood atau suasana hati juga
sangat berpengaruh terhadap hasil yang digambar. Jika suasana hati sedang tidak
nyaman, sebaiknya tidak dipaksakan menggambar, karena gambar tidak akan pernah selesai
dan akhirnya tergeletak begitu saja. Ini yang sering aku alami.
Kini aku lebih suka menggambar wajah menggunakan
pensil B, 2B, 5B, 7B dan pensil warna, karena lebih simple dan irit
daripada menggunakan cat air. Dalam sehari biasanya aku menghasilkan satu
gambar saja, itupun jika mood. Beberapa anggota keluarga pernah kugambar,
termasuk menggambar wajahku. Dari melihat gambar-gambar yang aku share
di status whatsapp, seorang sahabat meminta tolong untuk membuat
ilustrasi dalam buku cerita anak miliknya. Semula aku ragu, sebab menggambar
ini sekadar hobi, dan mengisi waktu luang. Jika menggambar akan dijadikan
ilustrasi sebuah buku, haruslah seorang illustrator yang benar-benar andal dan
memiliki jam terbang tinggi. Sedangkan aku hanya menghasilkan beberapa gambar
saja, itu pun hanya untuk kalangan terbatas.
Namun aku mencoba menerima tawaran itu, dengan
catatan jika gambarku tidak sesuai dengan ekspektasinya, maka tidak dimuat
dalam bukunya. Membutuhkan waktu seminggu untuk menyelesaikan 13 gambar sesuai
contoh yang disodorkan padaku. Di sinilah kesabaranku kembali di uji, beberapa
gambar gagal kubuat, sebab konsentrasiku terfokus pada beberapa naskah antologi
yang deadlinenya hampir bersamaan. Hingga aku butuh waktu 2 hari untuk
istirahat, tidak menggambar. Inilah pentingnya mood dalam menggambar.
Melihat hasil gambarku, semula aku pesimis,
khawatir mengecewakan. Namun, diluar dugaan, sahabatku cocok dengan gambarku,
dan terpampang di buku novel anak berjudul “Dio Si Penggalang”. Terima kasih
atas kepercayaan ini.
Tidak berhenti di situ, beberapa gambarku digunakan
sebagai objek tantangan menulis kepada anggota di sebuah komunitas menulis yang
kuikuti. Ketua komunitas itu memberikan tantangannya berupa menulis puisi tema
sesuai gambar yang kubuat. Total ada 8 tema dan diikuti 27 penulis di komunitas
itu. Dari kegiatan tersebut dihasilkan sebuah karya antologi.
Salah satu dari 8 tema itu, tema Hari Ibu sangat membuatku terkesan, sebab aku menggambar wajah almarhum Ibuku. Beliau adalah motivasiku dalam mengarungi liku-liku hidup.
Beberapa lukisan lainnya bisa dilihat DI SINI
.
.jpg)
Sip...tp di sininya kok punya saya minta akses ke goegle dokumen ya...
BalasHapusMungkin masuknya tdk dr akun googlenya
HapusMasih harus belajar terus menerus..
HapusMantap
BalasHapusTerima kasih pak
HapusBu Diana multi talenta, keren sangat
BalasHapusMasih belajar Bu,,he he
Hapuspunya banyak hobi ternyata
BalasHapusTerima kasih Bu..
Hapus