AKHIR SEBUAH TEMU
![]() |
| Dok. pribadi |
Aisyah mengurungkan niatnya
untuk pulang kampung. Sudah dua bulan dia tidak pulang. Rasa kangen kepada ayah
dan ibunya harus dia pendam, meski jarak dari kota tempatnya kuliah ke kotanya
hanya empat jam perjalanan. Perkuliahan semester lima ini sangat padat.
Banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan secepatnya,
Setelah mata kuliah Strategi
Pemasaran, Aisyah tidak segera pulang ke rumah indekosnya, dia menuju
perpustakaan. Tempat yang sangat disukainya. Desain ruangan ini terlihat mewah
sekaligus klasik. Dindingnya berwarna perpaduan putih dan krem, di pojok
ruangan menggantung tiga lampu yang indah dan menarik. Pada sisi kanan kiri terdapat
kursi sofa warna silver membuat Aisyah
betah berlama-lama di ruangan ini.
Aisyah berjalan melewati
rak-rak buku, mencari rak berlabel “Ekonomi” karena hanya di rak itulah
berbagai macam buku tentang strategi pemasaran tersimpan. Dia duduk di salah
satu kursi di sudut ruang perpustakaan, setelah menemukan buku yang dicarinya. Kalimat-kalimat
penting ditulisnya pada selembar kertas, dia tidak hiraukan telah berapa lama
duduk di kursi itu.
“Aisyah!”
Tiba-tiba terdengar seseorang
memanggilnya. Keasyikannya menulis terhenti seketika. Aisyah menoleh mencari
suara itu. Tika mahasiswi fakultas hukum. Dia teman SMA-nya. Tika gadis yang baik
dan smart.
“Hai Tik!” sapa Aisyah.
“Nonton yuk!, filmnya bagus
loh!” ajak Tika.
“Aku banyak tugas, Tik,
kapan-kapan aja ya,” sahut Aisyah.
“Sebentar saja kok, cuma dua
jam, nanti kutraktir deh!” rayu Tika.
“Tika sayang, aku harus
menyelesaikan tugasku secepatnya. Minggu depan saja, ya,” jelas Aisyah.
“Oke, Syah, Minggu depan
kita ke pantai, bagaimana?” Aisyah mengangguk tanda setuju. Kemudian Tika
berlalu meninggalkan ruang perpustakaan, sementara Aisyah masih asyik duduk di
ruangan ini membaca buku-bukunya.
Hari mulai terik, Aisyah
beranjak dari tempat duduknya dan mengembalikan buku yang dipinjamnya. Dia berjalan
menuruni anak tangga dari lantai dua dengan langkah cepat. Aisyah tidak dapat
menahan rasa laparnya lebih lama.
Udara
panas begitu menyengat, jalanan di sekitar kampus macet oleh motor mahasiswa
yang baru selesai kuliah. Di sepanjang jalan berdiri café-café, restoran,
warung dan toko busana yang menawarkan harga murah. Aisyah terus berjalan
menuju kos yang hanya berjarak 200 meter. Hembusan angin menyejukkan tubuh
Aisyah yang bermandi peluh.
Sebuah
mobil avanza putih tiba-tiba berhenti. Seorang lelaki turun dari mobil, memakai
seragam militer, berambut cepak, berjalan menuju ke arah Aisyah. Namun Aisyah
tidak menghiraukannya.
“Aisyah!”
Seketika Aisyah menghentikan
langkahnya. Lelaki itu menghampiri Aisyah yang masih mematung.
“Aisyah, kamu lupa? Aku Diki,
kita dulu satu sekolah.”
Aisyah mengingat-ingat nama
itu. Memandang sejenak lelaki yang berdiri di hadapannya. Diki? Diki yang dulu
sangat dibencinya? Diki yang mendapat julukan playboy? Dikki yang dulu
dikenalnya berambut gondrong, drumer dan suka menggoda teman perempuan termasuk
dirinya?
“Aisyah?” tanya Diki sambil
menatap wajah Aisyah.
“Eh, iya, aku ingat Dik. Bagaimana kabarmu?” jawab Aisyah gugup. Aisyah berusaha menyembunyikan sesuatu
yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar kencang.
“Aku baik-baik, Syah,” jawab Diki.
“Kamu gak kuliah, Dik?” tanya Aisyah lagi.
“Enggak syah, kebetulan aku
libur dua hari jadi aku sempatkan main-main kesini,” jelas Diki.
Kemudian mereka terdiam, saling bertatapan.
Entah apa yang ada dalam benak Diki, hingga dia menatap Aisyah begitu dalam.
Aisyah semakin salah tingkah.
“Kamu mau pulang, syah? Ayo
aku antar,” ajak Diki.
“Ga usah Dik. Aku jalan kaki
saja, sudah dekat kok,” jawab Aisyah berusaha tenang.
Diki terdiam sesaat, ada
sesuatu yang ingin dia ungkapkan, namun kedatangan sesorang mengurungkan niatnya.
“Aisyah, ayo aku bonceng!”
Dini teman satu kos mengajaknya pulang.
“Dik, aku pulang dulu ya. Kebetulan Dini teman satu kosku,” kata Aisyah.
“Iya, Syah,” jawab Diki
membiarkan Aisyah pergi. Diki belum beranjak dari tempatnya berdiri sampai
Aisyah menghilang dari pandangannya.
Aisyah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Merenungkan kejadian tadi. Diki sekarang begitu berubah. Tutur katanya lembut, tidak tampak lagi kesan playboy. Lalu mengapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang saat bertemu lelaki itu?
"Ah, mana mungkin aku jatuh cinta pada Diki?" gumamnya.
Kegalauan Aisyah terhenti
ketika ponselnya berbunyi. Sebuah chat di whatsapp dari nomor tidak dikenal.
Aisyah,
ini nomorku, Diki. Aku meminta nomormu ke salah satu teman kita yang sekampus
denganmu. Hari ini, mendadak aku harus balik lagi ke kampus. Sebenarnya, tadi
aku ingin mengungkapkan perasaan yang sudah aku pendam sejak kita masih SMP,
tapi kamu keburu pergi.
Aisyah,
kamu tidak hanya cantik, hatimu baik, kamu tulus, terlebih kamu gadis pendiam.
Kamu gadis yang nyaris sempurna. Kita dulu satu kelas.
Pertama
kali melihatmu, jantungku berdebar, saat itu aku tidak tahu perasaan apa? Yang
pasti setiap pagi aku selalu terburu-buru berangkat sekolah. Ingin segera
melihatmu. Aku selalu mencuri pandang dari bangku paling belakang. Semakin lama
aku tersadar, aku telah jatuh cinta. Perasaan itu aku simpan dengan rapi di
sudut hatiku sampai sekarang.
Tentang
Nindy, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa. Aku hanya terpaksa
menerima cintanya, karena ayah kami satu perusahaan. Ayah Nindy memintaku agar
aku menerima Nindy, karena Nindy adalah anak satu-satunya yang sangat beliau
sayangi.
Sekarang
hubungan kami telah berakhir, tidak ada kecocokan diantara kami. Bahkan
diam-diam Nindy telah menjalin hubungan dengan seseorang di Bali.
Aisyah,
beri aku kesempatan. Aku ingin berbagi suka dan duka bersamamu.
Aisyah
tidak segera membalas chat dari Diki.
Diletakkannya ponsel itu di meja belajarnya. Aisyah masih galau tentang perasaannya.
Dia belum pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kini cinta sedang menghampirinya.
Cinta memang datang selalu tiba-tiba bahkan saat kita tak berharap
kehadirannya.
Dua hari kemudian, Aisyah
membalas chat dari Diki. Berharap Diki
serius dengan ucapannya. Menjadi lelaki yang setia meski menjalin hubungan
jarak jauh.
Tiga
bulan lamanya Aisyah dan Diki menjalin hubungan long distance relationship (LDR).
Komunikasi mereka lakukan hanya melalui telepon dan chat di whatsapp. Hampir
setiap hari Diki menelpon menanyakan keadaan Aisyah. Bertanya aktivitasnya di
kampus, berbagi cerita. Namun, Aisyah tidak pernah bosan mendengar suaranya.
Ruang di otaknya tidak pernah penuh menyimpan setiap kata yang Diki ucapkan.
Meski LDR, Aisyah sangat
mempercayainya, karena dia yakin Diki sudah berubah. Bukan playboy lagi.
Menjalin hubungan LDR adalah sebuah tantangan. Tantangan
untuk menguji kesabaran dan kesetiaan. Meski banyak hambatan, tapi hambatan itu
membuat kisah cinta Diki dan Aisyah menjadi istimewa dan berkesan.
Hari ini kesabaran Aisyah diuji. Tiga hari Diki tidak memberi kabar. Chat
yang dia kirim juga belum dibalas. Aisyah mulai gelisah. Pandangannya tidak
beralih sedikitpun dari ponselnya. Dia
mengirim pesan lagi untuk kesekian kali. Masih tidak ada balasan meski
sudah centang biru. Kegelisahannya membuat dia tidak konsentrasi menerima perkuliahan
yang sangat padat.
Tanpa terasa hari menjelang
sore. Hujan mulai menaungi kampus. Aisyah ingin bergegas pulang melepas lelah
setelah seharian mengikuti perkuliahan. Ingin rasanya berlari menerobos hujan.
Namun Aisyah mengurungkan niatnya. Dia berdiri di teras kampus, menunggu hujan
reda. Aisyah membuka ponselnya untuk
menghilangkan jenuh. Ada beberapa chat
WhatsApp masuk. Dia buka chat
dari Rully, adik kelas ketika SMA. Mereka sangat akrab meski beda usia dua
tahun.
Assalamu’alaikum
mbak Aisyah. Bagaimana kabarnya mbak? Lama sekali kita gak ngobrol seperti
dulu. Mbak Aisyah pasti sangat sibuk.
Mbak,
aku dengar mbak Aisyah menjalin hubungan dengan mas Diki? Apa betul, mbak?
Apakah mbak tidak tahu, mas Diki sudah bertunangan dengan mbak Nindy? Malam
minggu kemarin tanpa sengaja aku melihat mereka berdua di sebuah cafe.
Aisyah
tidak melanjutkan membaca chat dari
Rully. Kalimat terakhir begitu menyesakkan dada. Dihapusnya chat dari adik kelasnya. Ingin rasanya
kalimat itu dapat buyar dan tidak menggerogoti benaknya. Aisyah berusaha tidak
mempercayainya. Ia masih berdiri di teras kampus, meski kakinya seolah tak mampu
menopang tubuhnya yang penat.
Hujan mulai reda. Aisyah meninggalkan
kampus. Berjalan menyusuri jalanan kampus, sambil sesekali menerima sapaan
teman-teman yang memberikan lambaian salam buatnya. Hingga tanpa disadari ponselnya berbunyi, bergegas Aisyah
membukanya. Nomor yang tidak ia kenal. Aisyah menghentikan langkahnya. Dia
berdiri di bawah rimbunan pohon dan menerima telepon dari nomor asing itu.
“Aisyah, aku Diki. Ini nomor
baruku. Minggu depan aku pulang.”
Aisyah terdiam. Tidak mampu
menjawab. Chat dari Rully masih terngiang
di benaknya. Tetiba buliran air membasahi pipinya.
“Hallo? Aisyah. Kamu
mendengar suaraku, kan?” tanya Diki.
“Iya, Dik,” jawab Aisyah
lirih menahan isak.
“Kamu sakit, Syah?” tanya
Diki. Suara Aisyah yang nyaris tak terdengar.
“Dik, aku ingin tanya
sesuatu,” tanya Aisyah terbata-bata.
“Ada apa, Syah? Kamu
kenapa?” tanya Diki penasaran.
“Benarkah kamu masih
menjalin hubungan dengan Nindy?” tanya Aisyah lagi.
Kali ini Diki terdiam. Ia
belum mampu berterus terang. Ia masih ingin menjalin hubungan dengan Aisyah,
tapi tidak ingin pula melukai hatinya.
Di tengah kegalauan hati,
suara Aisyah kembali terdengar.
“Dik, apapun jawabanmu, aku
siap mendengarnya,” imbuh Aisyah.
“Iya, Syah,” jawab Diki
dengan suara parau.
“Maafkan aku,” pinta Diki
memelas.
Aisyah tak mampu
berkata-kata mendengar pengakuan Diki. Ia kecewa dan marah. Saat ia akan
menutup ponselnya, kembali terdengar
suara Diki.
“Aku terpaksa berbohong,
Syah. Sejak dulu aku ingin menjalin kisah bersamamu,” jelas Diki.
Belum selesai Diki bicara,
bergegas Aisyah menutup ponselnya.
Pengakuan Diki membuat hatinya remuk. Deraian air mata membasahi pipinya. Ingin
berteriak menumpahkan segala kecewa, namun mulutnya terbungkam. Tertatih Aisyah
berjalan menuju kosannya. Memasuki kamar, merebahkan tubuh yang mulai lelah dan
hati luka.
Cinta sejati telah ternodai
oleh kebohongan. Tidak kuasa Aisyah melanjutkan hubungan. Semua harapan dan
impiannya tidak akan pernah terwujud. Aisyah akan mengubur dalam-dalam
kenangannya bersama Diki. Mencoret namanya di relung hati. Mungkin Diki bukan
yang terbaik untuknya.
Luka itu membuat Aisyah
kembali seperti dulu. pendiam dan rendah diri. Hatinya kembali keras, dingin
dan tidak peduli. Aisyah tidak dapat lagi membuka hatinya untuk lelaki lain.
Entah sampai kapan.
Bondowoso,
01 September 2020

Ayooo bangkit aisah
BalasHapusBeruntung Aisyah segera menyadari...Jika Diki bukan yg terbaik untuknya...he he..Diki oh Diki memory luka kala itu....Jempol dah 😊😊😊
BalasHapusKira kira Aisyah mau gak ya jadi istri kedua saya ... Wkwkwkwkwk
BalasHapus