Merajut Benang Putus
| Dok. pribadi |
Seorang Arjuna dan dua Srikandi, Bayu,
Sinta dan Rani, adalah pelipur lara bagi Wina. Dialah yang berjuang
sendirian semenjak pecahnya bahtera rumah tangga mereka. Dengan harus menguras
air mata dan memeras keringat sendiri, kasih sayang seorang ibu diperankannya
dengan sangat mendalam. Dewa, sang ayah bak lenyap ditelan masa. Tak pernah
sedetik pun memberikan kasih sayang pada anak-anak buah cintanya dulu.
Sore itu, Wina sang bunda kembali
merasakan betapa berat berjuang sendiri. Hati bak dicabik-cabik dan otak seakan
hendak pecah saat Bayu si bungsu yang baru berusia 10 tahun harus kembali
merasakan sakit yang menderanya semenjak kepergian Dewa. Hampir setiap hari
Bayu menanyakan keberadaan ayahnya. Ia anak kesayangan Dewa, anak lelaki yang
sangat diidam-idamkannya, sehingga ikatan batin antara keduanya begitu kuat. Sejak
Bayu lahir, Dewa terlibat aktif dalam pengasuhannya. Dewa selalu berusaha dekat
dengan Bayu kapan dan di mana pun. Tak ayal, sejak kepergian Dewa membuat
psikisnya berubah, mudah marah dan cepat tersinggung. Bayu sering mengalami
kecapaian, pusing dan tidak nafsu makan. Kini kondisi itu diperparah dengan
perubahan warna urinenya, sering mual dan muntah.
Wina bergegas membawa Bayu ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi ginjal Bayu sudah parah dan tidak
berfungsi maksimal, Ia mengalami gagal ginjal. Wina shock dan kalut
mendengarnya. Dia semakin terkejut ketika dokter Darma mengatakan Bayu
membutuhkan cuci darah. Hati Wina remuk, dia harus berjuang sendiri merawat Bayu
hingga sembuh. Dia akan mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk Bayu agar
tetap bertahan hidup, selama Allah masih mengizinkannya.
Memasuki ruangan itu, sungguh pemandangan yang tak biasa bagi Wina. Beberapa pasien melakukan cuci darah. Mesin-mesin beroperasi mengalirkan darah melalui selang kecil. Semakin tidak tega ketika perawat mempersiapkan peralatan cuci darah untuk Bayu. Proses cuci darah pun dimulai. Prosedur cuci darah berlangsung kurang lebih 3 jam, proses yang sangat panjang dan tentu melelahkan.
Dua kali seminggu, Bayu menjalani cuci
darah. Wina mengira penyakit Bayu akan berkurang jika rutin melakukan cuci
darah. Tapi nyatanya pengobatan itu tak membuatnya membaik. Tubuhnya semakin
kurus, lusuh, dan mudah lelah. Wina kembali menemui Dokter Darma, yang
menangani Bayu selama pengobatan. Dokter Darma menyarankan agar segera
dilakukan transplantasi ginjal. Perkataan dokter itu semakin membuat Wina tak
berdaya, rasanya hampir pingsan mendengarnya.
Apapun akan Wina lakukan demi kesembuhan
Bayu, bahkan ia rela mendonorkan satu ginjalnya demi anak lelaki satu-satunya.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan darah, ternyata golongan darahnya tidak
memiliki kecocokan dengan golongan darah Bayu. Sehingga Wina tak bisa
memberikan satu ginjalnya. Wina harus bergegas mencari orang yang memiliki
golongan darah yang sama dengan Bayu. Seketika itu ingatannya tertuju pada
Dewa.
Bertahun-tahun
mereka tidak bertemu. Lelaki itu seolah-olah menghilang. Tidak mempedulikan
isteri dan ketiga buah hatinya. Wina juga tidak berusaha mencari. Hatinya
teramat luka dan sulit disembuhkan. Mengikhlaskannya adalah salah satu cara
agar terbebas dari rasa sakit yang mendalam. Namum kini, Wina harus mengubur
dalam-dalam ego nya. Dia akan mencari Dewa, dan harus menemuinya. Hanya Dewa
harapan satu-satunya yang dapat menyembuhkan Bayu.
Sampai di depan sebuah rumah, Wina
berhenti. Rumah sederhana yang dulu ditempatinya bersama Dewa dan anak-anak,
kini berubah menjadi rumah yang sangat indah dan megah. Seorang lelaki membuka
pintu pagar rumah itu. Lelaki berkaca mata, rambutnya memutih. Hampir saja Wina
tidak mengenalinya andai Dewa tidak memanggilnya.
“Wina?” sapa Dewa kaget.
“Iya, Mas. Aku kesini ingin minta tolong,”
kata Wina
“Bayu sangat membutuhkan ginjalmu, Mas.
Dia harus segera transplantasi ginjal,” lanjutnya.
Dewa, yang sudah berpisah dengan istri
barunya, tak dapat menutupi rasa sesalnya saat mendengar Bayu jatuh sakit. Sekian
lama ia telantarkan isteri dan ketiga anaknya. Untuk menebus kesalahannya, ia
rela mengikhlaskan satu ginjalnya demi Bayu, dan mengajak Wina menata kembali
kehidupan bersama buah cintanya. Kuatnya keinginan untuk menjaga keutuhan
keluarga membuat rasa takut yang sempat hinggap di pikiran Wina, menguap begitu
saja. Wina tak kuasa menolak ajakan Dewa. Dibuangnya jauh-jauh trauma masa lalu
demi Bayu, Rani dan Sinta.
Setelah
melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan donor ginjal, Dokter Darma, yang
menangani operasi menyatakan ginjal Dewa tidak ada kecacatan sedikitpun. Dokter
juga menyampaikan tidak ada efek samping bagi pendonor ginjal. Informasi itu
membuat Dewa semakin bersemangat memberikan ginjal kepada Bayu.
Dewa mulai menjalani operasi cangkok
ginjal. Wina menunggu di depan ruang operasi didampingi Rani dan Sinta. Mereka tak
mampu menyembunyikan keresahan hatinya. Sesekali Wina melihat jam tangannya
sembari mengepal-ngepal tangannya. Tak tahu apa yang akan diperbuat. Semua yang
tampak di depannya seperti hendak menghimpit dadanya. Dunia seperti sempit,
langit bagai mau runtuh. Hanya doa-doa yang mampu dilantunkan demi keselamatan
Bayu dan Dewa. Sesekali Sinta dan Rani menyeka air matanya.
Empat jam berlalu, Wina berjalan mondar
mandir di depan ruang operasi. Namun, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba
Dokter Darma keluar dari ruang operasi dan mendekati Wina dengan langkah cepat.
Raut wajahnya sedikit tegang, membuat Wina cemas dan perasaan tak menentu. Wina
merasa ada yang tidak beres. Sesaat setelah Dokter Darma menenangkan diri,
“Suami ibu tiba-tiba mengalami sesak
napas. Ada gangguan di jantungnya, kami sudah…”
Belum selesai Dokter Darma bicara, Wina terhuyung hampir jatuh. Rasanya mau pingsan mendengarnya. Bergegas Wina, Rani dan Sinta berlari menuju ruang operasi. Wina panik melihat tubuh Dewa terbujur kaku. Dipeluknya tubuh yang masih hangat itu. Air matanya tak terbendung lagi. Tangisnya pecah.
“Ayah! Bangun Ayah! Jangan tinggalin
Rani!” isak Rani tak tertahan.
“Ayaaah!” teriak Sinta keras sambil
mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya. Berharap Dewa membuka matanya.
Kerinduan mereka begitu membuncah, setelah dua tahun tidak menikmati kasih sayang Dewa. Wina belum mampu menerima kenyataan. Baginya, ini seperti mimpi. Dewa meninggal di saat mereka akan merajut kembali benang yang putus bersama ketiga buah hatinya. Merelakan kepergian orang tercinta bukanlah hal yang mudah baginya. Perlu waktu lama untuk mencapai ikhlas atas kepergian Dewa.
Bondowoso, 15 Oktober 2021.
Bagus sekali ceritanya. Begitulah hidup, berbagai persolan silih berganti yang harus kita jalani.
BalasHapusTerima kasih Bu Salma
Hapushebat.. keren sangat
BalasHapus