BJBR PENUH KENANGAN
Menjelang akhir tahun ajaran,
seperti biasa siswa kelas 6 menginginkan diadakan rekreasi. Biaya mulai dari
uang bensin, sewa bis, tiket masuk dan makan selama perjalan, semua ditanggung
siswa dan guru. Siswa dibiasakan menabung setiap hari minimal dua ribu rupiah
sejak mereka memasuki tahun ajaran baru. Uang tabungan itu bisa diambil
sewaktu-waktu yang digunakan untuk membeli buku, alat tulis dan sisanya untuk
biaya rekreasi.
Di ruang guru saat jam
istirahat, kami berenam berembuk menentukan lokasi. Jatim Park Batu, BJBR
Probolinggo, Pantai Pasir Putih Sitbondo, Pantai Papuma dan Dira Park di
Jember, adalah usulan para guru. Kami membahas tempat itu satu persatu.
Jatim Park yang bertempat di
Batu terlalu jauh untuk dikunjungi. Disamping biaya sewa bis mahal, tempat
tersebut sangat menyita waktu. Perjalanan dari Bondowoso ke Batu memakan waktu
kurang lebih lima jam, tentu cukup melelahkan terutama bagi mereka yang tidak
terbiasa melakukan perjalanan jauh. Apalagi tidak terbiasa naik bis, pasti akan
mabuk perjalanan.
Bee Jay Bakau Resort (BJBR)
terletak di Probolinggo. Saya baru mendengar nama ini. Kabarnya tempat wisata
ini sangat bagus. Berupa hutan bakau yang sangat luas dan pantai yang indah.
Selain itu ada kolam renang bagi anak-anak dan dewasa. Area permainan juga
tersedia. Tempat ini tidak terlalu jauh,
hanya butuh waktu dua jam untuk sampai ke sana.
Pantai Pasir Putih di
Situbondo. Mendengar nama ini, serempak guru-guru menyatakan kebosanannya.
Bosan karena hampir setiap tahun mereka ke tempat wisata ini, hanya melihat
pantai saja. Tidak ada tempat bermain untuk anak-anak. Saya pun tidak setuju,
disamping tidak suka pantai, membayangkan cuaca panasnya saja kepala saya akan
terasa pusing. Apalagi jika ke pantainya pas tanggal tua, he he.
Pantai Papuma terletak di
kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Nama Papuma sebenarnya adalah sebuah
singkatan dari Pasir Putih Malikan. Saya pernah sekali mengunjungi tempat ini. Pantai
ini sangat menakjubkan, terdapat batu dengan bentuk yang unik dan menarik berserakan
di hamparan pantai. Untuk menuju ke pantai ini, pengunjung akan melewati hutan
jati dan jalan menanjak hingga hampir 45°. Tentu akan menyulitkan bagi bis
untuk memasuki lokasi ini, apalagi pengunjung harus jalan kaki sejauh 500 meter
dari pintu gerbang menuju pantai.
Dira Park terletak di
Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. Tidak banyak yang saya tahu tentang tempat
wisata ini. Beberapa Guru pernah mengunjunginya ketika mengantar murid-murid RA
rekreasi menjelang akhir tahun ajaran. Disana hanya terdapat kolam renang dan
kebun binatang yang tidak begitu luas. Namun jalan yang menanjak menyuguhkan
pemandangan yang sangat indah. Begitu gambaran yang diceritakan salah satu
Guru.
Dari berbagai macam
pertimbangan akhinya kami sepakat untuk mengunjungi BJBR di Probolinggo.
Pembicaraan beralih ke masalah alat transportasi yang digunakan. Jika menyewa
bis, sangat tidak mungkin karena jarak yang tidak terlalu jauh dan biaya sewa
tidak sesuai dengan budget yang
tersedia. Akhirnya disepakati menggunakan dua mobil. Satu mobil sudah tersedia
milik Kepala Sekolah untuk siswa. Satu mobil milik saya untuk rombongan guru.
Saya menjadi penumpang sekaligus sopirnya.
Kemudian kami berembuk
tentang bekal untuk makan selama di perjalanan. Sudah menjadi tradisi di
sekolah jika rekreasi, kami akan bagi-bagi tugas tentang bekal yang akan
dibawa. Saya menulis menunya; Bu Uswah membawa sambal goreng teri dan ikan
asin, Bu Ita membawa nasi jagung dan air mineral, Bu Islamah membawa lop-kolop, tahu dan tempe, Bu Riski
membawa telor dan dadar jagung, Bu Dina membawa krupuk dan kertas lilin,
sementara saya yang memimpin doa sebelum makan, he he.
Malam sebelum keberangkatan,
saya menyiapkan segala atribut pantai, mulai dari kacamata hitam, topi, payung
dan sunblock. Maklumlah, saya ‘kan
tidak suka pantai jadi harus antisipasi agar tidak pusing dan kulit menjadi
hitam karena kepanasan.
Tepat pukul enam pagi saya
tiba di sekolah. Murid-murid sudah berkumpul dengan membawa minuman dan makanan
ringan. Wajah mereka terlihat sumringah
karena hanya memiliki kesempatan sekali dalam setahun berekreasi.
Pukul tujuh kurang lima menit, kami berangkat dengan menaiki dua mobil. Sepanjang perjalanan yang dilalui tidak begitu ramai. Sehingga perjalanan lancar tanpa macet seperti biasanya. Dua jam kemudian kami sampai di BJBR yang terletak di Pelabuhan Mayangan.
Semua atribut saya pakai, kacamata hitam, payung dan topi. Murid-murid hanya tersenyum melihat ulah saya. Ah, cuek saja. Begitu memasuki area wisata ini, pengunjung disuguhi pemandangan hutan mangrove yang eksotis, bersih, terawat dan menyejukkan mata. Terlihat pula pantai pasir buatan nan indah. Tempat ini juga dilengkapi berbagai wahana bagi anak-anak. Selain itu, tersedia pula Gedung Serba Guna, Resto dan Kafe Tenda. Pengunjung juga dapat menyusuri Lorong Seribu Payung. Satu lagi yang membuat saya tertarik adalah musholla, tidak hanya sekadar tempat ibadah biasa, musholla ini dibangun di tengah pantai dan arsitekturnya memiliki nilai seni yang tinggi.
Di tengah menikmati
pemandangan pantai dan semilir angin yang menyegarkan, saya bersama Bu Uswah
menyempatkan untuk berfoto. Sayang ‘kan kalau momen ini tidak diabadikan? Ada satu
tempat yang membuat saya tertarik, yaitu jembatan kayu kelapa. Jembatan ini
tidak hanya dibangun untuk sarana rekreasi, namun juga agar kita dapat
mengamati fenomena pasang surut pantai. Jalur yang terbuat dari kayu ini
mungkin terlihat biasa, namun jika mengambil foto dengan angle yang tepat, hasilnya akan keren.
Selagi asyik mengambil foto
di jembatan kayu itulah, tiba-tiba datang angin dengan hembusan sangat kencang.
Kuatnya hembusan angin membuat payung saya terbalik seketika. Tak ayal, saya
jadi bahan tertawa pengunjung yang melihatnya, tidak terkecuali Bu Uswah. Bukannya
menolong, saya malah ditertawai. Akhirnya saya tertawa juga, dong.
Tidak hanya sampai disitu, sejumlah
spot foto cantik telah siap menyambut kami, seperti tulisan warna warni BJBR,
Gembok Cinta, Miniatur Kapal Phinisi dan Bola Dunia.
Kebersamaan ini tidak akan pernah saya lupakan, apalagi kisah payung pelangi yang menyimpan kenangan. Semoga suatu saat kami punya kesempatan mengunjunginya lagi.
Bondowoso, 23 Agustus 2020.





Bersahabat dg alam asik bunda...
BalasHapusMbok Yao ngajak² he he
He he ..
HapusKenangan plesiran yg tak bs bisa diulang tp tak bs dilupakan...mantabz
BalasHapusAyok Bu, kita berdua saja wkwk
HapusMungkin momen payung terbalik, bikin lekat dihati...hehehe
BalasHapus