Setulus Cinta Yumna
Setulus Cinta Yumna
Kandungan Yumna memasuki usia delapan bulan.
Dia hamil anak pertama. Yumna dan
Faris, suaminya, masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Penghasilan
Faris sebagai sopir angkutan kota hanya cukup untuk makan sehari-hari. Membeli
perabotan seperti meja dan kursi saja belum mampu. Bahkan, terkadang mereka
harus hutang beras ke tetangga.
Yumna tidak memiliki kemampuan apa-apa, kecuali
memasak. Dia menikah 6 bulan sebelum lulus SMA karena perjodohan. Yumna sempat
menolak dijodohkan dengan Faris. Dia tidak mengenal lelaki itu. Tidak pula ada
sedikit pun rasa suka, bahkan cinta di hatinya. Yumna ingin mewujudkan
cita-citanya menjadi guru, meskipun hanya guru honorer. Namun, keinginannya
kandas. Ketidakmampuan membiayai sekolah Yumna menjadi alasan orang tuanya
menerima lamaran Faris, lelaki yang mereka kenal ketika masih sama-sama
berdagang di pasar.
Yumna berdiri di depan foto yang diletakkan di
dinding ruang tamu. Dipandanginya foto pernikahannya dengan Faris. Gaun
pengantin biru brokat dengan motif bunga-bunga yang dipakainya, belum mampu
membuat dia menyunggingkan senyum. Sementara Faris, senyumnya semringah hingga
terlihat deretan giginya yang putih. Tangannya menggenggam telapak tangan
Yumna. Terpancar kebahagiaan di wajahnya karena berhasil menikahi perempuan
yang diam-diam dia sukai sejak Yumna masih SMP.
Yumna menghela napas.
“Andai Ayah dan Ibu mau bersabar sampai aku
lulus, mungkin hidupku tidak seperti ini,” batin Yumna penuh sesal.
Kedatangan Faris seketika membuyarkan lamunan
Yumna. Disambutnya Faris dengan mencium punggung tangannya. Faris mencium
kening Yumna, istri yang sangat dicintainya. Keduanya pun duduk bersebelahan di
lantai beralaskan tikar.
“Dik, tadi ada penumpang yang menawari Abang
untuk menjadi sopir di perusahaannya. Namanya Pak Dharma.” Faris melepas topi
dan mengibaskan ke tubuhnya yang penuh keringat.
“Lalu, Abang terima?”
“Iya, Dik. Kesempatan tidak akan pernah datang
dua kali. Perusahaan telah menyiapkan rumah untuk kita. Abang ingin
membahagiakan Adik dan anak kita nanti. Apa pun keinginan Adik akan Abang
penuhi asal Adik bahagia.” Faris merangkul pundak Yumna, menatap mata, dan
memeluknya hingga wajah Yumna menempel di dada Faris. Jantung Faris selalu
berdebar kencang setiap berada di dekat Yumna.
“Abang sangat mencintai Adik. Entah bagaimana
hidup Abang tanpa Adik. Abang ingin menjadi satu-satunya orang yang membuat hati
Adik bahagia,” ujar Faris lirih.
Kedua tangan Yumna memeluk erat tubuh Faris.
Dia tak mampu membendung air mata mendengar ucapan suaminya. Faris merasakan
tetes air mata Yumna seolah menyelinap sampai di hatinya yang terdalam.
Semakin hari Yumna merasakan kasih sayang dan
perhatian Faris semakin besar sehingga timbul rasa kagumnya. Lambat laun
benih-benih cinta mulai tumbuh. Hati Yumna luluh. Benar kata pepatah Jawa “Witing tresna jalaran saka kulina”, cinta tumbuh karena terbiasa.
“Faris benar-benar lelaki yang baik dan
bertanggung jawab. Tak salah Ayah dan Ibu memilihnya menjadi suamiku,” gumam
Yumna.
***
Yumna merasakan ada sedikit darah mengalir di
kakinya saat memasak sayur asam kesukaan Faris. Perlahan dia menuju meja makan
di dekat dapur dan menelepon Faris.
“Bang, Yumna pendarahan. Sepertinya anak kita
akan lahir,” kata Yumna sambil mengelus-elus perutnya yang mulai terasa sakit.
“Iya, Dik! Abang segera pulang. Adik tenang,
jangan panik.”
Yumna berusaha menenangkan diri dengan
beristighfar dan membaca kalimat syahadat. Sesekali wajahnya meringis menahan
sakit. Bayangan wajah Ayah-Ibunya seketika muncul di benaknya.
“Ayah, Ibu, maafkan Yumna.” Yumna membatin.
Sayup-sayup Yumna mendengar suara mobil
berhenti dan Faris berlari mendekatinya.
“Ayo, Dik. Kita ke rumah sakit.” Faris
merangkul Yumna. Tangan kirinya menenteng tas berisi perlengkapan persalinan.
Mereka berjalan menuju mobil perusahaan yang biasa dipakai Faris.
Tubuh Yumna lemas saat sampai di rumah sakit.
Di ruang IGD, Dokter Rizal yang memeriksa Yumna mendekati Faris yang duduk tak
jauh dari tempat Yumna terbaring.
“Bapak Faris bisa ikut ke ruangan saya?”
“Baik, Dok.” Faris berjalan di belakang Dokter
Rizal menuju ruangannya.
“Silakan duduk, Pak Faris.”
Sejenak Dokter Rizal memandang Faris. Tampak
raut muka Faris penuh kecemasan.
“Begini Pak Faris. Panggul Ibu Yumna terlalu
kecil dan kepala bayi agak besar untuk jalan lahir, sehingga sulit melahirkan
secara normal. Saran saya, sebaiknya Ibu Yumna melahirkan secara caesar,” jelas
Dokter Rizal.
“Baik, Dok. Saya ikuti saran Dokter demi
keselamatan istri dan anak saya.”
Brankar dorong yang membawa Yumna mulai
memasuki ruang operasi. Faris yang sejak dari ruang IGD berada di dekat Yumna,
tidak diizinkan masuk. Saat pintu ruang operasi ditutup, Faris hanya bisa
melihat istrinya melalui kaca pintu hingga brankar dorong itu menghilang dari
pandangannya.
Faris yang duduk di kursi samping ruang
operasi, tak henti-hentinya berzikir, berdoa untuk keselamatan istri dan anak
pertamanya yang bakal lahir. Sebentar-sebentar dia menoleh ke arah pintu ruang
operasi, lalu berdiri dan mondar-mandir di depan ruangan itu sambil sesekali melihat
jam di tangannya. Faris semakin gelisah, sebab telah lebih satu jam belum ada
kabar dari dokter maupun perawat yang menangani istrinya.
Di sudut luar ruang operasi, Faris meringkuk
memeluk kedua lututnya, kepalanya menunduk. Dia tak mampu membendung air mata
yang terus-menerus menuruni lereng pipinya.
“Yaa Rabb. Jika hamba boleh meminta, selamatkan
istri dan anak hamba,” pinta Faris dalam hati.
“Keluarga Ibu Yumna.” Seorang perawat keluar
dari ruang operasi. Faris cepat-cepat mendekat.
“Saya suaminya. Bagaimana kondisi istri dan
anak saya, Suster?”
“Selamat. Anak Bapak laki-laki dan sehat.
Ibunya juga sehat. Bapak boleh masuk.”
Dengan langkah cepat Faris masuk ke ruang
operasi. Dia sudah tidak sabar ingin menemui istri dan anaknya.
“Bang Faris,” panggil Yumna pelan saat melihat
Faris mendekatinya.
Tanpa mengeluarkan kata-kata, Faris mencium
kening Yumna dan memeluknya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Yumna pun
melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Faris. Senyum bahagia tampak di wajah
mereka.
Sesaat kemudian, perawat menemui mereka dengan
menggendong bayi yang dibedong kain motif biru muda dan menyerahkannya kepada
Faris. Dengan lirih Faris menyuarakan azan di telinga kanan bayi yang diberinya
nama Alfatih Farshad Amrullah.
***
Yumna mendekati wanita muda yang
masuk ke butik yang didirikannya setahun lalu. Wanita dengan gamis bahan Jersey
warna Savannah Green dan menenteng tas Prada Salfiano putih
berbentuk oval itu, terlihat cantik saat menyunggingkan senyumnya kepada Yumna.
“Silakan, Kak. Butik kami sedang ada
diskon akhir tahun,” sambut Yumna.
“Terima kasih, Kak Yumna.” Si wanita
muda tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepala.
Yumna tidak merasa heran jika ada
orang asing yang mengenalinya, sebab butik itu diberinya nama “Butik Yumna”, sama
dengan namanya, Yumna berharap kesuksesan dan keberuntungan selalu
menyertainya, seperti arti namanya: sukses dan beruntung. Yumna merasa
beruntung menikah dengan Faris yang penyabar dan penuh perhatian.
Sejak Faris bekerja di perusahaan milik Pak
Dharma, kariernya makin meningkat. Dari menjadi sopir, office boy,
karyawan tetap, dan berkat kejujurannya kini dipercaya memimpin kantor cabang
perusahaan. Semua kebutuhan Yumna dan Fatih, anak semata wayang mereka, dapat
terpenuhi. Bahkan, ketika Yumna berkeinginan memiliki butik.
Satu per satu pelanggan mulai
berdatangan ke butik. Meski ramai, Yumna tetap sabar membantu mereka mencarikan
busana yang cocok dan pas. Sejak butiknya berdiri, nyaris tak ada komplain
tentang busana yang dijualnya.
“Bundaaa. Assalamu’alaikum.” Fatih
yang masih memakai seragam TK datang dan berlari ke arah Yumna.
“Wa’alaikumsalam. Kesayangan Bunda
sudah pulang,” sambut Yumna mengulurkan kedua tangan siap memeluk Fatih.
Sementara Pak Yatno, sopir pribadi yang
menjemput Fatih di sekolah, kembali ke mobil yang diparkir di depan butik.
“Ini
putra Kak Yumna?” tanya wanita muda bergamis Savannah Green yang
diam-diam memerhatikan mereka.
“Betul. Fatih putra pertama kami,”
jawab Yumna sembari tersenyum dan mengelus-elus rambut Fatih.
Seketika si wanita muda itu
mengernyitkan dahi lalu bergegas meninggalkan butik. Sambil berjalan menuju
mobil, diambilnya ponsel dari tasnya dan menelepon seseorang.
Sementara itu di ruang kerjanya, Faris
sedang mengecek satu per satu berkas di dalam map di meja kerjanya. Di ruangan
bercat dinding warna krem, sepasang kursi sofa, dan sebuah lukisan klasik Eropa
itulah Faris menjadi pimpinan cabang perusahaan milik Pak Dharma. Tanpa dia
sadari, seorang wanita telah berdiri di hadapannya.
“Fara. Ada apa? Kok, kamu menangis?”
Faris beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati Fara.
“Kak Faris punya anak dari Kak Yumna?
Jadi selama ini Kak Faris membohongi Fara?” ujar Fara terbata-bata. Matanya
memerah menahan amarah.
“Itu artinya bukan Rani, anak kita
yang menjadi pewaris tunggal perusahaan Papa,” lanjut Fara. Napasnya mulai
sesak.
“Fara, dengarkan Kakak. Bukan maksud
Kakak ---”
Belum selesai Faris bicara, Fara terhuyung dan
jatuh tak sadarkan diri. Faris membopong tubuh Fara dan setengah berlari
membawanya ke mobil.
Fara masih tak sadarkan diri saat
dibawa masuk ruang ICCU. Di tubuhnya dipasang kateter, infus, dan selang di
hidung yang terhubung ke ventilator. Di samping tempat Fara terbaring, terdapat
layar monitor untuk memonitor detak jantung.
Faris mengelus-elus punggung tangan
Fara, istri yang dinikahinya setahun lalu tanpa sepengetahuan Yumna.
“Fara, bangun sayang. Kakak minta
maaf.” Faris berbisik ke telinga Fara.
Namun, Fara belum juga bereaksi. Faris sangat
tidak berdaya melihat kondisi Fara. Dia tak ingin kehilangan istrinya itu
terlebih telah ada Rani dalam rumah tangga mereka. Faris galau, apa yang akan
dikatakannya kepada Yumna saat tahu dia belum pulang? Dia tidak mungkin
meninggalkan Fara sendiri.
Tetiba nada dering ponsel Faris
berbunyi. Faris bergegas keluar ruang ICCU dan menerima panggilan di ponselnya.
“Abang di mana? Kok, belum pulang?
Abang sehat ‘kan, Bang?” Terdengar kekhawatiran dari suara Yumna.
Faris masih terdiam. Dia bingung,
cemas, dan gelisah. Dia tak ingin menyakiti hati Yumna, tetapi dia menyadari
suatu saat apa yang disembunyikannya pasti ketahuan juga. Inilah saatnya dia
harus memberanikan diri berterus terang kepada Yumna, apa pun resikonya.
“Bang Faris kenapa diam?”
“Alhamdulillah, Abang sehat, Dik.
Abang di rumah sakit. Bisakah Adik ke sini?”
“Kok Abang di rumah sakit. Siapa
yang sakit, Bang?”
“Adik ke sini dulu, nanti Abang
jelaskan.”
“Baik, Bang.”
Faris sengaja tidak mengaktifkan
ponselnya setelah menerima telepon dari Yumna. Dia kembali masuk ruang ICCU dan
melihat tangan kanan Fara sedikit bergerak. Faris cepat-cepat mendekat.
“Fara, ini Kakak. Buka matamu, Sayang.”
Fara membuka matanya dan melihat
wajah Faris. Namun, dia pejamkan lagi. Napasnya masih tak beraturan.
Sementara itu, Yumna berjalan di
lorong panjang rumah sakit yang sepi menuju kamar nomor 11 seperti kata Faris.
Sampai di depan pintu kamar, Yumna melihat dari kaca pintu, suaminya sedang
duduk di samping wanita yang terbaring dengan mata terpejam. Yumna berusaha
menenangkan hati. Ditepisnya rasa curiga yang menyelimuti pikirannya. Dia
berusaha berdiri tegak dan memberanikan diri mengetuk pelan pintu kamar.
Faris menoleh ke arah pintu dan melihat Yumna
berdiri di balik pintu. Dengan perasaan bersalah, Faris bergegas mendekatinya.
“Siapa dia, Bang?” tanya Yumna berusaha tegar.
“Adik, maafkan Abang.” Faris memegang kedua
tangan Yumna dan mengajaknya duduk di kursi samping ruang ICCU.
Yumna masih terdiam dan menatap mata Faris yang
airnya hendak tumpah. Tiba-tiba Faris duduk bersimpuh di hadapan Yumna dengan
tangan memegang erat telapak tangan Yumna.
“Adik, maafkan Abang. Abang terpaksa menikahi
Fara, anak Pak Dharma. Fara sangat mencintai Abang. Kata dokter pribadi
keluarga Pak Dharma, usia Fara tidak akan lama karena penyakit kanker payudara
yang dideritanya. Abang kasihan, Dik. Apalagi Pak Dharma berpesan kepada Abang
sebelum beliau meninggal, agar Abang mau menikahi Fara.”
“Bang Faris. Abang menduakan Yumna?” Yumna
menepis tangan Faris.
Wajahnya penuh amarah. Yumna kecewa. Hatinya
hancur, bagai kaca yang tertembak ratusan peluru, hancur berkeping-keping.
Tangis Yumna pecah seketika dan nyaris pingsan. Tetiba salah satu perawat
memanggil Faris.
“Bapak Faris, istri Bapak telah sadar.”
Faris yang masih bersimpuh, berdiri dan
mengajak Yumna masuk.
“Adik, ikut Abang masuk, akan Abang perkenalkan
dengan Fara.”
Yumna diam. Luka hatinya terlalu dalam. Andai
tak ada Fatih dalam kehidupan mereka, mungkin Yumna meninggalkan Faris saat itu
juga. Dengan langkah gontai, Yumna berjalan di belakang Faris mendekati Fara.
Saat melihat wajah Fara, Yumna kaget.
“Jadi, wanita berbaju savannah green yang
datang ke butik, dia istri Bang Faris?” Yumna membatin dan menyeka air matanya.
“Kak, Yumna,” panggil Fara lirih. Tangannya
digerakkan ingin bersalaman dengan Yumna.
Yumna pun mendekat.
“Maafkan Fara, Kak.”
Yumna membungkam. Dia belum bisa mengusir rasa
kecewanya. Namun, melihat kondisi Fara yang kritis, terpaksa Yumna mengangguk.
“Maukah Kak Yumna mengasuh Rani, anak kami?”
Fara memohon dengan sisa tenaga yang dia miliki
Yumna hanya bisa mengangguk. Air matanya belum
berhenti menetes.
“Terima kasih, Kak.”
Mata Fara lalu terpejam. Beberapa saat kemudian
detak jantungnya lemah dan makin melemah. Yumna dan Faris panik. Faris
memanggil dokter, sedangkan Yumna membisikkan dua kalimat syahadat ke telinga
kanan Fara.
Dokter dan perawat memasang alat kejut jantung
hingga beberapa saat. Namun, nyawa Fara tidak tertolong. Faris memeluk tubuh
Fara, mengecup kening dan kedua pipinya. Dia telah mengikhlaskan kepergian
istri keduanya itu. Yumna mematung melihat adegan di depannya. Dia berusaha
ikhlas menerima ujian dan cobaan dari Allah Swt. karena ketulusan cintanya
kepada Faris. Yumna akan mengasuh Rani yang belum genap setahun, seperti
anaknya sendiri.

Posting Komentar
Posting Komentar