Merajut Benang Putus

Author
Published Oktober 16, 2021
Merajut Benang Putus



 

Dok. pribadi

 

Seorang Arjuna dan dua Srikandi, Bayu, Sinta dan Rani, adalah pelipur lara bagi Wina. Dialah yang berjuang sendirian semenjak pecahnya bahtera rumah tangga mereka. Dengan harus menguras air mata dan memeras keringat sendiri, kasih sayang seorang ibu diperankannya dengan sangat mendalam. Dewa, sang ayah bak lenyap ditelan masa. Tak pernah sedetik pun memberikan kasih sayang pada anak-anak buah cintanya dulu.

Sore itu, Wina sang bunda kembali merasakan betapa berat berjuang sendiri. Hati bak dicabik-cabik dan otak seakan hendak pecah saat Bayu si bungsu yang baru berusia 10 tahun harus kembali merasakan sakit yang menderanya semenjak kepergian Dewa. Hampir setiap hari Bayu menanyakan keberadaan ayahnya. Ia anak kesayangan Dewa, anak lelaki yang sangat diidam-idamkannya, sehingga ikatan batin antara keduanya begitu kuat. Sejak Bayu lahir, Dewa terlibat aktif dalam pengasuhannya. Dewa selalu berusaha dekat dengan Bayu kapan dan di mana pun. Tak ayal, sejak kepergian Dewa membuat psikisnya berubah, mudah marah dan cepat tersinggung. Bayu sering mengalami kecapaian, pusing dan tidak nafsu makan. Kini kondisi itu diperparah dengan perubahan warna urinenya, sering mual dan muntah.

Wina bergegas membawa Bayu ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi ginjal Bayu sudah parah dan tidak berfungsi maksimal, Ia mengalami gagal ginjal. Wina shock dan kalut mendengarnya. Dia semakin terkejut ketika dokter Darma mengatakan Bayu membutuhkan cuci darah. Hati Wina remuk, dia harus berjuang sendiri merawat Bayu hingga sembuh. Dia akan mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk Bayu agar tetap bertahan hidup, selama Allah masih mengizinkannya. 

 Memasuki ruangan itu, sungguh pemandangan yang tak biasa bagi Wina. Beberapa pasien melakukan cuci darah. Mesin-mesin beroperasi mengalirkan darah melalui selang kecil. Semakin tidak tega ketika perawat mempersiapkan peralatan cuci darah untuk Bayu. Proses cuci darah pun dimulai. Prosedur cuci darah berlangsung kurang lebih 3 jam, proses yang sangat panjang dan tentu melelahkan.

Dua kali seminggu, Bayu menjalani cuci darah. Wina mengira penyakit Bayu akan berkurang jika rutin melakukan cuci darah. Tapi nyatanya pengobatan itu tak membuatnya membaik. Tubuhnya semakin kurus, lusuh, dan mudah lelah. Wina kembali menemui Dokter Darma, yang menangani Bayu selama pengobatan. Dokter Darma menyarankan agar segera dilakukan transplantasi ginjal. Perkataan dokter itu semakin membuat Wina tak berdaya, rasanya hampir pingsan mendengarnya.

Apapun akan Wina lakukan demi kesembuhan Bayu, bahkan ia rela mendonorkan satu ginjalnya demi anak lelaki satu-satunya. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan darah, ternyata golongan darahnya tidak memiliki kecocokan dengan golongan darah Bayu. Sehingga Wina tak bisa memberikan satu ginjalnya. Wina harus bergegas mencari orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Bayu. Seketika itu ingatannya tertuju pada Dewa.

 Bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Lelaki itu seolah-olah menghilang. Tidak mempedulikan isteri dan ketiga buah hatinya. Wina juga tidak berusaha mencari. Hatinya teramat luka dan sulit disembuhkan. Mengikhlaskannya adalah salah satu cara agar terbebas dari rasa sakit yang mendalam. Namum kini, Wina harus mengubur dalam-dalam ego nya. Dia akan mencari Dewa, dan harus menemuinya. Hanya Dewa harapan satu-satunya yang dapat menyembuhkan Bayu.

Sampai di depan sebuah rumah, Wina berhenti. Rumah sederhana yang dulu ditempatinya bersama Dewa dan anak-anak, kini berubah menjadi rumah yang sangat indah dan megah. Seorang lelaki membuka pintu pagar rumah itu. Lelaki berkaca mata, rambutnya memutih. Hampir saja Wina tidak mengenalinya andai Dewa tidak memanggilnya.

“Wina?” sapa Dewa kaget.

“Iya, Mas. Aku kesini ingin minta tolong,” kata Wina

“Bayu sangat membutuhkan ginjalmu, Mas. Dia harus segera transplantasi ginjal,” lanjutnya.

Dewa, yang sudah berpisah dengan istri barunya, tak dapat menutupi rasa sesalnya saat mendengar Bayu jatuh sakit. Sekian lama ia telantarkan isteri dan ketiga anaknya. Untuk menebus kesalahannya, ia rela mengikhlaskan satu ginjalnya demi Bayu, dan mengajak Wina menata kembali kehidupan bersama buah cintanya. Kuatnya keinginan untuk menjaga keutuhan keluarga membuat rasa takut yang sempat hinggap di pikiran Wina, menguap begitu saja. Wina tak kuasa menolak ajakan Dewa. Dibuangnya jauh-jauh trauma masa lalu demi Bayu, Rani dan Sinta.

            Setelah melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan donor ginjal, Dokter Darma, yang menangani operasi menyatakan ginjal Dewa tidak ada kecacatan sedikitpun. Dokter juga menyampaikan tidak ada efek samping bagi pendonor ginjal. Informasi itu membuat Dewa semakin bersemangat memberikan ginjal kepada Bayu.

Dewa mulai menjalani operasi cangkok ginjal. Wina menunggu di depan ruang operasi didampingi Rani dan Sinta. Mereka tak mampu menyembunyikan keresahan hatinya. Sesekali Wina melihat jam tangannya sembari mengepal-ngepal tangannya. Tak tahu apa yang akan diperbuat. Semua yang tampak di depannya seperti hendak menghimpit dadanya. Dunia seperti sempit, langit bagai mau runtuh. Hanya doa-doa yang mampu dilantunkan demi keselamatan Bayu dan Dewa. Sesekali Sinta dan Rani menyeka air matanya.

Empat jam berlalu, Wina berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. Namun, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba Dokter Darma keluar dari ruang operasi dan mendekati Wina dengan langkah cepat. Raut wajahnya sedikit tegang, membuat Wina cemas dan perasaan tak menentu. Wina merasa ada yang tidak beres. Sesaat setelah Dokter Darma menenangkan diri,

“Suami ibu tiba-tiba mengalami sesak napas. Ada gangguan di jantungnya, kami sudah…”

 Belum selesai Dokter Darma bicara, Wina terhuyung hampir jatuh. Rasanya mau pingsan mendengarnya. Bergegas Wina, Rani dan Sinta berlari menuju ruang operasi. Wina panik melihat tubuh Dewa terbujur kaku. Dipeluknya tubuh yang masih hangat itu. Air matanya tak terbendung lagi. Tangisnya pecah.

“Ayah! Bangun Ayah! Jangan tinggalin Rani!” isak Rani tak tertahan.

“Ayaaah!” teriak Sinta keras sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya. Berharap Dewa membuka matanya.

 Kerinduan mereka begitu membuncah, setelah dua tahun tidak menikmati kasih sayang Dewa. Wina belum mampu menerima kenyataan. Baginya, ini seperti mimpi. Dewa meninggal di saat mereka akan merajut kembali benang yang putus bersama ketiga buah hatinya. Merelakan kepergian orang tercinta bukanlah hal yang mudah baginya. Perlu waktu lama untuk mencapai ikhlas atas kepergian Dewa.


Bondowoso, 15 Oktober 2021.

3 komentar

  1. Bagus sekali ceritanya. Begitulah hidup, berbagai persolan silih berganti yang harus kita jalani.

    BalasHapus

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021