AKHIR SEBUAH TEMU

Author
Published September 01, 2020
AKHIR SEBUAH TEMU



Dok. pribadi

 

Aisyah mengurungkan niatnya untuk pulang kampung. Sudah dua bulan dia tidak pulang. Rasa kangen kepada ayah dan ibunya harus dia pendam, meski jarak dari kota tempatnya kuliah ke kotanya hanya empat jam perjalanan. Perkuliahan semester lima ini sangat padat. Banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan secepatnya,  

Setelah mata kuliah Strategi Pemasaran, Aisyah tidak segera pulang ke rumah indekosnya, dia menuju perpustakaan. Tempat yang sangat disukainya. Desain ruangan ini terlihat mewah sekaligus klasik. Dindingnya berwarna perpaduan putih dan krem, di pojok ruangan menggantung tiga lampu yang indah dan menarik. Pada sisi kanan kiri terdapat kursi sofa warna silver membuat Aisyah betah berlama-lama di ruangan ini.

Aisyah berjalan melewati rak-rak buku, mencari rak berlabel “Ekonomi” karena hanya di rak itulah berbagai macam buku tentang strategi pemasaran tersimpan. Dia duduk di salah satu kursi di sudut ruang perpustakaan, setelah menemukan buku yang dicarinya. Kalimat-kalimat penting ditulisnya pada selembar kertas, dia tidak hiraukan telah berapa lama duduk di kursi itu.

“Aisyah!”

Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. Keasyikannya menulis terhenti seketika. Aisyah menoleh mencari suara itu. Tika mahasiswi fakultas hukum. Dia teman SMA-nya. Tika gadis yang baik dan smart.

“Hai Tik!” sapa Aisyah.

“Nonton yuk!, filmnya bagus loh!” ajak Tika.

“Aku banyak tugas, Tik, kapan-kapan aja ya,” sahut Aisyah.

“Sebentar saja kok, cuma dua jam, nanti kutraktir deh!” rayu Tika.

“Tika sayang, aku harus menyelesaikan tugasku secepatnya. Minggu depan saja, ya,” jelas Aisyah.

“Oke, Syah, Minggu depan kita ke pantai, bagaimana?” Aisyah mengangguk tanda setuju. Kemudian Tika berlalu meninggalkan ruang perpustakaan, sementara Aisyah masih asyik duduk di ruangan ini membaca buku-bukunya.

Hari mulai terik, Aisyah beranjak dari tempat duduknya dan mengembalikan buku yang dipinjamnya. Dia berjalan menuruni anak tangga dari lantai dua dengan langkah cepat. Aisyah tidak dapat menahan rasa laparnya lebih lama.

            Udara panas begitu menyengat, jalanan di sekitar kampus macet oleh motor mahasiswa yang baru selesai kuliah. Di sepanjang jalan berdiri café-café, restoran, warung dan toko busana yang menawarkan harga murah. Aisyah terus berjalan menuju kos yang hanya berjarak 200 meter. Hembusan angin menyejukkan tubuh Aisyah yang bermandi peluh. 

            Sebuah mobil avanza putih tiba-tiba berhenti. Seorang lelaki turun dari mobil, memakai seragam militer, berambut cepak, berjalan menuju ke arah Aisyah. Namun Aisyah tidak menghiraukannya.

“Aisyah!” 

Seketika Aisyah menghentikan langkahnya. Lelaki itu menghampiri Aisyah yang masih mematung.

“Aisyah, kamu lupa? Aku Diki, kita dulu satu sekolah.”

Aisyah mengingat-ingat nama itu. Memandang sejenak lelaki yang berdiri di hadapannya. Diki? Diki yang dulu sangat dibencinya? Diki yang mendapat julukan playboy? Dikki yang dulu dikenalnya berambut gondrong, drumer dan suka menggoda teman perempuan termasuk dirinya?

“Aisyah?” tanya Diki sambil menatap wajah Aisyah.

“Eh, iya, aku ingat Dik. Bagaimana kabarmu?” jawab Aisyah gugup. Aisyah berusaha menyembunyikan sesuatu yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar kencang.

“Aku baik-baik, Syah,”  jawab Diki.

“Kamu gak kuliah, Dik?” tanya Aisyah lagi.

“Enggak syah, kebetulan aku libur dua hari jadi aku sempatkan main-main kesini,” jelas Diki.

Kemudian mereka terdiam, saling bertatapan. Entah apa yang ada dalam benak Diki, hingga dia menatap Aisyah begitu dalam. Aisyah semakin salah tingkah.

“Kamu mau pulang, syah? Ayo aku antar,” ajak Diki.

“Ga usah Dik. Aku jalan kaki saja, sudah dekat kok,” jawab Aisyah berusaha tenang.

Diki terdiam sesaat, ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan, namun kedatangan sesorang mengurungkan niatnya.

“Aisyah, ayo aku bonceng!” Dini teman satu kos mengajaknya pulang.

“Dik, aku pulang dulu ya. Kebetulan Dini teman satu kosku,” kata Aisyah.

“Iya, Syah,” jawab Diki membiarkan Aisyah pergi. Diki belum beranjak dari tempatnya berdiri sampai Aisyah menghilang dari pandangannya.

Aisyah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Merenungkan kejadian tadi. Diki sekarang begitu berubah. Tutur katanya lembut, tidak tampak lagi kesan playboy. Lalu mengapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang saat bertemu lelaki itu? 

"Ah, mana mungkin aku jatuh cinta pada Diki?" gumamnya.

Kegalauan Aisyah terhenti ketika ponselnya berbunyi. Sebuah chat di whatsapp dari nomor tidak dikenal.

Aisyah, ini nomorku, Diki. Aku meminta nomormu ke salah satu teman kita yang sekampus denganmu. Hari ini, mendadak aku harus balik lagi ke kampus. Sebenarnya, tadi aku ingin mengungkapkan perasaan yang sudah aku pendam sejak kita masih SMP, tapi kamu keburu pergi.

Aisyah, kamu tidak hanya cantik, hatimu baik, kamu tulus, terlebih kamu gadis pendiam. Kamu gadis yang nyaris sempurna. Kita dulu satu kelas.

Pertama kali melihatmu, jantungku berdebar, saat itu aku tidak tahu perasaan apa? Yang pasti setiap pagi aku selalu terburu-buru berangkat sekolah. Ingin segera melihatmu. Aku selalu mencuri pandang dari bangku paling belakang. Semakin lama aku tersadar, aku telah jatuh cinta. Perasaan itu aku simpan dengan rapi di sudut hatiku sampai sekarang.

Tentang Nindy, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa. Aku hanya terpaksa menerima cintanya, karena ayah kami satu perusahaan. Ayah Nindy memintaku agar aku menerima Nindy, karena Nindy adalah anak satu-satunya yang sangat beliau sayangi.

Sekarang hubungan kami telah berakhir, tidak ada kecocokan diantara kami. Bahkan diam-diam Nindy telah menjalin hubungan dengan seseorang di Bali.

Aisyah, beri aku kesempatan. Aku ingin berbagi suka dan duka bersamamu.

            Aisyah tidak segera membalas chat dari Diki. Diletakkannya ponsel itu di meja belajarnya. Aisyah masih galau tentang perasaannya. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kini cinta sedang menghampirinya. Cinta memang datang selalu tiba-tiba bahkan saat kita tak berharap kehadirannya.

Dua hari kemudian, Aisyah membalas chat dari Diki. Berharap Diki serius dengan ucapannya. Menjadi lelaki yang setia meski menjalin hubungan jarak jauh.

            Tiga bulan lamanya Aisyah dan Diki menjalin hubungan long distance relationship (LDR). Komunikasi mereka lakukan hanya melalui telepon dan chat di whatsapp. Hampir setiap hari Diki menelpon menanyakan keadaan Aisyah. Bertanya aktivitasnya di kampus, berbagi cerita. Namun, Aisyah tidak pernah bosan mendengar suaranya. Ruang di otaknya tidak pernah penuh menyimpan setiap kata yang Diki ucapkan. Meski LDR, Aisyah sangat mempercayainya, karena dia yakin Diki sudah berubah. Bukan playboy lagi.

Menjalin hubungan LDR adalah sebuah tantangan. Tantangan untuk menguji kesabaran dan kesetiaan. Meski banyak hambatan, tapi hambatan itu membuat kisah cinta Diki dan Aisyah menjadi istimewa dan berkesan.

Hari ini kesabaran Aisyah diuji. Tiga hari Diki tidak memberi kabar. Chat yang dia kirim juga belum dibalas. Aisyah mulai gelisah. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari ponselnya. Dia mengirim pesan lagi untuk kesekian kali. Masih tidak ada balasan meski sudah centang biru. Kegelisahannya membuat dia tidak konsentrasi menerima perkuliahan yang sangat padat.

Tanpa terasa hari menjelang sore. Hujan mulai menaungi kampus. Aisyah ingin bergegas pulang melepas lelah setelah seharian mengikuti perkuliahan. Ingin rasanya berlari menerobos hujan. Namun Aisyah mengurungkan niatnya. Dia berdiri di teras kampus, menunggu hujan reda. Aisyah membuka ponselnya untuk menghilangkan jenuh. Ada beberapa chat WhatsApp masuk. Dia buka chat dari Rully, adik kelas ketika SMA. Mereka sangat akrab meski beda usia dua tahun.

Assalamu’alaikum mbak Aisyah. Bagaimana kabarnya mbak? Lama sekali kita gak ngobrol seperti dulu. Mbak Aisyah pasti sangat sibuk.

Mbak, aku dengar mbak Aisyah menjalin hubungan dengan mas Diki? Apa betul, mbak? Apakah mbak tidak tahu, mas Diki sudah bertunangan dengan mbak Nindy? Malam minggu kemarin tanpa sengaja aku melihat mereka berdua di sebuah cafe.

            Aisyah tidak melanjutkan membaca chat dari Rully. Kalimat terakhir begitu menyesakkan dada. Dihapusnya chat dari adik kelasnya. Ingin rasanya kalimat itu dapat buyar dan tidak menggerogoti benaknya. Aisyah berusaha tidak mempercayainya. Ia masih berdiri di teras kampus, meski kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya yang penat.             

Hujan mulai reda. Aisyah meninggalkan kampus. Berjalan menyusuri jalanan kampus, sambil sesekali menerima sapaan teman-teman yang memberikan lambaian salam buatnya. Hingga tanpa disadari ponselnya berbunyi, bergegas Aisyah membukanya. Nomor yang tidak ia kenal. Aisyah menghentikan langkahnya. Dia berdiri di bawah rimbunan pohon dan menerima telepon dari nomor asing itu.

“Aisyah, aku Diki. Ini nomor baruku. Minggu depan aku pulang.”

Aisyah terdiam. Tidak mampu menjawab. Chat dari Rully masih terngiang di benaknya. Tetiba buliran air membasahi pipinya.

“Hallo? Aisyah. Kamu mendengar suaraku, kan?” tanya Diki.

“Iya, Dik,” jawab Aisyah lirih menahan isak.

“Kamu sakit, Syah?” tanya Diki. Suara Aisyah yang nyaris tak terdengar.

“Dik, aku ingin tanya sesuatu,” tanya Aisyah terbata-bata.

“Ada apa, Syah? Kamu kenapa?” tanya Diki penasaran.

“Benarkah kamu masih menjalin hubungan dengan Nindy?” tanya Aisyah lagi.

Kali ini Diki terdiam. Ia belum mampu berterus terang. Ia masih ingin menjalin hubungan dengan Aisyah, tapi tidak ingin pula melukai hatinya.

Di tengah kegalauan hati, suara Aisyah kembali terdengar.

“Dik, apapun jawabanmu, aku siap mendengarnya,” imbuh Aisyah.

“Iya, Syah,” jawab Diki dengan suara parau.

“Maafkan aku,” pinta Diki memelas.

Aisyah tak mampu berkata-kata mendengar pengakuan Diki. Ia kecewa dan marah. Saat ia akan menutup ponselnya, kembali terdengar suara Diki.

“Aku terpaksa berbohong, Syah. Sejak dulu aku ingin menjalin kisah bersamamu,” jelas Diki.

Belum selesai Diki bicara, bergegas Aisyah menutup ponselnya. Pengakuan Diki membuat hatinya remuk. Deraian air mata membasahi pipinya. Ingin berteriak menumpahkan segala kecewa, namun mulutnya terbungkam. Tertatih Aisyah berjalan menuju kosannya. Memasuki kamar, merebahkan tubuh yang mulai lelah dan hati luka.

Cinta sejati telah ternodai oleh kebohongan. Tidak kuasa Aisyah melanjutkan hubungan. Semua harapan dan impiannya tidak akan pernah terwujud. Aisyah akan mengubur dalam-dalam kenangannya bersama Diki. Mencoret namanya di relung hati. Mungkin Diki bukan yang terbaik untuknya.

Luka itu membuat Aisyah kembali seperti dulu. pendiam dan rendah diri. Hatinya kembali keras, dingin dan tidak peduli. Aisyah tidak dapat lagi membuka hatinya untuk lelaki lain. Entah sampai kapan.

 

 

Bondowoso, 01 September 2020

3 komentar

  1. Beruntung Aisyah segera menyadari...Jika Diki bukan yg terbaik untuknya...he he..Diki oh Diki memory luka kala itu....Jempol dah 😊😊😊

    BalasHapus
  2. Kira kira Aisyah mau gak ya jadi istri kedua saya ... Wkwkwkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021