LEMBAYUNG SENJA
| Dok. pribadi |
Semenjak
lulus sekolah menengah pertama lima tahun lalu, aku tak lagi mendengar kabar
Haryo. Lelaki dengan lesung pipit dan berkaca mata oval itu, mengingatkanku
pada Afgan Syahreza, penyanyi papan atas Indonesia. Saat tersenyum, tampak gigi
yang berderet rapi, semakin memesona siapa pun yang melihatnya. Tak terkecuali
aku. Selentingan kudengar kabar, Haryo melanjutkan SMAnya di kota dingin
Malang.
Meskipun
satu kelas, jarang sekali aku dan Haryo bertegur sapa. Aku tak punya keberanian
walau sekadar menyapa. Perasaan rendah diri karena aku dari pelosok desa, telah
memenjaraku untuk bergaul. Beda dengan Antriq, Ella, dan Ika, mereka begitu
leluasa ngobrol dengan Haryo. Aku hanya melihat mereka dari jauh. Senyum Haryo
telah memikat hatiku. Diam-diam aku memperhatikannya, saat dia bicara,
tersenyum, tertawa, bahkan aku hafal merk tas dan sepatunya satu per satu.
Hari ini
kubuka kembali lembar demi lembar album foto acara perpisahan kelas kami.
Mataku selalu tertuju pada wajah Haryo. Jantungku berdetak semakin kencang,
saat melihat bibirnya melengkung membentuk huruf U. Entahlah, aku belum mampu
menghilangkan debaran yang kurasakan sejak pertama melihatnya, lima tahun lalu.
Sebentar
lagi senja akan datang menggantikan panas mentari. Kututup album foto itu
ketika tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Perlahan kusingkap sedikit tirai
jendela kamar. Sebuah Pajero Sport putih parkir tepat di depan pintu pagar
rumahku. Rasa penasaran akan pemilik mobil itu menghantuiku. Aku merasa tidak
punya janji dengan siapa pun. Mungkin saja dia salah alamat.
Bel berbunyi
untuk kedua kalinya. Bergegas aku keluar kamar dan menuju ruang tamu. Perlahan
kubuka pintu berwarna putih salju itu. Seketika aku tertegun melihat sosok di depanku.
Pemilik lesung pipit dan senyum yang selalu kurindukan, kini hanya berjarak
selangkah dari tempatku berdiri.
Tanpa
kusadari, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki. Kemeja putih
lengan panjang, dasi Van Marvell Slim Tie warna maroon, celana hitam, dan
sepatu pantofel coklat merk Edward Forrer, membuat lelaki di hadapanku terlihat
elegan.
"Diana,
boleh aku masuk?"
Ucapan Haryo
membuatku tersadar. Dengan menahan getaran di dada, kupersilakan dia masuk.
Kami duduk berhadapan. Mata Haryo
menyapu seisi ruangan minimalis ini. Dia tampak tersenyum ketika melihat foto
kami satu kelas di emperan Malioboro, yang terpampang di dinding. Momen saat
rekreasi jelang pengumuman kelulusan. Di foto itu Haryo berdiri di belakangku.
Jemarinya berada tepat di atas kepalaku, membentuk sebuah bentuk hati memakai
jari telunjuk dan jempolnya.
Sesaat
kemudian Haryo memalingkan wajahnya ke arahku, tatapannya membuatku salah
tingkah. Genggaman kedua tanganku yang dingin semakin kueratkan, untuk menahan
gejolah rindu yang membuncah. Sebuah kotak kecil beludru merah, dia
keluarkan dari saku celananya. Lalu diletakkannya di meja bertaplak kain satin
bordir warna coklat buatan ibuku.
"Bukalah,"
ujarnya singkat.
Haryo
tersenyum melihat wajahku. Entah apa yang ada di benaknya.
Kuambil
kotak itu dan perlahan membukanya. Aku tercengang, dan tak mampu berkata-kata,
seolah bibirku terkunci. Satu anting hoop kecil mirip antingku yang hilang
beberapa tahun lalu. Satu lagi masih kusimpan. Anting-anting itu pemberian dari
ibu saat ulang tahunku ke dua belas tahun.
"Kutemukan
anting itu ketika pelajaran olah raga. Aku tahu itu milikmu, sebab diam-diam
aku selalu memperhatikanmu. Kusimpan anting itu seperti aku menyimpan
perasaanku padamu. Lihat jemari tanganku di foto itu. Selama itu aku memendamnya."
Ucapan Haryo
membuatku tak mampu membendung butiran air mata yang mulai membasahi pipi. Satu
anting telah menemui pasangannya. Ia akan menyatu bersama sejuta rasa cinta dan
rindu yang menggebu.
Waah keren bingiit bu Diana, ,sukses selalu yaa
BalasHapusTerima kasih, Bu Yuli
HapusSubhanallah baguusss Buu..saya suka sekali.
BalasHapusTerima Kasih
Hapus