SAAT ALLAH MENGAMBIL IBUKU
Haikal, pemuda 23 tahun itu
tidak menyangka, hal yang menyedihkan terjadi di saat pandemi Covid-19. Haikal adalah
anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak lelakinya meninggal di usia 12 tahun
karena sakit tipes. Setahun kemudian, penyakit yang sama merenggut nyawa
adiknya di usia 2 bulan. Sejak kedua saudaranya meninggal, kedua orang tuanya
sangat memanjakannya, semua keinginannya selalu dituruti meskipun harus hutang.
Ayahnya yang bekerja sebagai pesuruh dengan gaji pas-pasan, tidak ingin
kehilangan buah hatinya lagi.
Haikal kecil tumbuh menjadi
anak yang super aktif terkadang suka usil. Karena keusilannya tidak jarang dia
dijuluki anak nakal yang membuat ibunya kewalahan. Suatu hari, seorang ibu
mendatagi rumah Haikal dan menemui ibunya. Anak semata wayangnya jatuh ke
sungai setelah di dorong Haikal. Darah segar mengalir deras di dahinya, kakinya
memar hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ibu Haikal hanya bisa memohon maaf
atas keusilan anaknya. Ketidakmampuan ekonomi membuatnya tidak dapat membantu
pengobatan si anak.
Setelah lulus SMP, Haikal bekerja
sebagai kuli bangunan. Keterbatasan biaya membuatnya tidak dapat melanjutkan
sekolah. Semua hasil jerih payah dia berikan untuk Ibunya. Namun Haikal merasa
tidak puas, dia ingin bekerja di luar kota untuk memperbaiki nasib. Keinginannya
begitu kuat untuk membeli sebuah cincin dan akan diberikan tepat di hari ulang
tahun ibunya dua bulan lagi.
Tanpa sepengetahuan dan restu ibunya, Haikal ke luar
kota untuk mengadu nasib. Beberapa hari
ibunya gelisah karena Haikal tidak memberi kabar. Nomor ponselnya pun tidak
dapat dihubungi. Setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba ibunya jatuh pingsan,
kedua kakinya membengkak, jantungnya berdetak kencang, nafasnya terasa sesak. Hasil
pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan ibu Haikal terkena stroke berat dan
beri-beri. Beruntung ponsel Haikal bisa dihubungi. Setelah menerima kabar itu, dia
segera pulang. Melihat kondisi ibunya, hatinya terasa pedih dan trauma.
Hari kedua di rumah sakit,
belum ada tanda-tanda ibunya akan siuman. Denyut jantungnya semakin cepat,
sesak napas. Haikal panik melihat keadaan ini. Seketika dipanggilnya perawat. Sesaat
kemudian ibunya dipindah ke ruang ICCU. Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan paru-parunya
bocor, jantungnya membengkak. Inilah ujian terberat yang harus Haikal hadapi.
“Ibu, ini aku, anakmu,” bisik
Haikal sambil terisak.
Perlahan mata ibunya terbuka,
tangannya menyentuh jemari Haikal.
“Haikal, jaga dirimu
baik-baik. Ibu hanya ingin istirahat, nak,” tutur ibunya.
“Ibu harus sembuh. Aku janji
tidak akan meninggalkan ibu lagi,” kata Haikal sambil mengelus-elus lengan
ibunya.
Setelah kondisinya agak
membaik, ibunya diperbolehkan pulang. Setiap hari Haikal merawatnya. Namun
hanya beberapa hari di rumah, penyakitnya kambuh lagi, kali ini kakinya tambah
membengkak dan melepuh, dada semakin terasa nyeri.
“Haikal, ambilkan minum, Ibu
haus,” pinta ibunya.
Haikal bergegas menuju
dapur, namun di saat dia kembali dengan membawa segelas air putih, ibunya telah
terbujur kaku, darah keluar dari mulutnya.Haikal mengguncang-guncangkan tubuh
Ibunya
“Ibuu, Ibuuu, bangun, Bu!” Tangisnya pecah.
Hatinya pedih, jiwanya terguncang. Haikal merasa bingung bagaimana menghadapi
masa depan tanpa sosok seorang ibu. Dia menyesal belum sempat membahagiakan
Ibunya. Haikal merasa tidak ada artinya hidup di dunia. Allah telah memanggil semua
yang disayanginya. Tanpa menghiraukan orang-orang disekelilingnya, tiba-tiba
Haikal teriak sangat kencang, berlari menuju ruang tamu, dan,
“Praaagggg!” Seisi rumah
dikejutkan oleh suara kaca pecah. Mereka menuju ruang tamu untuk melihat yang
terjadi.
Haikal tergeletak tidak
sadarkan diri, darah segar mengalir deras dari lengan kanannya. Wajahnya pucat,
tubuhnya dingin dan membiru. Rupanya Haikal menghantamkan tangannya ke kaca jendela, dia ingin mengakhiri
hidupnya. Setelah lengannya dibalut kain seadanya, Haikal segera dilarikan ke
rumah sakit.
Di ruang IGD, Haikal masih
tidak sadarkan diri. Napasnya tidak beraturan, tubuhnya tidak bergerak
sedikitpun seakan tidak ada harapan hidup lagi. Setelah dilakukan pemeriksaan
ternyata urat nadinya putus. Haikal harus segera dioperasi malam itu juga.
Setelah 2 jam berada di
ruang operasi, Haikal segera dipindah ke ruang perawatan. Wajahnya pucat.
Selang infus dan oksigen masih melekat di wajahnya. Pelan-pelan Haikal membuka
matanya, meraba lengannya yang berbalut perban. Wajahnya meringis menahan sakit.
Dalam hati Haikal merasa menyesal. Beruntung nyawanya masih tertolong.
Allah Maha Segalanya, kematian sudah
digariskan. Haikal mencoba ikhlas dan tabah kehilangan sosok Ibu yang sangat
disayangi dan dihormati. Dua bulan sepeninggal ibunya, Haikal tak lagi bekerja
sebagai kuli bangunan. Lengan kanannya tidak berfungsi normal, dia mengisi hari-harinya
dengan mengurus masjid di desanya. Haikal menyadari, Allah SWT tidak sedang
menghukumnya. Dia yakin sesuatu yang indah sudah Allah rencanakan untuknya.Tidak
satu pun yang abadi di dunia ini, termasuk kehidupan itu sendiri.
Bondowoso, 22 September 2020

Beruntunglah orang2 yang dalam hidupnya akhirnya menyadari jika hanya Allahlah sudah menggariskan segala takdir yg harus dijalani. Sukses selalu!
BalasHapusSmoga kita smua senantiasa dalam lindunganNya.
BalasHapusApa yang terjadi...InsyaAllah yang terbaik....