Kado untuk Ibu
Dewi belum
mampu memejamkan matanya meski malam telah larut dan lampu telah dipadamkan. Kantuknya
belum jua mencapai lelap. Pikirannya kacau. Berulang kali dia membalikkan
tubuhnya ke kiri dan kanan lalu telentang dengan mata tertutup. Lebih dua jam
dia berbaring. Suara rintik hujan samar-samar terdengar, dingin terasa
tiba-tiba pada tubuhnya hingga ujung jari kaki. Dewi menghidupkan lampu duduk
di meja sebelah kasurnya, lalu melangkah ke jendela, membuka tirai, dan memandangi
titik-titik air yang turun melalui atap rumah dengan kantuk dan beban yang
berat di dalam kepala.
Perlahan Dewi mendekati lemari kayu yang
permukaan catnya sudah kusam dan membukanya. Sebuah kotak kecil yang dibalut
kain beludru merah dia keluarkan di antara baju-baju yang bertumpuk tak
beraturan. Benda berbentuk melingkar berwarna putih dan pernah melingkari jari
manisnya itu adalah harta satu-satunya yang tersisa. Gelang dan anting-anting
pemberian almarhum Dani, suaminya, telah dia jual untuk biaya hidup Dara selama
indekos. Penghasilannya dari menjahit tidaklah cukup buat membiayai kuliah
Dara. Sebentar dia menghela nafas, sepertinya benar-benar telah kehilangan
akal, tidak menemukan jalan keluar untuk membayar kekurangan biaya wisuda Dara,
anak semata wayangnya.
Matahari mulai menjelma menuju siang
saat Dewi memasuki ruang berwarna hijau berAC dengan senyum kecut. Pandangan
matanya tertuju pada logo tiga lingkaran yang bersinggungan dan di bawahnya
bertuliskan “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah”. Pikirannya berkecamuk. Benarkah
ada masalah yang bisa selesai tanpa menimbulkan masalah baru? Dewi tidak yakin
akan hal itu. Dia harus berupaya mencari pekerjaan sampingan agar mendapat uang
untuk mengambil kembali barang jaminan.
Senyum Dewi sedikit mengembang
melihat beberapa lembar uang yang diterimanya. Dia senang karena sebentar lagi akan
melihat Dara diwisuda. Namun, pikirannya kembali kacau. Apa yang harus dia
lakukan untuk mendapatkan kembali cincin kawinnya? Seketika Dewi teringat Bu
Tejo, mantan majikannya. Sebelum menikah, Dewi pernah mengasuh anak-anak Bu
Tejo dan berhenti setelah Dani melamarnya. Yah, hanya Bu Tejo yang dapat
membantunya. Dia berharap Bu Tejo mau menerimanya menjadi asisten rumah tangga,
Berapapun upahnya, akan Dewi terima.
***
Dara meletakkan
map berisi berkas lamaran kerja di meja lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat
tidur. Matanya berkaca-kaca hingga tetesannya membasahi bantal. Hatinya kecewa.
Dia mulai kehilangan harapan. Ini kali ke empat puluh lamaran kerjanya ditolak.
Dara kesal akan nasibnya yang ‘tidak beruntung’. Predikat cumlaude yang
disandangnya ternyata bukan jaminan untuk mudah mendapatkan pekerjaan. Menurut
mereka ijazah pendidikannya sudah terlalu pasaran.
Perlakuan
yang tidak menyenangkan dari staf salah satu perusahaan pernah Dara dapatkan.
Kejadian itu menjadi pengalaman pahit yang tak akan dia lupakan.
“Mbak,
mau apa ke sini?” tanya seorang staf saat melihat Dara membawa map.
“Melamar
kerja, Bu,” jawab Dara.
“Lulusan
apa?” tanya staf itu dengan nada ketus tanpa mempersilakan Dara duduk.
“Manajemen,
Bu,” jawab Dara sambil menyerahkan map plastik merah.
“Di
sini sudah banyak lulusan Manajemen, Mbak. Sebaiknya cari tempat lain aja!”
jawabnya tanpa membuka map lamaran.
Suatu
ketika Dara mendapat surat panggilan untuk menjalani interview dari pengusaha
real estate. Dia merasa senang dan membayangkan gaji yang akan
diterimanya cukup untuk menopang kebutuhan hidupnya dan ibu yang sangat dia
sayangi.
Langkah
Dara terhenti di depan sebuah bangunan tingkat bergaya minimalis. Dilihatnya
kembali alamat yang tertera pada surat panggilan yang dia terima untuk memastikan
tidak salah alamat. Ditepisnya rasa curiga yang menghantui pikirannya, lalu
Dara menuju pintu utama dan memencet bel. Wanita muda berkulit putih dan cantik
menyambut dan mempersilakannya masuk.
Dara
diantar masuk ke ruang pimpinan perusahaan berukuran 5 x 5 cm yang dindingnya
didominasi warna peach. Sambil menunggu pemilik perusahaan, matanya menyapu
seisi ruangan hingga terhenti pada sebuah lukisan wanita seksi di dinding utara
ruangan itu. Hatinya mulai gelisah dan waswas. Dara semakin ketakutan ketika
dua orang pemuda berdasi memasuki ruangan dan duduk persis di depannya. Salah
satu pemuda itu membaca curriculum vitae lalu menilik Dara mulai ujung
rambut hingga kaki.
“Minta
gaji berapa?” tanya salah satu pemuda sambil tersenyum menggoda.
“Maksud
bapak?” Dara balik bertanya.
Pemuda
itu berdiri lalu duduk persis di samping Dara dan membelai rambut ikalnya.
“Kamu
saya terima asal mau menemani saya semalam saja,” katanya setengah berbisik.
Sontak
Dara menepis tangan si pemuda dan bergegas meninggalkan ruangan sambil menahan
tangis. Dia tak memedulikan kedua pemuda itu memanggilnya.
Perih
hati Dara mengingat peristiwa itu. Gelar sarjana yang dia perjuangkan selama 4
tahun dengan menghabiskan pikiran, tenaga, dan biaya tidak sedikit seolah
sia-sia. Namun, Dara tak ingin terus menerus larut dalam kesedihan dan
keputusasaan. Dia mulai belajar ikhlas menjalani kehidupannya. Mungkin Tuhan
ingin melihat seberapa keras dia berjuang dan seberapa besar dia bersabar.
Diusapnya butir-butir air mata yang
mengalir deras di lereng pipinya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah
buku-buku yang tersusun rapi di rak. Diiringi helaan nafas panjang, pelan-pelan
Dara melangkah mendekati rak buku, meraih buku catatan harian dan mengambil
penanya yang tergeletak di meja belajar. Dia mulai menulis isi hatinya, rasa
kecewa, dan harapan-harapannya hingga beberapa lembar. Setelah itu, Dara merasa
lebih nyaman dan lega. Dia sandarkan tubuhnya di kursi, menatap foto ibu dan
almarhum ayahnya. Merekalah yang pada akhirnya membuat Dara mulai bangkit.
Berbekal hobi melukis yang ditekuni
sejak duduk di bangku SMP, Dara memulai kembali hobinya. Melumuri kanvas dengan
cat minyak. Dia berharap lukisan-lukisannya nanti akan laku terjual. Hanya
itulah satu-satunya jalan yang dia tempuh. Dara merasa inilah saatnya dia
membalas budi perjuangan ibunya.
***
Dara memperhatikan satu per satu
pengunjung yang memadati galeri lukisan yang dia dirikan lima bulan lalu.
Sesekali dia menjelaskan makna lukisannya atau sekadar berbincang-bincang
dengan pengunjung. Salah satu lukisan klasik yang terpampang di ujung ruangan,
membuat sosok wanita separuhbaya takjub dan membelinya dengan harga fantastis. Tentu
saja Dara gembira. Keinginannya membeli kado untuk ibunya akan segera terwujud.
Senja hampir saja tiba ketika Dara menutup
galeri. Dia ingin secepatnya menemui ibunya dan memberikan kado istimewa yang
telah dia siapkan sejak pagi. Hampir setiap akhir pekan Dara selalu menemui
ibunya yang tak lagi bekerja di rumah Bu Tejo. Baginya, ibu adalah sebaik-baik
tempat untuk berbagi, mencurahkan isi hati dan menyampaikan kabar paling
bahagia.
Dengan membawa bunga mawar merah dan
kotak kecil, Dara mendekati ibunya,
“Ibu, Selamat Hari Ibu, ya. Dara
minta maaf belum bisa membahagiakan ibu. Dara hanya bisa memberi cincin yang
dulu sangat berarti dalam hidup ibu. Sengaja Dara mengambilnya kembali setelah
mendengar cerita dari Bu Tejo bahwa cincin pemberian almarhum Ayah ini untuk
biaya wisuda Dara. Cincin ini akan Dara simpan dan Dara pakai setelah menikah
nanti,” tutur Dara sambil menaburkan bunga mawar di atas pusara ibunya, yang
meninggal akibat kanker payudara setahun lalu.
Bondowoso, 2 Februari 2023.

Posting Komentar
Posting Komentar