Setangkai Mawar Merah Untuk Ibu
![]() |
| Foto koleksi pribadi |
Sebuah mobil Creta merah berhenti tepat di depan
panti asuhan. Seorang wanita turun dari pintu belakang. Blazer dan celana hitam
dengan turtleneck maroon, kerudung segi empat motif bunga serta sepatu hitam
ber-hak lima sentimeter, membuat wanita itu terlihat anggun dan sederhana.
Perlahan ia memasuki halaman panti. Deretan pohon pucuk merah dan hamparan
rumput gajah mini di tanah yang tidak begitu luas itu, membuat suasana
pekarangan panti tampak asri dan teduh. Sambil berjalan, sesekali ia melihat
ponselnya, dan memasukkan kembali ke dalam tas hitam berbentuk kotak.
Ia berdiri di depan pintu masuk yang masih
tertutup, dan mengetuknya. Tak berapa lama, seorang lelaki paruh baya berkaca
mata membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Beberapa saat kemudian,
wanita berparas cantik itu keluar dari gedung panti dengan wajah muram. Tampak
ia mengambil ponsel dari dalam tas dan menelepon seseorang sambil berjalan
cepat menuju mobil.
Padatnya kendaraan di jalanan membuat mobil yang ia
tumpangi tak bisa melaju cepat. Wajah muram dan gelisah masih menyelimutinya.
Ia ingin cepat sampai di alamat rumah yang diberi pengasuh panti tadi.
Dibukanya ponsel yang sejak tadi hanya dipegang. Lalu berselancar ke Instagram,
Twitter, Facebook, dan WhatsApp, berharap menemukan sesuatu yang dapat
mengurangi rasa gelisahnya. Namun, nyatanya ia tak menemukan apa-apa.
Memasuki kawasan sebuah perumahan, mobil itu
bergerak perlahan, lalu berhenti di depan rumah bercat warna krem, dan berpagar
besi yang ditumbuhi tanaman teh-tehan. Wanita itu turun dan berjalan menuju
pintu pagar yang terdapat tulisan dijual. Sejenak diarahkannya pandangan ke
seluruh sisi halaman rumah. Tampak beberapa tanaman tak terawat. Pohon bambu
kuning di pojok halaman, bunga asoka, dua pohon cemara kipas, dan sebuah pohon
palem ekor tupai, mulai mengering daunnya di beberapa bagian, hingga jatuh
berserakan di rumput babat yang mulai meninggi. Di dalam rumah tampak tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Rumah itu kosong, tak berpenghuni.
Dengan wajah yang menyiratkan rasa kecewa, ia
kembali ke mobil, duduk persis di belakang sopir, dan menyandarkan kepala ke
kaca mobil, pandangannya kosong. Sesekali ia menarik napas panjang, lalu sibuk
dengan ponselnya. Beberapa kali menelepon, menulis pesan, dan menelepon lagi.
Kesedihan yang sangat mendalam tampak di wajahnya. Alunan suara berat January
Christy dari audio mobil tak banyak membantu. Bahkan hatinya semakin bergolak,
memorinya kembali ke masa puluhan tahun silam.
***
Mirna masih sibuk memilah-milah barang-barang rongsokan di tempat pembuangan akhir yang tak jauh dari rumahnya. Tangannya sangat lincah memungut sampah plastik yang ditumpahkan ekskavator dengan capit, dan dimasukkan ke keranjang yang ia pikul di punggungnya. Ia gunakan caping untuk berlindung dari teriknya matahari. Aroma menyengat dari sampah menjadi santapan sehari-harinya. Sering kali ia harus berebut dengan pemulung lainnya, demi mendapatkan sampah plastik yang dalam keadaan baik dan laku dijual. Setiap hari Mirna harus bergelut dengan sampah, demi mendapatkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bakal bayi yang dikandungnya.
Penyakit kanker hati yang telah merenggut nyawa Santo, suaminya,dua bulan lalu, memaksa Mirna melanjutkan pekerjaan suaminya sebagai pemulung. Ijazah SMP-nya tak banyak membantu untuk mencari pekerjaan selain pemulung, yang tak butuh banyak keahlian. Mirna tak pernah mengeluh menjalani pekerjaan itu. Ia memilih menikmatinya daripada harus meratapi nasib.
Setiap pagi selepas subuh, Mirna meninggalkan
rumah yang kecil berdinding bambu, berlantai semen dan tak banyak perabot. Di
ruang tamu hanya ada tikar plastik dan foto pernikahan mereka. Ia tinggal
sendiri di situ. Gaji yang ia terima dari hasil menjual sampah plastik, lumayan
membantu menopang hidupnya. Bahkan ia masih sempat menabung untuk biaya
persalinannya nanti.
Siang
itu Mirna pulang tidak seperti biasanya, keranjang yang dibawanya belum penuh.
Ia mulai merasakan nyeri di punggung bagian bawah. Beberapa hari belakangan
Mirna merasakan sulit tidur nyenyak di malam hari, dan mudah capek. Setelah
meletakkan keranjang dan mengambil tas berisi keperluan bayi, dengan mengenakan
daster batik pemberian almarhum suaminya, Mirna berjalan menuju rumah seorang
bidan di dekat rumahnya. Teriknya matahari tak ia hiraukan, jalannya
tertatih-tatih sambil memegang perut yang makin sakit. Tak terasa air mata
tumpah, teringat almarhum suaminya. Ia harus menerima kenyataan hanya beberapa
bulan menikmati kebahagiaan hidup bersama lelaki yang dicintainya.
Satu
jam berada di ruang persalinan membuat jantung Mirna berdebar kencang menunggu
kelahiran anak pertamanya. Ia makin tidak kuat menahan sakit hingga hampir saja
menyerah, andai wajah almarhum suaminya tak membayanginya. Sesaat kemudian,
terdengar suara tangisan yang menenangkan hatinya. Tangisan buah cintanya
bersama Santo. Hidung, mata dan bibir bayi laki-laki itu, tak jauh beda dengan
ayahnya.
***
Rani, wanita muda berusia dua puluh lima tahun,
tampak membuka laci meja kerjanya satu per satu, mengeluarkan map-map yang ada
di dalam laci. Dibukanya lembar demi lembar isi map. Ia mengernyitkan dahi, tak
menemukan lembar yang dicarinya. Lalu beralih ke lemari besi sliding di samping
meja kerjanya. Sebuah map merah yang ia cari berada di antara tumpukan dokumen
perusahaan. Bergegas Rani masuk ke ruang direktur, dan duduk di kursi depan
meja yang terdapat papan nama bertuliskan Mirnawati.
Ruangan ber-AC ukuran 5x5 meter itu sederhana, tetapi
terkesan mewah. Satu set kursi tamu sofa terletak di pojok ruangan, lengkap
dengan bantal kursinya. Di dinding tampak sebuah lukisan beberapa wanita berada
di hamparan sampah, menggunakan caping dan memikul keranjang di punggung. Di
bawah lukisan itu tertulis Pemulung.
Mirna tak akan pernah lupa profesi yang ia tekuni
puluhan tahun silam. Berkat kesabaran dan keuletannya, ia kini memiliki
perusahaan sendiri sebagai pengepul barang bekas.
“Ini profilnya, Bu,” ujar Rani sambil menyerahkan
map merah.
Mirna membuka map dan membaca nama di kertas itu,
Aditya Wisnu Wardana, 20 tahun. Nama ayah, (Alm) Indra Wisnu Wardana, Nama ibu,
(Al.) Alina.
“Terima kasih, Ran.”
Sesaat kemudian Rani_si sekretaris_keluar dari
ruangan Mirna. Sementara Mirna masih memandangi foto Aditya. Tanda lahir di
dahi, dan tahi lalat di ujung bibir, meyakininya tentang anaknya yang
dititipkan ke panti asuhan sesaat setelah lahir, dua puluh tahun lalu. Ia belum
sempat memberinya nama, bahkan menyusui dan menggendongnya. Keterbatasan
ekonomi menjadi alasan Mirna menitipkan anaknya ke panti. Ia tak ingin anaknya turut
merasakan kerasnya kehidupan. Janji Mirna, kelak jika telah menjadi orang
sukses, akan menjemput anaknya lagi.
Namun, keinginan itu kandas setelah Mirna
mendatangi panti yang sudah berganti pemilik. Menurut informasi yang ia terima
dari pengelola panti, anaknya telah diadopsi oleh pasangan suami istri ketika
berusia dua bulan. Mirna pun mencari rumah pengadopsi, tapi terlambat, rumahnya
telah dijual. Sejak saat itu, Mirna tak henti-henti mencari keberadaan anaknya.
Rasa bersalah menyelimuti hatinya, rindu ingin bertemu tak terbendung lagi.
Dari balik tirai ruang kerjanya, Mirna diam-diam
memperhatikan Aditya yang sibuk dengan tumpukan map di meja kerjanya. Wajah,
cara ia berjalan, dan berbicara sangat mirip ayahnya. Setiap hari hanya itu
yang ia lakukan, memandangi Aditya dari jauh. Untuk menebus kesalahannya, Mirna
memenuhi semua kebutuhan Aditya selama bekerja di perusahaannya. Ia tak ingin berpisah
dengan anak semata wayangnya itu. Ia masih harus bersabar menunggu saat yang
tepat untuk bisa memeluknya.
Mirna masih asyik memandangi foto Aditya di layar
komputernya, tetiba ia tersentak saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Bergegas
dimatikannya layar komputer. Dengan membawa beberapa map, Aditya masuk dan
mendekati meja kerja direkturnya.
“Ini laporan yang Ibu minta,” ujar Aditya sambil
menyodorkan map.
Mirna mengambil satu map, lalu membuka lembar demi
lembar tanpa sedetik pun melihat wajah Aditya. Hatinya bergejolak, ingin sekali
memeluk pemuda di hadapannya, menumpahkan rindu yang sekian lama terpendam.
Mirna sama sekali tidak fokus dengan angka-angka di lembaran itu. Ia berusaha
agar air matanya tidak tumpah. Sesaat kemudian, Mirna beranjak dari tempat ia
duduk, berjalan menuju meja kecil, membelakangi Aditya. Diambilnya satu cangkir
dan menyeduh teh yang sudah bercampur dengan gula.
“Ibu …”
Mirna mencari sumber suara yang parau dan nyaris
tak terdengar. Mirna membalikkan tubuh, Aditya telah berdiri tiga langkah
darinya,
“Bu Mirna, ibu kandung saya,” ujar Aditya sambil
memegang setangkai mawar merah, yang ia sembunyikan di balik punggungnya sejak
masuk ruangan itu.
“Bagaimana kamu tahu aku ibu kandungmu?”
“Seratus hari setelah kedua orang tua saya
meninggal, saya menemukan surat adopsi di laci lemari ibu angkat saya. Di situ
tertulis Ayah Santo Hadiningrat dan Ibu Mirnawati.”
Mirna mematung mendengar cerita Aditya. Ia belum
mampu berkata-kata. Perasaannya tak menentu. Matanya masih menatap pemuda di
depannya. Satu butiran bening tampak di kedua sudut mata Aditya.
“Adit rindu ibu,” ujar Aditya hampir terisak.
Kakinya terasa berat untuk melangkah, hampir saja ia tak mampu berdiri, andai
Mirna tak segera memeluknya.
Tangis ibu dan anak itu tumpah. Tak mampu lagi
menahan air mata yang kian deras. Pelukan keduanya begitu erat, hingga
setangkai mawar merah jatuh dari tangan Aditya. Menyadari hal itu, Mirna lalu
merenggangkan pelukan dan mengambil bunga yang tergeletak di lantai. Enam bulan
mereka saling memendam rindu, bersandiwara di balik ruang kerja perusahaan.
Setangkai mawar merah pemberian Aditya, Mirna
masukkan ke vas bunga violet di meja kerjanya. Rasa lelah mencari anak semata
wayangnya berbuah manis. Setangkai mawar merah itu akan ia rawat dan tak akan
melepasnya lagi, selamanya. (*.*)
SELESAI
#Cerpen ini menempati peringkat 4
nubar cerpen yang diadakan oleh penerbit PuSaKa Publishing Bali dengan tema
Hari Ibu. Judul buku: Warna Kasih Bunda. Terbit: Januari 2022.

Posting Komentar
Posting Komentar