Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu

Author
Published Juli 01, 2022
Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu

 

Foto koleksi pribadi

Sebuah mobil Creta merah berhenti tepat di depan panti asuhan. Seorang wanita turun dari pintu belakang. Blazer dan celana hitam dengan turtleneck maroon, kerudung segi empat motif bunga serta sepatu hitam ber-hak lima sentimeter, membuat wanita itu terlihat anggun dan sederhana. Perlahan ia memasuki halaman panti. Deretan pohon pucuk merah dan hamparan rumput gajah mini di tanah yang tidak begitu luas itu, membuat suasana pekarangan panti tampak asri dan teduh. Sambil berjalan, sesekali ia melihat ponselnya, dan memasukkan kembali ke dalam tas hitam berbentuk kotak.

Ia berdiri di depan pintu masuk yang masih tertutup, dan mengetuknya. Tak berapa lama, seorang lelaki paruh baya berkaca mata membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Beberapa saat kemudian, wanita berparas cantik itu keluar dari gedung panti dengan wajah muram. Tampak ia mengambil ponsel dari dalam tas dan menelepon seseorang sambil berjalan cepat menuju mobil.

Padatnya kendaraan di jalanan membuat mobil yang ia tumpangi tak bisa melaju cepat. Wajah muram dan gelisah masih menyelimutinya. Ia ingin cepat sampai di alamat rumah yang diberi pengasuh panti tadi. Dibukanya ponsel yang sejak tadi hanya dipegang. Lalu berselancar ke Instagram, Twitter, Facebook, dan WhatsApp, berharap menemukan sesuatu yang dapat mengurangi rasa gelisahnya. Namun, nyatanya ia tak menemukan apa-apa.

Memasuki kawasan sebuah perumahan, mobil itu bergerak perlahan, lalu berhenti di depan rumah bercat warna krem, dan berpagar besi yang ditumbuhi tanaman teh-tehan. Wanita itu turun dan berjalan menuju pintu pagar yang terdapat tulisan dijual. Sejenak diarahkannya pandangan ke seluruh sisi halaman rumah. Tampak beberapa tanaman tak terawat. Pohon bambu kuning di pojok halaman, bunga asoka, dua pohon cemara kipas, dan sebuah pohon palem ekor tupai, mulai mengering daunnya di beberapa bagian, hingga jatuh berserakan di rumput babat yang mulai meninggi. Di dalam rumah tampak tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah itu kosong, tak berpenghuni.

Dengan wajah yang menyiratkan rasa kecewa, ia kembali ke mobil, duduk persis di belakang sopir, dan menyandarkan kepala ke kaca mobil, pandangannya kosong. Sesekali ia menarik napas panjang, lalu sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali menelepon, menulis pesan, dan menelepon lagi. Kesedihan yang sangat mendalam tampak di wajahnya. Alunan suara berat January Christy dari audio mobil tak banyak membantu. Bahkan hatinya semakin bergolak, memorinya kembali ke masa puluhan tahun silam.

                                           ***

    Mirna masih sibuk memilah-milah barang-barang rongsokan di tempat pembuangan akhir yang tak jauh dari rumahnya. Tangannya sangat lincah memungut sampah plastik yang ditumpahkan ekskavator dengan capit, dan dimasukkan ke keranjang yang ia pikul di punggungnya. Ia gunakan caping untuk berlindung dari teriknya matahari. Aroma menyengat dari sampah menjadi santapan sehari-harinya. Sering kali ia harus berebut dengan pemulung lainnya, demi mendapatkan sampah plastik yang dalam keadaan baik dan laku dijual. Setiap hari Mirna harus bergelut dengan sampah, demi mendapatkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bakal bayi yang dikandungnya.

        Penyakit kanker hati yang telah merenggut nyawa Santo, suaminya,dua bulan lalu, memaksa Mirna melanjutkan pekerjaan suaminya sebagai pemulung. Ijazah SMP-nya tak banyak membantu untuk mencari pekerjaan selain pemulung, yang tak butuh banyak keahlian. Mirna tak pernah mengeluh menjalani pekerjaan itu. Ia memilih menikmatinya daripada harus meratapi nasib.

 Setiap pagi selepas subuh, Mirna meninggalkan rumah yang kecil berdinding bambu, berlantai semen dan tak banyak perabot. Di ruang tamu hanya ada tikar plastik dan foto pernikahan mereka. Ia tinggal sendiri di situ. Gaji yang ia terima dari hasil menjual sampah plastik, lumayan membantu menopang hidupnya. Bahkan ia masih sempat menabung untuk biaya persalinannya nanti.

Siang itu Mirna pulang tidak seperti biasanya, keranjang yang dibawanya belum penuh. Ia mulai merasakan nyeri di punggung bagian bawah. Beberapa hari belakangan Mirna merasakan sulit tidur nyenyak di malam hari, dan mudah capek. Setelah meletakkan keranjang dan mengambil tas berisi keperluan bayi, dengan mengenakan daster batik pemberian almarhum suaminya, Mirna berjalan menuju rumah seorang bidan di dekat rumahnya. Teriknya matahari tak ia hiraukan, jalannya tertatih-tatih sambil memegang perut yang makin sakit. Tak terasa air mata tumpah, teringat almarhum suaminya. Ia harus menerima kenyataan hanya beberapa bulan menikmati kebahagiaan hidup bersama lelaki yang dicintainya.

Satu jam berada di ruang persalinan membuat jantung Mirna berdebar kencang menunggu kelahiran anak pertamanya. Ia makin tidak kuat menahan sakit hingga hampir saja menyerah, andai wajah almarhum suaminya tak membayanginya. Sesaat kemudian, terdengar suara tangisan yang menenangkan hatinya. Tangisan buah cintanya bersama Santo. Hidung, mata dan bibir bayi laki-laki itu, tak jauh beda dengan ayahnya.

                                      ***

Rani, wanita muda berusia dua puluh lima tahun, tampak membuka laci meja kerjanya satu per satu, mengeluarkan map-map yang ada di dalam laci. Dibukanya lembar demi lembar isi map. Ia mengernyitkan dahi, tak menemukan lembar yang dicarinya. Lalu beralih ke lemari besi sliding di samping meja kerjanya. Sebuah map merah yang ia cari berada di antara tumpukan dokumen perusahaan. Bergegas Rani masuk ke ruang direktur, dan duduk di kursi depan meja yang terdapat papan nama bertuliskan Mirnawati.

Ruangan ber-AC ukuran 5x5 meter itu sederhana, tetapi terkesan mewah. Satu set kursi tamu sofa terletak di pojok ruangan, lengkap dengan bantal kursinya. Di dinding tampak sebuah lukisan beberapa wanita berada di hamparan sampah, menggunakan caping dan memikul keranjang di punggung. Di bawah lukisan itu tertulis Pemulung.

Mirna tak akan pernah lupa profesi yang ia tekuni puluhan tahun silam. Berkat kesabaran dan keuletannya, ia kini memiliki perusahaan sendiri sebagai pengepul barang bekas.

“Ini profilnya, Bu,” ujar Rani sambil menyerahkan map merah.

Mirna membuka map dan membaca nama di kertas itu, Aditya Wisnu Wardana, 20 tahun. Nama ayah, (Alm) Indra Wisnu Wardana, Nama ibu, (Al.) Alina.

“Terima kasih, Ran.”

Sesaat kemudian Rani_si sekretaris_keluar dari ruangan Mirna. Sementara Mirna masih memandangi foto Aditya. Tanda lahir di dahi, dan tahi lalat di ujung bibir, meyakininya tentang anaknya yang dititipkan ke panti asuhan sesaat setelah lahir, dua puluh tahun lalu. Ia belum sempat memberinya nama, bahkan menyusui dan menggendongnya. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan Mirna menitipkan anaknya ke panti. Ia tak ingin anaknya turut merasakan kerasnya kehidupan. Janji Mirna, kelak jika telah menjadi orang sukses, akan menjemput anaknya lagi.

Namun, keinginan itu kandas setelah Mirna mendatangi panti yang sudah berganti pemilik. Menurut informasi yang ia terima dari pengelola panti, anaknya telah diadopsi oleh pasangan suami istri ketika berusia dua bulan. Mirna pun mencari rumah pengadopsi, tapi terlambat, rumahnya telah dijual. Sejak saat itu, Mirna tak henti-henti mencari keberadaan anaknya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, rindu ingin bertemu tak terbendung lagi.

Dari balik tirai ruang kerjanya, Mirna diam-diam memperhatikan Aditya yang sibuk dengan tumpukan map di meja kerjanya. Wajah, cara ia berjalan, dan berbicara sangat mirip ayahnya. Setiap hari hanya itu yang ia lakukan, memandangi Aditya dari jauh. Untuk menebus kesalahannya, Mirna memenuhi semua kebutuhan Aditya selama bekerja di perusahaannya. Ia tak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya itu. Ia masih harus bersabar menunggu saat yang tepat untuk bisa memeluknya.

Mirna masih asyik memandangi foto Aditya di layar komputernya, tetiba ia tersentak saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Bergegas dimatikannya layar komputer. Dengan membawa beberapa map, Aditya masuk dan mendekati meja kerja direkturnya.

“Ini laporan yang Ibu minta,” ujar Aditya sambil menyodorkan map.

Mirna mengambil satu map, lalu membuka lembar demi lembar tanpa sedetik pun melihat wajah Aditya. Hatinya bergejolak, ingin sekali memeluk pemuda di hadapannya, menumpahkan rindu yang sekian lama terpendam. Mirna sama sekali tidak fokus dengan angka-angka di lembaran itu. Ia berusaha agar air matanya tidak tumpah. Sesaat kemudian, Mirna beranjak dari tempat ia duduk, berjalan menuju meja kecil, membelakangi Aditya. Diambilnya satu cangkir dan menyeduh teh yang sudah bercampur dengan gula.

“Ibu …”

Mirna mencari sumber suara yang parau dan nyaris tak terdengar. Mirna membalikkan tubuh, Aditya telah berdiri tiga langkah darinya,

“Bu Mirna, ibu kandung saya,” ujar Aditya sambil memegang setangkai mawar merah, yang ia sembunyikan di balik punggungnya sejak masuk ruangan itu.

“Bagaimana kamu tahu aku ibu kandungmu?”

“Seratus hari setelah kedua orang tua saya meninggal, saya menemukan surat adopsi di laci lemari ibu angkat saya. Di situ tertulis Ayah Santo Hadiningrat dan Ibu Mirnawati.”

Mirna mematung mendengar cerita Aditya. Ia belum mampu berkata-kata. Perasaannya tak menentu. Matanya masih menatap pemuda di depannya. Satu butiran bening tampak di kedua sudut mata Aditya.

“Adit rindu ibu,” ujar Aditya hampir terisak. Kakinya terasa berat untuk melangkah, hampir saja ia tak mampu berdiri, andai Mirna tak segera memeluknya.

Tangis ibu dan anak itu tumpah. Tak mampu lagi menahan air mata yang kian deras. Pelukan keduanya begitu erat, hingga setangkai mawar merah jatuh dari tangan Aditya. Menyadari hal itu, Mirna lalu merenggangkan pelukan dan mengambil bunga yang tergeletak di lantai. Enam bulan mereka saling memendam rindu, bersandiwara di balik ruang kerja perusahaan.

Setangkai mawar merah pemberian Aditya, Mirna masukkan ke vas bunga violet di meja kerjanya. Rasa lelah mencari anak semata wayangnya berbuah manis. Setangkai mawar merah itu akan ia rawat dan tak akan melepasnya lagi, selamanya. (*.*)

                                       SELESAI

#Cerpen ini menempati peringkat 4 nubar cerpen yang diadakan oleh penerbit PuSaKa Publishing Bali dengan tema Hari Ibu. Judul buku: Warna Kasih Bunda. Terbit: Januari 2022.


Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021