Hutan Pelangi Memikat Hati
![]() |
| Foto koleksi pribadi |
Provinsi Jawa Timur saat ini sedang
mengembangkan Ijen Geopark. Nama Ijen diambil dari kata Kawah Ijen, sebuah
tempat wisata yang terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten
Banyuwangi. Geopark memiliki arti taman bumi. Tujuan pengembangan Ijen Geopark
di antaranya untuk melestarikan keragaman sumber daya alam, menumbuhkan
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar, dan meningkatkan pendapatan
masyarakat melalui pembuatan souvenir, menjadi pemandu wisata, dan penyedia
homestay.
Geopark Ijen terdapat di 2 wilayah
yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Di Kabupaten Bondowoso terbagi
menjadi 3 situs yaitu Situs Geologi, Situs Biologi, dan Situs Budaya. Situs
Geologi: Kawah Ijen/ Blue Fire, Kawah Wurung, Aliran Asam Kalipait, Komplek
Mata Air Panas Blawan, Lava Blawan, Air Terjun Gentongan, Aliran Lava
Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan taman Batu So’on Solor. Situs
Biologi terdiri atas Hutan Pelangi dan Kopi Bondowoso. Sedangkan Situs budaya
berupa Struktur Gua Butha Sumber Canting, Struktur Gua Butha Cermee, Situs
Megalitik Maskuning Kulon, Singo Ulung, dan Tari Petik Kopi. (Sumber: PHIG
Bondowoso)
Hutan Pelangi terletak di Dusun
Darungan Desa/Kecamatan Sumberwringin, berjarak kurang lebih 33 kilometer dari
pusat Kota Bondowoso. Perjalanan menuju kawasan itu memakan waktu sekitar 50
menit. Di sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang di sisi kanan kiri jalan
terdapat persawahan dan kebun tebu. Tepat di pinggir jalan berjajar pohon asam,
akses menuju lokasi sangat nyaman dilalui, hawanya pun sejuk meski siang hari.
Dinamakan Hutan Pelangi karena banyak
ditumbuhi pohon yang batangnya tampak berwarna-warni seperti pelangi. Dominasi
warnanya yakni kuning, hijau, biru, dan coklat. Warga setempat menyebutnya
Kajuh Bernah dalam bahasa Madura artinya Kayu Berwarna. Selain itu, pohon ini
tinggi menjulang tanpa cabang ranting di batangnya, dan lebih banyak terdapat
di ujung pohon.
Penjelasan dari papan informasi di
lokasi, Hutan Pelangi adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK)
Sumberwringin seluas 23,6 Ha sebagai pusat penelitian dan konservasi bagi
beberapa jenis kelompok tanaman sejak tahun 1939. Nama Hutan Pelangi
disesuaikan dengan karakteristik salah satu pohon eksotis yaitu Kayu Leda
(Eucalyptus deglupta) yang tersebar di wilayah Maluku dan Papua. Daya Tarik
gradasi warna-warni seperti pelangi pada batang kayu disebabkan oleh proses oksidasi
kambium batang dengan oksigen dan menghasilkan warna hijau, kuning, biru,
jingga, hingga cokelat. Eucalyptus deglupta merupakan tanaman endemik Indonesia
yang rentan di alam dan populasinya terus menurun akibat eksploitasi berlebihan
di habitat aslinya.
Pohon Pelangi (Eucalyptus deglupta)
merupakan ikon khas dari kawasan Biosite Hutan Pelangi. Warna-warni pada pohon
pelangi muncul akibat getah yang keluar dari dalam pohonnya mengenai kulit
pohon di bagian lain, sehingga membentuk gradasi warna. Pada tetesan getah
pertama, warna yang akan muncul adalah biru. Kemudian perlahan warna tetesannya
berubah menjadi jingga, ungu, dan merah marun. Karena proses ini terjadi secara
bergiliran dan teratur, maka pohon ini kemudian menampilkan koleksi dari semua
warnanya. Proses keluarnya getah didahului oleh terkelupasnya kulit batang yang
terjadi tidak bersamaan. Getah yang keluar juga akan memberikan efek
kaleidoskopik sehingga setiap lapisan warna memberikan informasi kapan lapisan
warna tersebut muncul. Meskipun pohon pelangi ini menghasilkan bunga putih dan
daun hijau seperti spesies eucaluyptus pada umumnya, tetapi kelenjar-kelenjarnya
tidak mengeluarkan banyak minyak aromatik. World Conservation Monitoring Centre
dalam laporannya pada 1992 menyebutkan bahwa Eucalyptus deglupta berada dalam
status terancam punah (Endangered). Pohon pelangi terancam punah di habitatnya
karena penebangan liar, dan pembukaan lahan untuk agrikultur. Oleh karena itu,
upaya konservasi diperlukan untuk tetap mempertahankan keberadaan pohon pelangi
yang indah ini.
Vegetasi pohon lain
yang terdapat di kawasan ini antara lain Pinus, Kayu Ulin, Bambu Petung,
Mahoni, dan Damar. Vegetasi herba dan semak yang berkhasiat untuk obat-obatan
juga bisa dijumpai di sini antara lain, berbagai jenis sirih-sirihan (Piper
sp), Kecombrang, dan terong-terongan (Solanum sp). Jenis satwa liar yang dapat
ditemukan di antaranya, Burung Pelatuk, Burung Kutilang, dan Burung Prenjak.
Ketua Pelaksana Harian Ijen Geopark
Bapak Ahmad Sofyan menjelaskan bahwa sebagai pusat penelitian dan konservasi
bagi beberapa jenis kelompok tanaman, kawasan Hutan Pelangi telah dikunjungi
oleh mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air. Bahkan dari luar negeri seperti
Australia dan Singapura.
“Saat ini Hutan Pelangi sedang dalam
proses peningkatan pelayanan dan akan menambah fasilitas demi kenyamanan
pengunjung, seperti toilet, musalla, kedai, buklet narasi, dan buku-buku referensi.
Selain itu, akan dipasang pula papan petunjuk tentang jenis-jenis pohon,
klusterisasi, serta jalur tracking,” ujar Pak Sofyan.
Meski fasilitas di kawasan ini
belum lengkap, pengunjung sangat menikmati indahnya pohon pelangi yang memikat
hati, dan memilih spot foto instagramable untuk koleksi pribadi, maupun prewedding.
Terdapat tempat parkir yang cukup luas dan bersih dari sampah.
Berkunjung ke Pohon Pelangi dapat
merelaksasi pikiran, menghilangkan penat setelah sibuk beraktivitas. Tempat piknik
yang sangat recommended untuk menghabiskan akhir pekan. Ayo ke
Bondowoso.







Posting Komentar
Posting Komentar