Hutan Pelangi Memikat Hati

Author
Published Juli 01, 2022
Hutan Pelangi Memikat Hati
Foto koleksi pribadi


Provinsi Jawa Timur saat ini sedang mengembangkan Ijen Geopark. Nama Ijen diambil dari kata Kawah Ijen, sebuah tempat wisata yang terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Geopark memiliki arti taman bumi. Tujuan pengembangan Ijen Geopark di antaranya untuk melestarikan keragaman sumber daya alam, menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar, dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pembuatan souvenir, menjadi pemandu wisata, dan penyedia homestay.

Geopark Ijen terdapat di 2 wilayah yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Di Kabupaten Bondowoso terbagi menjadi 3 situs yaitu Situs Geologi, Situs Biologi, dan Situs Budaya. Situs Geologi: Kawah Ijen/ Blue Fire, Kawah Wurung, Aliran Asam Kalipait, Komplek Mata Air Panas Blawan, Lava Blawan, Air Terjun Gentongan, Aliran Lava Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan taman Batu So’on Solor. Situs Biologi terdiri atas Hutan Pelangi dan Kopi Bondowoso. Sedangkan Situs budaya berupa Struktur Gua Butha Sumber Canting, Struktur Gua Butha Cermee, Situs Megalitik Maskuning Kulon, Singo Ulung, dan Tari Petik Kopi. (Sumber: PHIG Bondowoso)

Hutan Pelangi terletak di Dusun Darungan Desa/Kecamatan Sumberwringin, berjarak kurang lebih 33 kilometer dari pusat Kota Bondowoso. Perjalanan menuju kawasan itu memakan waktu sekitar 50 menit. Di sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang di sisi kanan kiri jalan terdapat persawahan dan kebun tebu. Tepat di pinggir jalan berjajar pohon asam, akses menuju lokasi sangat nyaman dilalui, hawanya pun sejuk meski siang hari. Untuk sampai di lokasi Hutan Pelangi, kita bisa mengendarai motor atau mobil pribadi. Hingga saat ini belum ada angkutan umum/mobil khusus untuk mengantar pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Selain itu, di sepanjang jalan belum ada papan penunjuk arah ke lokasi.

            Rute perjalanan ke Hutan Pelagi dari alun-alun Bondowoso ke arah timur yaitu jalan Situbondo, melewati Kecamatan Tenggarang dan Kecamatan Wonosari. Sampai di Kalitapen terdapat pertigaan, belok kanan menuju Kecamatan Sukosari kurang lebih 14kilometer, dengan waktu tempuh 29 menit. Tiba di Kecamatan Sukosari terus ke arah timur sejauh ±700m lalu belok kanan ke jalan Kawah Ijen. Perjalanan terus lurus hingga menempuh jarak ±4km, lalu belok kiri, setelah 270m belok kanan hingga 2km dan sampai di lokasi Hutan Pelangi. Rute dari Kabupaten Situbondo, kecamatan yang dilewati yaitu Kecamatan Prajekan, Klabang, dan Tapen hingga sampai petigaan Desa Tangsil Kulon belok kiri ke arah Kecamatan Sukosari.

Dinamakan Hutan Pelangi karena banyak ditumbuhi pohon yang batangnya tampak berwarna-warni seperti pelangi. Dominasi warnanya yakni kuning, hijau, biru, dan coklat. Warga setempat menyebutnya Kajuh Bernah dalam bahasa Madura artinya Kayu Berwarna. Selain itu, pohon ini tinggi menjulang tanpa cabang ranting di batangnya, dan lebih banyak terdapat di ujung pohon.


Penjelasan dari papan informasi di lokasi, Hutan Pelangi adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sumberwringin seluas 23,6 Ha sebagai pusat penelitian dan konservasi bagi beberapa jenis kelompok tanaman sejak tahun 1939. Nama Hutan Pelangi disesuaikan dengan karakteristik salah satu pohon eksotis yaitu Kayu Leda (Eucalyptus deglupta) yang tersebar di wilayah Maluku dan Papua. Daya Tarik gradasi warna-warni seperti pelangi pada batang kayu disebabkan oleh proses oksidasi kambium batang dengan oksigen dan menghasilkan warna hijau, kuning, biru, jingga, hingga cokelat. Eucalyptus deglupta merupakan tanaman endemik Indonesia yang rentan di alam dan populasinya terus menurun akibat eksploitasi berlebihan di habitat aslinya.

Pohon Pelangi (Eucalyptus deglupta) merupakan ikon khas dari kawasan Biosite Hutan Pelangi. Warna-warni pada pohon pelangi muncul akibat getah yang keluar dari dalam pohonnya mengenai kulit pohon di bagian lain, sehingga membentuk gradasi warna. Pada tetesan getah pertama, warna yang akan muncul adalah biru. Kemudian perlahan warna tetesannya berubah menjadi jingga, ungu, dan merah marun. Karena proses ini terjadi secara bergiliran dan teratur, maka pohon ini kemudian menampilkan koleksi dari semua warnanya. Proses keluarnya getah didahului oleh terkelupasnya kulit batang yang terjadi tidak bersamaan. Getah yang keluar juga akan memberikan efek kaleidoskopik sehingga setiap lapisan warna memberikan informasi kapan lapisan warna tersebut muncul. Meskipun pohon pelangi ini menghasilkan bunga putih dan daun hijau seperti spesies eucaluyptus pada umumnya, tetapi kelenjar-kelenjarnya tidak mengeluarkan banyak minyak aromatik. World Conservation Monitoring Centre dalam laporannya pada 1992 menyebutkan bahwa Eucalyptus deglupta berada dalam status terancam punah (Endangered). Pohon pelangi terancam punah di habitatnya karena penebangan liar, dan pembukaan lahan untuk agrikultur. Oleh karena itu, upaya konservasi diperlukan untuk tetap mempertahankan keberadaan pohon pelangi yang indah ini. 

Vegetasi pohon lain yang terdapat di kawasan ini antara lain Pinus, Kayu Ulin, Bambu Petung, Mahoni, dan Damar. Vegetasi herba dan semak yang berkhasiat untuk obat-obatan juga bisa dijumpai di sini antara lain, berbagai jenis sirih-sirihan (Piper sp), Kecombrang, dan terong-terongan (Solanum sp). Jenis satwa liar yang dapat ditemukan di antaranya, Burung Pelatuk, Burung Kutilang, dan Burung Prenjak.

Ketua Pelaksana Harian Ijen Geopark Bapak Ahmad Sofyan menjelaskan bahwa sebagai pusat penelitian dan konservasi bagi beberapa jenis kelompok tanaman, kawasan Hutan Pelangi telah dikunjungi oleh mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air. Bahkan dari luar negeri seperti Australia dan Singapura.

“Saat ini Hutan Pelangi sedang dalam proses peningkatan pelayanan dan akan menambah fasilitas demi kenyamanan pengunjung, seperti toilet, musalla, kedai, buklet narasi, dan buku-buku referensi. Selain itu, akan dipasang pula papan petunjuk tentang jenis-jenis pohon, klusterisasi, serta jalur tracking,” ujar Pak Sofyan.

Meski fasilitas di kawasan ini belum lengkap, pengunjung sangat menikmati indahnya pohon pelangi yang memikat hati, dan memilih spot foto instagramable untuk koleksi pribadi, maupun prewedding. Terdapat tempat parkir yang cukup luas dan bersih dari sampah.

Berkunjung ke Pohon Pelangi dapat merelaksasi pikiran, menghilangkan penat setelah sibuk beraktivitas. Tempat piknik yang sangat recommended untuk menghabiskan akhir pekan. Ayo ke Bondowoso.

 



Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021