LEMBAYUNG SENJA

Author
Published Februari 09, 2022
LEMBAYUNG SENJA

 

Dok. pribadi

 

Semenjak lulus sekolah menengah pertama lima tahun lalu, aku tak lagi mendengar kabar Haryo. Lelaki dengan lesung pipit dan berkaca mata oval itu, mengingatkanku pada Afgan Syahreza, penyanyi papan atas Indonesia. Saat tersenyum, tampak gigi yang berderet rapi, semakin memesona siapa pun yang melihatnya. Tak terkecuali aku. Selentingan kudengar kabar, Haryo melanjutkan SMAnya di kota dingin Malang.

Meskipun satu kelas, jarang sekali aku dan Haryo bertegur sapa. Aku tak punya keberanian walau sekadar menyapa. Perasaan rendah diri karena aku dari pelosok desa, telah memenjaraku untuk bergaul. Beda dengan Antriq, Ella, dan Ika, mereka begitu leluasa ngobrol dengan Haryo. Aku hanya melihat mereka dari jauh. Senyum Haryo telah memikat hatiku. Diam-diam aku memperhatikannya, saat dia bicara, tersenyum, tertawa, bahkan aku hafal merk tas dan sepatunya satu per satu.

Hari ini kubuka kembali lembar demi lembar album foto acara perpisahan kelas kami. Mataku selalu tertuju pada wajah Haryo. Jantungku berdetak semakin kencang, saat melihat bibirnya melengkung membentuk huruf U. Entahlah, aku belum mampu menghilangkan debaran yang kurasakan sejak pertama melihatnya, lima tahun lalu.

Sebentar lagi senja akan datang menggantikan panas mentari. Kututup album foto itu ketika tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Perlahan kusingkap sedikit tirai jendela kamar. Sebuah Pajero Sport putih parkir tepat di depan pintu pagar rumahku. Rasa penasaran akan pemilik mobil itu menghantuiku. Aku merasa tidak punya janji dengan siapa pun. Mungkin saja dia salah alamat.

Bel berbunyi untuk kedua kalinya. Bergegas aku keluar kamar dan menuju ruang tamu. Perlahan kubuka pintu berwarna putih salju itu. Seketika aku tertegun melihat sosok di depanku. Pemilik lesung pipit dan senyum yang selalu kurindukan, kini hanya berjarak selangkah dari tempatku berdiri.

Tanpa kusadari, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki. Kemeja putih lengan panjang, dasi Van Marvell Slim Tie warna maroon, celana hitam, dan sepatu pantofel coklat merk Edward Forrer, membuat lelaki di hadapanku terlihat elegan.

"Diana, boleh aku masuk?"

Ucapan Haryo membuatku tersadar. Dengan menahan getaran di dada, kupersilakan dia masuk.

Kami duduk berhadapan. Mata Haryo menyapu seisi ruangan minimalis ini. Dia tampak tersenyum ketika melihat foto kami satu kelas di emperan Malioboro, yang terpampang di dinding. Momen saat rekreasi jelang pengumuman kelulusan. Di foto itu Haryo berdiri di belakangku. Jemarinya berada tepat di atas kepalaku, membentuk sebuah bentuk hati memakai jari telunjuk dan jempolnya.

Sesaat kemudian Haryo memalingkan wajahnya ke arahku, tatapannya membuatku salah tingkah. Genggaman kedua tanganku yang dingin semakin kueratkan, untuk menahan gejolah rindu yang membuncah. Sebuah kotak kecil beludru merah, dia keluarkan dari saku celananya. Lalu diletakkannya di meja bertaplak kain satin bordir warna coklat buatan ibuku.

"Bukalah," ujarnya singkat.

Haryo tersenyum melihat wajahku. Entah apa yang ada di benaknya.

Kuambil kotak itu dan perlahan membukanya. Aku tercengang, dan tak mampu berkata-kata, seolah bibirku terkunci. Satu anting hoop kecil mirip antingku yang hilang beberapa tahun lalu. Satu lagi masih kusimpan. Anting-anting itu pemberian dari ibu saat ulang tahunku ke dua belas tahun.

"Kutemukan anting itu ketika pelajaran olah raga. Aku tahu itu milikmu, sebab diam-diam aku selalu memperhatikanmu. Kusimpan anting itu seperti aku menyimpan perasaanku padamu. Lihat jemari tanganku di foto itu. Selama itu aku memendamnya."

Ucapan Haryo membuatku tak mampu membendung butiran air mata yang mulai membasahi pipi. Satu anting telah menemui pasangannya. Ia akan menyatu bersama sejuta rasa cinta dan rindu yang menggebu.


 Bondowoso, 9 Februari 2022

 “Tugas Pelatihan Membuat Blog” aleepenaku.com

4 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021