KERIPIK TEMPE, CAMILAN GURIH DAN LEZAT

Author
Published Agustus 30, 2020
KERIPIK TEMPE, CAMILAN GURIH DAN LEZAT



Salah satu makanan favorit khas Indonesia adalah tempe. Makanan yang terbuat dari kedelai ini bisa diproduksi di hampir seluruh pelosok daerah. Tempe merupakan bahan makanan yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Harganya pun sangat murah dan terjangkau di kalangan masyarakat.

Tempe dapat diolah menjadi aneka masakan dan camilan, seperti tempe bacem, oseng tempe, dan sambal goreng tempe. Bagi yang suka ngemil, tempe dapat diolah menjadi makanan ringan berupa kripik tempe.

Di Bondowoso, salah satu sentra industri tempe berada di Desa Kejawan Kecamatan Grujugan. Hampir di setiap rumah warga memproduksi tempe. Mereka memasarkan sendiri ke pasar-pasar di kota bahkan dari rumah ke rumah. Harga satu tempe berkisar antara dua ribu hingga lima ribu rupiah. Selain itu beberapa warga mengolah tempe menjadi keripik tempe.

Pada Rabu lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu industri rumah tangga kripik tempe “WAHYU” yang terletak di dekat rumah salah satu siswa, sekaligus melihat proses pembuatannya. Di rumah sederhana ini, Bu Wahyu, pemiliknya, hanya dibantu salah satu kerabat dalam menjalankan usaha pembuatan keripik tempe.

Proses pembuatan keripik tempe masih menggunakan cara sederhana. Bahan baku utamanya adalah tempe, tepung tapioka dan rempah-rempah sebagai bumbunya. Tempe yang digunakan harus terbuat dari kedelai yang berkualitas bagus agar pada saat fermentasi rasanya tidak pahit. Kedelai yang bagus akan memudahkan pengirisan tempe menjadi lembaran keripik tipis.  

Cara pengolahan keripik tempe ini sangat mudah. Mula-mula tempe yang belum matang dicampur dengan tepung tapioka sedikit demi sedikit. Kemudian diaduk rata. Setelah tercampur rata, dibungkus plastik berbentuk memanjang dan ditusuk-tusuk agar jamur tempe mendapat udara dan dapat tumbuh dengan baik. Diamkan selama dua hari. Setelah tempe masak/mengeras, diiris tipis-tipis kemudian diberi bumbu lalu digoreng hingga memiliki tekstur yang renyah. Proses terakhir, keripik dimasukkan dalam kemasan plastik yang telah berlabel. Keripik tempe “WAHYU” ini memiliki cita rasa yang gurih dan lezat.





Dalam sehari Bu Wahyu mampu mengolah 50-70 bungkus keripik tempe. Lalu menitipkan produknya di rumah makan, minimarket dan beberapa toko oleh-oleh yang bertebaran di Jember. Sedangkan di Bondowoso sangat sulit memasarkannya, karena dengan harga Rp 15.000 produk ini dianggap terlalu mahal bagi masyarakat Bondowoso.

 Bu Wahyu berpendapat, dengan cara dititipkan tersebut terbukti efektif. Terlebih saat akhir pekan atau hari libur, tempat oleh-oleh dan rumah makan, permintaannya justru lebih tinggi dibanding hari-hari biasa.

Produk keripik tempe “WAHYU” telah terdaftar di Dinas Kesehatan Bondowoso. Ini terbukti dengan dikeluarkannya izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dinilai akan mendongkrak omset penjualan produk ini.

 

 Bondowoso, 30 Agustus 2020.







 

1 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021