Setulus Cinta Yumna

Author
Published Januari 02, 2024
Setulus Cinta Yumna



Setulus Cinta Yumna

 

Kandungan Yumna memasuki usia delapan bulan. Dia hamil anak pertama. Yumna dan Faris, suaminya, masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Penghasilan Faris sebagai sopir angkutan kota hanya cukup untuk makan sehari-hari. Membeli perabotan seperti meja dan kursi saja belum mampu. Bahkan, terkadang mereka harus hutang beras ke tetangga.

Yumna tidak memiliki kemampuan apa-apa, kecuali memasak. Dia menikah 6 bulan sebelum lulus SMA karena perjodohan. Yumna sempat menolak dijodohkan dengan Faris. Dia tidak mengenal lelaki itu. Tidak pula ada sedikit pun rasa suka, bahkan cinta di hatinya. Yumna ingin mewujudkan cita-citanya menjadi guru, meskipun hanya guru honorer. Namun, keinginannya kandas. Ketidakmampuan membiayai sekolah Yumna menjadi alasan orang tuanya menerima lamaran Faris, lelaki yang mereka kenal ketika masih sama-sama berdagang di pasar.

Yumna berdiri di depan foto yang diletakkan di dinding ruang tamu. Dipandanginya foto pernikahannya dengan Faris. Gaun pengantin biru brokat dengan motif bunga-bunga yang dipakainya, belum mampu membuat dia menyunggingkan senyum. Sementara Faris, senyumnya semringah hingga terlihat deretan giginya yang putih. Tangannya menggenggam telapak tangan Yumna. Terpancar kebahagiaan di wajahnya karena berhasil menikahi perempuan yang diam-diam dia sukai sejak Yumna masih SMP.

Yumna menghela napas.

“Andai Ayah dan Ibu mau bersabar sampai aku lulus, mungkin hidupku tidak seperti ini,” batin Yumna penuh sesal.

Kedatangan Faris seketika membuyarkan lamunan Yumna. Disambutnya Faris dengan mencium punggung tangannya. Faris mencium kening Yumna, istri yang sangat dicintainya. Keduanya pun duduk bersebelahan di lantai beralaskan tikar.

“Dik, tadi ada penumpang yang menawari Abang untuk menjadi sopir di perusahaannya. Namanya Pak Dharma.” Faris melepas topi dan mengibaskan ke tubuhnya yang penuh keringat.

“Lalu, Abang terima?”

“Iya, Dik. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali. Perusahaan telah menyiapkan rumah untuk kita. Abang ingin membahagiakan Adik dan anak kita nanti. Apa pun keinginan Adik akan Abang penuhi asal Adik bahagia.” Faris merangkul pundak Yumna, menatap mata, dan memeluknya hingga wajah Yumna menempel di dada Faris. Jantung Faris selalu berdebar kencang setiap berada di dekat Yumna.

“Abang sangat mencintai Adik. Entah bagaimana hidup Abang tanpa Adik. Abang ingin menjadi satu-satunya orang yang membuat hati Adik bahagia,” ujar Faris lirih.

Kedua tangan Yumna memeluk erat tubuh Faris. Dia tak mampu membendung air mata mendengar ucapan suaminya. Faris merasakan tetes air mata Yumna seolah menyelinap sampai di hatinya yang terdalam.

Semakin hari Yumna merasakan kasih sayang dan perhatian Faris semakin besar sehingga timbul rasa kagumnya. Lambat laun benih-benih cinta mulai tumbuh. Hati Yumna luluh. Benar kata pepatah Jawa “Witing tresna jalaran saka kulina”, cinta tumbuh karena terbiasa.

“Faris benar-benar lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Tak salah Ayah dan Ibu memilihnya menjadi suamiku,” gumam Yumna.

                                              ***

Yumna merasakan ada sedikit darah mengalir di kakinya saat memasak sayur asam kesukaan Faris. Perlahan dia menuju meja makan di dekat dapur dan menelepon Faris.

“Bang, Yumna pendarahan. Sepertinya anak kita akan lahir,” kata Yumna sambil mengelus-elus perutnya yang mulai terasa sakit.

“Iya, Dik! Abang segera pulang. Adik tenang, jangan panik.”

Yumna berusaha menenangkan diri dengan beristighfar dan membaca kalimat syahadat. Sesekali wajahnya meringis menahan sakit. Bayangan wajah Ayah-Ibunya seketika muncul di benaknya.

“Ayah, Ibu, maafkan Yumna.” Yumna membatin.

Sayup-sayup Yumna mendengar suara mobil berhenti dan Faris berlari mendekatinya.

“Ayo, Dik. Kita ke rumah sakit.” Faris merangkul Yumna. Tangan kirinya menenteng tas berisi perlengkapan persalinan. Mereka berjalan menuju mobil perusahaan yang biasa dipakai Faris.

Tubuh Yumna lemas saat sampai di rumah sakit. Di ruang IGD, Dokter Rizal yang memeriksa Yumna mendekati Faris yang duduk tak jauh dari tempat Yumna terbaring.

“Bapak Faris bisa ikut ke ruangan saya?”

“Baik, Dok.” Faris berjalan di belakang Dokter Rizal menuju ruangannya.

“Silakan duduk, Pak Faris.”

Sejenak Dokter Rizal memandang Faris. Tampak raut muka Faris penuh kecemasan.

“Begini Pak Faris. Panggul Ibu Yumna terlalu kecil dan kepala bayi agak besar untuk jalan lahir, sehingga sulit melahirkan secara normal. Saran saya, sebaiknya Ibu Yumna melahirkan secara caesar,” jelas Dokter Rizal.

“Baik, Dok. Saya ikuti saran Dokter demi keselamatan istri dan anak saya.”

Brankar dorong yang membawa Yumna mulai memasuki ruang operasi. Faris yang sejak dari ruang IGD berada di dekat Yumna, tidak diizinkan masuk. Saat pintu ruang operasi ditutup, Faris hanya bisa melihat istrinya melalui kaca pintu hingga brankar dorong itu menghilang dari pandangannya.

Faris yang duduk di kursi samping ruang operasi, tak henti-hentinya berzikir, berdoa untuk keselamatan istri dan anak pertamanya yang bakal lahir. Sebentar-sebentar dia menoleh ke arah pintu ruang operasi, lalu berdiri dan mondar-mandir di depan ruangan itu sambil sesekali melihat jam di tangannya. Faris semakin gelisah, sebab telah lebih satu jam belum ada kabar dari dokter maupun perawat yang menangani istrinya.

Di sudut luar ruang operasi, Faris meringkuk memeluk kedua lututnya, kepalanya menunduk. Dia tak mampu membendung air mata yang terus-menerus menuruni lereng pipinya.

“Yaa Rabb. Jika hamba boleh meminta, selamatkan istri dan anak hamba,” pinta Faris dalam hati.

 “Keluarga Ibu Yumna.” Seorang perawat keluar dari ruang operasi. Faris cepat-cepat mendekat.

“Saya suaminya. Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Suster?”

“Selamat. Anak Bapak laki-laki dan sehat. Ibunya juga sehat. Bapak boleh masuk.”

Dengan langkah cepat Faris masuk ke ruang operasi. Dia sudah tidak sabar ingin menemui istri dan anaknya.

“Bang Faris,” panggil Yumna pelan saat melihat Faris mendekatinya.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, Faris mencium kening Yumna dan memeluknya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Yumna pun melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Faris. Senyum bahagia tampak di wajah mereka.

Sesaat kemudian, perawat menemui mereka dengan menggendong bayi yang dibedong kain motif biru muda dan menyerahkannya kepada Faris. Dengan lirih Faris menyuarakan azan di telinga kanan bayi yang diberinya nama Alfatih Farshad Amrullah.

                                                ***

       Yumna mendekati wanita muda yang masuk ke butik yang didirikannya setahun lalu. Wanita dengan gamis bahan Jersey warna Savannah Green dan menenteng tas Prada Salfiano putih berbentuk oval itu, terlihat cantik saat menyunggingkan senyumnya kepada Yumna.

          “Silakan, Kak. Butik kami sedang ada diskon akhir tahun,” sambut Yumna.

        “Terima kasih, Kak Yumna.” Si wanita muda tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepala.

       Yumna tidak merasa heran jika ada orang asing yang mengenalinya, sebab butik itu diberinya nama “Butik Yumna”, sama dengan namanya, Yumna berharap kesuksesan dan keberuntungan selalu menyertainya, seperti arti namanya: sukses dan beruntung. Yumna merasa beruntung menikah dengan Faris yang penyabar dan penuh perhatian.

Sejak Faris bekerja di perusahaan milik Pak Dharma, kariernya makin meningkat. Dari menjadi sopir, office boy, karyawan tetap, dan berkat kejujurannya kini dipercaya memimpin kantor cabang perusahaan. Semua kebutuhan Yumna dan Fatih, anak semata wayang mereka, dapat terpenuhi. Bahkan, ketika Yumna berkeinginan memiliki butik.

         Satu per satu pelanggan mulai berdatangan ke butik. Meski ramai, Yumna tetap sabar membantu mereka mencarikan busana yang cocok dan pas. Sejak butiknya berdiri, nyaris tak ada komplain tentang busana yang dijualnya.

        “Bundaaa. Assalamu’alaikum.” Fatih yang masih memakai seragam TK datang dan berlari ke arah Yumna.

      “Wa’alaikumsalam. Kesayangan Bunda sudah pulang,” sambut Yumna mengulurkan kedua tangan siap memeluk Fatih.

Sementara Pak Yatno, sopir pribadi yang menjemput Fatih di sekolah, kembali ke mobil yang diparkir di depan butik.

           “Ini putra Kak Yumna?” tanya wanita muda bergamis Savannah Green yang diam-diam memerhatikan mereka.

           “Betul. Fatih putra pertama kami,” jawab Yumna sembari tersenyum dan mengelus-elus rambut Fatih.

       Seketika si wanita muda itu mengernyitkan dahi lalu bergegas meninggalkan butik. Sambil berjalan menuju mobil, diambilnya ponsel dari tasnya dan menelepon seseorang.

          Sementara itu di ruang kerjanya, Faris sedang mengecek satu per satu berkas di dalam map di meja kerjanya. Di ruangan bercat dinding warna krem, sepasang kursi sofa, dan sebuah lukisan klasik Eropa itulah Faris menjadi pimpinan cabang perusahaan milik Pak Dharma. Tanpa dia sadari, seorang wanita telah berdiri di hadapannya.

     “Fara. Ada apa? Kok, kamu menangis?” Faris beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati Fara.

          “Kak Faris punya anak dari Kak Yumna? Jadi selama ini Kak Faris membohongi Fara?” ujar Fara terbata-bata. Matanya memerah menahan amarah.

        “Itu artinya bukan Rani, anak kita yang menjadi pewaris tunggal perusahaan Papa,” lanjut Fara. Napasnya mulai sesak.

            “Fara, dengarkan Kakak. Bukan maksud Kakak ---”

Belum selesai Faris bicara, Fara terhuyung dan jatuh tak sadarkan diri. Faris membopong tubuh Fara dan setengah berlari membawanya ke mobil.

       Fara masih tak sadarkan diri saat dibawa masuk ruang ICCU. Di tubuhnya dipasang kateter, infus, dan selang di hidung yang terhubung ke ventilator. Di samping tempat Fara terbaring, terdapat layar monitor untuk memonitor detak jantung.

       Faris mengelus-elus punggung tangan Fara, istri yang dinikahinya setahun lalu tanpa sepengetahuan Yumna.

          “Fara, bangun sayang. Kakak minta maaf.” Faris berbisik ke telinga Fara.

Namun, Fara belum juga bereaksi. Faris sangat tidak berdaya melihat kondisi Fara. Dia tak ingin kehilangan istrinya itu terlebih telah ada Rani dalam rumah tangga mereka. Faris galau, apa yang akan dikatakannya kepada Yumna saat tahu dia belum pulang? Dia tidak mungkin meninggalkan Fara sendiri.

       Tetiba nada dering ponsel Faris berbunyi. Faris bergegas keluar ruang ICCU dan menerima panggilan di ponselnya.

         “Abang di mana? Kok, belum pulang? Abang sehat ‘kan, Bang?” Terdengar kekhawatiran dari suara Yumna.

            Faris masih terdiam. Dia bingung, cemas, dan gelisah. Dia tak ingin menyakiti hati Yumna, tetapi dia menyadari suatu saat apa yang disembunyikannya pasti ketahuan juga. Inilah saatnya dia harus memberanikan diri berterus terang kepada Yumna, apa pun resikonya.

            “Bang Faris kenapa diam?”

            “Alhamdulillah, Abang sehat, Dik. Abang di rumah sakit. Bisakah Adik ke sini?”

            “Kok Abang di rumah sakit. Siapa yang sakit, Bang?”

            “Adik ke sini dulu, nanti Abang jelaskan.”

            “Baik, Bang.”

           Faris sengaja tidak mengaktifkan ponselnya setelah menerima telepon dari Yumna. Dia kembali masuk ruang ICCU dan melihat tangan kanan Fara sedikit bergerak. Faris cepat-cepat mendekat.

            “Fara, ini Kakak. Buka matamu, Sayang.”

          Fara membuka matanya dan melihat wajah Faris. Namun, dia pejamkan lagi. Napasnya masih tak beraturan.

            Sementara itu, Yumna berjalan di lorong panjang rumah sakit yang sepi menuju kamar nomor 11 seperti kata Faris. Sampai di depan pintu kamar, Yumna melihat dari kaca pintu, suaminya sedang duduk di samping wanita yang terbaring dengan mata terpejam. Yumna berusaha menenangkan hati. Ditepisnya rasa curiga yang menyelimuti pikirannya. Dia berusaha berdiri tegak dan memberanikan diri mengetuk pelan pintu kamar.

Faris menoleh ke arah pintu dan melihat Yumna berdiri di balik pintu. Dengan perasaan bersalah, Faris bergegas mendekatinya.

“Siapa dia, Bang?” tanya Yumna berusaha tegar.

“Adik, maafkan Abang.” Faris memegang kedua tangan Yumna dan mengajaknya duduk di kursi samping ruang ICCU.

Yumna masih terdiam dan menatap mata Faris yang airnya hendak tumpah. Tiba-tiba Faris duduk bersimpuh di hadapan Yumna dengan tangan memegang erat telapak tangan Yumna.

“Adik, maafkan Abang. Abang terpaksa menikahi Fara, anak Pak Dharma. Fara sangat mencintai Abang. Kata dokter pribadi keluarga Pak Dharma, usia Fara tidak akan lama karena penyakit kanker payudara yang dideritanya. Abang kasihan, Dik. Apalagi Pak Dharma berpesan kepada Abang sebelum beliau meninggal, agar Abang mau menikahi Fara.”

“Bang Faris. Abang menduakan Yumna?” Yumna menepis tangan Faris.

Wajahnya penuh amarah. Yumna kecewa. Hatinya hancur, bagai kaca yang tertembak ratusan peluru, hancur berkeping-keping. Tangis Yumna pecah seketika dan nyaris pingsan. Tetiba salah satu perawat memanggil Faris.

“Bapak Faris, istri Bapak telah sadar.”

Faris yang masih bersimpuh, berdiri dan mengajak Yumna masuk.

“Adik, ikut Abang masuk, akan Abang perkenalkan dengan Fara.”

Yumna diam. Luka hatinya terlalu dalam. Andai tak ada Fatih dalam kehidupan mereka, mungkin Yumna meninggalkan Faris saat itu juga. Dengan langkah gontai, Yumna berjalan di belakang Faris mendekati Fara. Saat melihat wajah Fara, Yumna kaget.

“Jadi, wanita berbaju savannah green yang datang ke butik, dia istri Bang Faris?” Yumna membatin dan menyeka air matanya.

“Kak, Yumna,” panggil Fara lirih. Tangannya digerakkan ingin bersalaman dengan Yumna.

Yumna pun mendekat.

“Maafkan Fara, Kak.”

Yumna membungkam. Dia belum bisa mengusir rasa kecewanya. Namun, melihat kondisi Fara yang kritis, terpaksa Yumna mengangguk.

“Maukah Kak Yumna mengasuh Rani, anak kami?” Fara memohon dengan sisa tenaga yang dia miliki

Yumna hanya bisa mengangguk. Air matanya belum berhenti menetes.

“Terima kasih, Kak.”

Mata Fara lalu terpejam. Beberapa saat kemudian detak jantungnya lemah dan makin melemah. Yumna dan Faris panik. Faris memanggil dokter, sedangkan Yumna membisikkan dua kalimat syahadat ke telinga kanan Fara.

Dokter dan perawat memasang alat kejut jantung hingga beberapa saat. Namun, nyawa Fara tidak tertolong. Faris memeluk tubuh Fara, mengecup kening dan kedua pipinya. Dia telah mengikhlaskan kepergian istri keduanya itu. Yumna mematung melihat adegan di depannya. Dia berusaha ikhlas menerima ujian dan cobaan dari Allah Swt. karena ketulusan cintanya kepada Faris. Yumna akan mengasuh Rani yang belum genap setahun, seperti anaknya sendiri.

 


 

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021