BJBR PENUH KENANGAN

Author
Published Agustus 23, 2020
BJBR PENUH KENANGAN



Menjelang akhir tahun ajaran, seperti biasa siswa kelas 6 menginginkan diadakan rekreasi. Biaya mulai dari uang bensin, sewa bis, tiket masuk dan makan selama perjalan, semua ditanggung siswa dan guru. Siswa dibiasakan menabung setiap hari minimal dua ribu rupiah sejak mereka memasuki tahun ajaran baru. Uang tabungan itu bisa diambil sewaktu-waktu yang digunakan untuk membeli buku, alat tulis dan sisanya untuk biaya rekreasi.

Di ruang guru saat jam istirahat, kami berenam berembuk menentukan lokasi. Jatim Park Batu, BJBR Probolinggo, Pantai Pasir Putih Sitbondo, Pantai Papuma dan Dira Park di Jember, adalah usulan para guru. Kami membahas tempat itu satu persatu.

Jatim Park yang bertempat di Batu terlalu jauh untuk dikunjungi. Disamping biaya sewa bis mahal, tempat tersebut sangat menyita waktu. Perjalanan dari Bondowoso ke Batu memakan waktu kurang lebih lima jam, tentu cukup melelahkan terutama bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh. Apalagi tidak terbiasa naik bis, pasti akan mabuk perjalanan.

Bee Jay Bakau Resort (BJBR) terletak di Probolinggo. Saya baru mendengar nama ini. Kabarnya tempat wisata ini sangat bagus. Berupa hutan bakau yang sangat luas dan pantai yang indah. Selain itu ada kolam renang bagi anak-anak dan dewasa. Area permainan juga tersedia.  Tempat ini tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu dua jam untuk sampai ke sana.

Pantai Pasir Putih di Situbondo. Mendengar nama ini, serempak guru-guru menyatakan kebosanannya. Bosan karena hampir setiap tahun mereka ke tempat wisata ini, hanya melihat pantai saja. Tidak ada tempat bermain untuk anak-anak. Saya pun tidak setuju, disamping tidak suka pantai, membayangkan cuaca panasnya saja kepala saya akan terasa pusing. Apalagi jika ke pantainya pas tanggal tua, he he.

Pantai Papuma terletak di kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Nama Papuma sebenarnya adalah sebuah singkatan dari Pasir Putih Malikan. Saya pernah sekali mengunjungi tempat ini. Pantai ini sangat menakjubkan, terdapat batu dengan bentuk yang unik dan menarik berserakan di hamparan pantai. Untuk menuju ke pantai ini, pengunjung akan melewati hutan jati dan jalan menanjak hingga hampir 45°. Tentu akan menyulitkan bagi bis untuk memasuki lokasi ini, apalagi pengunjung harus jalan kaki sejauh 500 meter dari pintu gerbang menuju pantai.

Dira Park terletak di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. Tidak banyak yang saya tahu tentang tempat wisata ini. Beberapa Guru pernah mengunjunginya ketika mengantar murid-murid RA rekreasi menjelang akhir tahun ajaran. Disana hanya terdapat kolam renang dan kebun binatang yang tidak begitu luas. Namun jalan yang menanjak menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Begitu gambaran yang diceritakan salah satu Guru.

Dari berbagai macam pertimbangan akhinya kami sepakat untuk mengunjungi BJBR di Probolinggo. Pembicaraan beralih ke masalah alat transportasi yang digunakan. Jika menyewa bis, sangat tidak mungkin karena jarak yang tidak terlalu jauh dan biaya sewa tidak sesuai dengan budget yang tersedia. Akhirnya disepakati menggunakan dua mobil. Satu mobil sudah tersedia milik Kepala Sekolah untuk siswa. Satu mobil milik saya untuk rombongan guru. Saya menjadi penumpang sekaligus sopirnya.

Kemudian kami berembuk tentang bekal untuk makan selama di perjalanan. Sudah menjadi tradisi di sekolah jika rekreasi, kami akan bagi-bagi tugas tentang bekal yang akan dibawa. Saya menulis menunya; Bu Uswah membawa sambal goreng teri dan ikan asin, Bu Ita membawa nasi jagung dan air mineral, Bu Islamah membawa lop-kolop, tahu dan tempe, Bu Riski membawa telor dan dadar jagung, Bu Dina membawa krupuk dan kertas lilin, sementara saya yang memimpin doa sebelum makan, he he.

Malam sebelum keberangkatan, saya menyiapkan segala atribut pantai, mulai dari kacamata hitam, topi, payung dan sunblock. Maklumlah, saya ‘kan tidak suka pantai jadi harus antisipasi agar tidak pusing dan kulit menjadi hitam karena kepanasan.

Tepat pukul enam pagi saya tiba di sekolah. Murid-murid sudah berkumpul dengan membawa minuman dan makanan ringan. Wajah mereka terlihat sumringah karena hanya memiliki kesempatan sekali dalam setahun berekreasi.

Pukul tujuh kurang lima menit, kami berangkat dengan menaiki dua mobil. Sepanjang perjalanan yang dilalui tidak begitu ramai. Sehingga perjalanan lancar tanpa macet seperti biasanya. Dua jam kemudian kami sampai di BJBR yang terletak di Pelabuhan Mayangan.

Semua atribut saya pakai, kacamata hitam, payung dan topi. Murid-murid hanya tersenyum melihat ulah saya. Ah, cuek saja. Begitu memasuki area wisata ini, pengunjung disuguhi pemandangan hutan mangrove yang eksotis, bersih, terawat dan menyejukkan mata. Terlihat pula pantai pasir buatan nan indah. Tempat ini juga dilengkapi berbagai wahana bagi anak-anak. Selain itu, tersedia pula Gedung Serba Guna, Resto dan Kafe Tenda. Pengunjung juga dapat menyusuri Lorong Seribu Payung. Satu lagi yang membuat saya tertarik adalah musholla, tidak hanya sekadar tempat ibadah biasa, musholla ini dibangun di tengah pantai dan arsitekturnya memiliki nilai seni yang tinggi.


                                                              

Di tengah menikmati pemandangan pantai dan semilir angin yang menyegarkan, saya bersama Bu Uswah menyempatkan untuk berfoto. Sayang ‘kan kalau momen ini tidak diabadikan? Ada satu tempat yang membuat saya tertarik, yaitu jembatan kayu kelapa. Jembatan ini tidak hanya dibangun untuk sarana rekreasi, namun juga agar kita dapat mengamati fenomena pasang surut pantai. Jalur yang terbuat dari kayu ini mungkin terlihat biasa, namun jika mengambil foto dengan angle yang tepat, hasilnya akan keren.

Selagi asyik mengambil foto di jembatan kayu itulah, tiba-tiba datang angin dengan hembusan sangat kencang. Kuatnya hembusan angin membuat payung saya terbalik seketika. Tak ayal, saya jadi bahan tertawa pengunjung yang melihatnya, tidak terkecuali Bu Uswah. Bukannya menolong, saya malah ditertawai. Akhirnya saya tertawa juga, dong.


Tidak hanya sampai disitu, sejumlah spot foto cantik telah siap menyambut kami, seperti tulisan warna warni BJBR, Gembok Cinta, Miniatur Kapal Phinisi dan Bola Dunia.

Panas semakin menyengat bagai membakar bumi, kami dan murid-murid merasa kelelahan. Setelah puas menikmati tempat rekreasi ini, tepat pukul dua siang kami pulang.

Kebersamaan ini tidak akan pernah saya lupakan, apalagi kisah payung pelangi yang menyimpan kenangan. Semoga suatu saat kami punya kesempatan mengunjunginya lagi. 

 

Bondowoso, 23 Agustus 2020.




 

5 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021