KERIPIK TEMPE, CAMILAN GURIH DAN LEZAT
Salah satu makanan favorit
khas Indonesia adalah tempe. Makanan yang terbuat dari kedelai ini bisa
diproduksi di hampir seluruh pelosok daerah. Tempe merupakan bahan makanan yang
dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Harganya pun sangat murah dan
terjangkau di kalangan masyarakat.
Tempe dapat diolah menjadi aneka
masakan dan camilan, seperti tempe bacem, oseng tempe, dan sambal goreng tempe.
Bagi yang suka ngemil, tempe dapat
diolah menjadi makanan ringan berupa kripik tempe.
Di Bondowoso, salah satu
sentra industri tempe berada di Desa Kejawan Kecamatan Grujugan. Hampir di
setiap rumah warga memproduksi tempe. Mereka memasarkan sendiri ke pasar-pasar
di kota bahkan dari rumah ke rumah. Harga satu tempe berkisar antara dua ribu
hingga lima ribu rupiah. Selain itu beberapa warga mengolah tempe menjadi
keripik tempe.
Pada Rabu lalu saya
berkesempatan mengunjungi salah satu industri rumah tangga kripik tempe “WAHYU”
yang terletak di dekat rumah salah satu siswa, sekaligus melihat proses
pembuatannya. Di rumah sederhana ini, Bu Wahyu, pemiliknya, hanya dibantu salah
satu kerabat dalam menjalankan usaha pembuatan keripik tempe.
Proses pembuatan keripik
tempe masih menggunakan cara sederhana. Bahan baku utamanya adalah tempe,
tepung tapioka dan rempah-rempah sebagai bumbunya. Tempe yang digunakan harus
terbuat dari kedelai yang berkualitas bagus agar pada saat fermentasi rasanya
tidak pahit. Kedelai yang bagus akan memudahkan pengirisan tempe menjadi
lembaran keripik tipis.
Cara pengolahan keripik
tempe ini sangat mudah. Mula-mula tempe yang belum matang dicampur dengan
tepung tapioka sedikit demi sedikit. Kemudian diaduk rata. Setelah tercampur
rata, dibungkus plastik berbentuk memanjang dan ditusuk-tusuk agar jamur tempe
mendapat udara dan dapat tumbuh dengan baik. Diamkan selama dua hari. Setelah
tempe masak/mengeras, diiris tipis-tipis kemudian diberi
bumbu lalu digoreng hingga memiliki tekstur yang renyah. Proses terakhir,
keripik dimasukkan dalam kemasan plastik yang telah berlabel. Keripik tempe
“WAHYU” ini memiliki cita rasa yang gurih dan lezat.
Dalam sehari Bu Wahyu mampu
mengolah 50-70 bungkus keripik tempe. Lalu menitipkan produknya di rumah makan,
minimarket dan beberapa toko oleh-oleh yang bertebaran di Jember. Sedangkan di
Bondowoso
Bu Wahyu berpendapat, dengan cara dititipkan
tersebut terbukti efektif. Terlebih saat akhir pekan atau hari libur, tempat
oleh-oleh dan rumah makan, permintaannya justru lebih tinggi dibanding
hari-hari biasa.
Produk keripik tempe “WAHYU”
telah terdaftar di Dinas Kesehatan Bondowoso. Ini terbukti dengan
dikeluarkannya izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan label halal dari
Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dinilai akan mendongkrak omset penjualan
produk ini.
Bondowoso, 30 Agustus 2020.



Weeee mantapppp.... Kirim via JNE dongggg
BalasHapus