SAAT ALLAH MENGAMBIL IBUKU

Author
Published September 22, 2020
SAAT ALLAH MENGAMBIL IBUKU


 


Haikal, pemuda 23 tahun itu tidak menyangka, hal yang menyedihkan terjadi di saat pandemi Covid-19. Haikal adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak lelakinya meninggal di usia 12 tahun karena sakit tipes. Setahun kemudian, penyakit yang sama merenggut nyawa adiknya di usia 2 bulan. Sejak kedua saudaranya meninggal, kedua orang tuanya sangat memanjakannya, semua keinginannya selalu dituruti meskipun harus hutang. Ayahnya yang bekerja sebagai pesuruh dengan gaji pas-pasan, tidak ingin kehilangan buah hatinya lagi.

Haikal kecil tumbuh menjadi anak yang super aktif terkadang suka usil. Karena keusilannya tidak jarang dia dijuluki anak nakal yang membuat ibunya kewalahan. Suatu hari, seorang ibu mendatagi rumah Haikal dan menemui ibunya. Anak semata wayangnya jatuh ke sungai setelah di dorong Haikal. Darah segar mengalir deras di dahinya, kakinya memar hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ibu Haikal hanya bisa memohon maaf atas keusilan anaknya. Ketidakmampuan ekonomi membuatnya tidak dapat membantu pengobatan si anak.

Setelah lulus SMP, Haikal bekerja sebagai kuli bangunan. Keterbatasan biaya membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah. Semua hasil jerih payah dia berikan untuk Ibunya. Namun Haikal merasa tidak puas, dia ingin bekerja di luar kota untuk memperbaiki nasib. Keinginannya begitu kuat untuk membeli sebuah cincin dan akan diberikan tepat di hari ulang tahun ibunya dua bulan lagi.

Tanpa sepengetahuan dan restu ibunya, Haikal ke luar kota untuk mengadu nasib. Beberapa hari ibunya gelisah karena Haikal tidak memberi kabar. Nomor ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba ibunya jatuh pingsan, kedua kakinya membengkak, jantungnya berdetak kencang, nafasnya terasa sesak. Hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan ibu Haikal terkena stroke berat dan beri-beri. Beruntung ponsel Haikal bisa dihubungi. Setelah menerima kabar itu, dia segera pulang. Melihat kondisi ibunya, hatinya terasa pedih dan trauma.

Hari kedua di rumah sakit, belum ada tanda-tanda ibunya akan siuman. Denyut jantungnya semakin cepat, sesak napas. Haikal panik melihat keadaan ini. Seketika dipanggilnya perawat. Sesaat kemudian ibunya dipindah ke ruang ICCU. Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan paru-parunya bocor, jantungnya membengkak. Inilah ujian terberat yang harus Haikal hadapi.

“Ibu, ini aku, anakmu,” bisik Haikal sambil terisak.

Perlahan mata ibunya terbuka, tangannya menyentuh jemari Haikal.

“Haikal, jaga dirimu baik-baik. Ibu hanya ingin istirahat, nak,” tutur ibunya.

“Ibu harus sembuh. Aku janji tidak akan meninggalkan ibu lagi,” kata Haikal sambil mengelus-elus lengan ibunya.

Setelah kondisinya agak membaik, ibunya diperbolehkan pulang. Setiap hari Haikal merawatnya. Namun hanya beberapa hari di rumah, penyakitnya kambuh lagi, kali ini kakinya tambah membengkak dan melepuh, dada semakin terasa nyeri.

“Haikal, ambilkan minum, Ibu haus,” pinta ibunya.

Haikal bergegas menuju dapur, namun di saat dia kembali dengan membawa segelas air putih, ibunya telah terbujur kaku, darah keluar dari mulutnya.Haikal mengguncang-guncangkan tubuh Ibunya

 “Ibuu, Ibuuu, bangun, Bu!” Tangisnya pecah. Hatinya pedih, jiwanya terguncang. Haikal merasa bingung bagaimana menghadapi masa depan tanpa sosok seorang ibu. Dia menyesal belum sempat membahagiakan Ibunya. Haikal merasa tidak ada artinya hidup di dunia. Allah telah memanggil semua yang disayanginya. Tanpa menghiraukan orang-orang disekelilingnya, tiba-tiba Haikal teriak sangat kencang, berlari menuju ruang tamu, dan,

“Praaagggg!” Seisi rumah dikejutkan oleh suara kaca pecah. Mereka menuju ruang tamu untuk melihat yang terjadi.

Haikal tergeletak tidak sadarkan diri, darah segar mengalir deras dari lengan kanannya. Wajahnya pucat, tubuhnya dingin dan membiru. Rupanya Haikal menghantamkan tangannya ke kaca jendela, dia ingin mengakhiri hidupnya. Setelah lengannya dibalut kain seadanya, Haikal segera dilarikan ke rumah sakit.

Di ruang IGD, Haikal masih tidak sadarkan diri. Napasnya tidak beraturan, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun seakan tidak ada harapan hidup lagi. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata urat nadinya putus. Haikal harus segera dioperasi malam itu juga.

Setelah 2 jam berada di ruang operasi, Haikal segera dipindah ke ruang perawatan. Wajahnya pucat. Selang infus dan oksigen masih melekat di wajahnya. Pelan-pelan Haikal membuka matanya, meraba lengannya yang berbalut perban. Wajahnya meringis menahan sakit. Dalam hati Haikal merasa menyesal. Beruntung nyawanya masih tertolong.

 Allah Maha Segalanya, kematian sudah digariskan. Haikal mencoba ikhlas dan tabah kehilangan sosok Ibu yang sangat disayangi dan dihormati. Dua bulan sepeninggal ibunya, Haikal tak lagi bekerja sebagai kuli bangunan. Lengan kanannya tidak berfungsi normal, dia mengisi hari-harinya dengan mengurus masjid di desanya. Haikal menyadari, Allah SWT tidak sedang menghukumnya. Dia yakin sesuatu yang indah sudah Allah rencanakan untuknya.Tidak satu pun yang abadi di dunia ini, termasuk kehidupan itu sendiri.  

 

 

Bondowoso, 22 September 2020

2 komentar

  1. Beruntunglah orang2 yang dalam hidupnya akhirnya menyadari jika hanya Allahlah sudah menggariskan segala takdir yg harus dijalani. Sukses selalu!

    BalasHapus
  2. Smoga kita smua senantiasa dalam lindunganNya.
    Apa yang terjadi...InsyaAllah yang terbaik....

    BalasHapus

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021