Melukis, Intuisiku

Author
Published Juni 15, 2022
Melukis, Intuisiku

 

Dokumen pribadi

                                                     

            Setiap orang pasti memiliki kegemaran yang beragam. Kegemaran atau hobi itu menjadi istimewa manakala seseorang memiliki perhatian dan waktu khusus untuk menyalurkan hobinya itu. Bahkan rela mengeluarkan budget yang tidak sedikit, tujuannya pun beragam, misal untuk mengisi waktu senggang, menghibur diri, melepas penat setelah seharian bekerja maupun menghilangkan stres.

Saat ditanya tentang hobi, seseorang tidak akan menjawab hanya satu kegemaran saja, bisa bermacam-macam, misal travelling, shopping, melukis, bersepeda, badminton, jelajah kuliner, memancing, merawat bunga, beternak dan lain-lain. Di antara sekian kegemaran yang dimiliki, pasti ada satu yang teristimewa. Sama halnya denganku, badminton, bersepeda, travelling, menggambar dan nonton bola adalah kegemaranku. Namun satu yang paling aku suka hingga kini, yaitu menggambar. Aku lebih suka memakai istilah menggambar daripada melukis, sebab kegemaranku ini otodidak, hanya sekedarnya saja dan tidak ada teknik khusus dalam menggambar, bahkan aku tidak tahu termasuk genre apa.

Bermula dari kebiasaan melihat ilustrasi cerpen di sebuat majalah remaja, hampir setiapkali majalah itu terbit, yang pertama kulihat adalah ilustrasinya. Semakin lama aku tertarik dan ingin mencoba menggambar sama persis dengan di majalah itu. Media yang kugunakan yaitu pensil, buku gambar dan cat air-belakangan aku tahu bahwa teknik yang kugunakan itu termasuk teknik basah. Ternyata menggambar itu tidak mudah, butuh kesabaran ekstra, harus telaten dan terpenting ada mood.

Seseorang yang hobi menggambar, harus memiliki kesabaran tingkat tinggi agar gambar yang dihasilkan sesuai dengan harapan dan memiliki karakter. Telaten dapat diartikan teliti, dalam menggambar dibutuhkan ketelitian terhadap setiap detail objek yang akan digambar, misalnya menggambar wajah. Harus benar-benar diteliti setiap lekuk-lekuk wajah, mulai dari mata, hidung, bibir, dagu dan sebagainya. Mood atau suasana hati juga sangat berpengaruh terhadap hasil yang digambar. Jika suasana hati sedang tidak nyaman, sebaiknya tidak dipaksakan menggambar, karena gambar tidak akan pernah selesai dan akhirnya tergeletak begitu saja. Ini yang sering aku alami.

Kini aku lebih suka menggambar wajah menggunakan pensil B, 2B, 5B, 7B dan pensil warna, karena lebih simple dan irit daripada menggunakan cat air. Dalam sehari biasanya aku menghasilkan satu gambar saja, itupun jika mood. Beberapa anggota keluarga pernah kugambar, termasuk menggambar wajahku. Dari melihat gambar-gambar yang aku share di status whatsapp, seorang sahabat meminta tolong untuk membuat ilustrasi dalam buku cerita anak miliknya. Semula aku ragu, sebab menggambar ini sekadar hobi, dan mengisi waktu luang. Jika menggambar akan dijadikan ilustrasi sebuah buku, haruslah seorang illustrator yang benar-benar andal dan memiliki jam terbang tinggi. Sedangkan aku hanya menghasilkan beberapa gambar saja, itu pun hanya untuk kalangan terbatas.

Namun aku mencoba menerima tawaran itu, dengan catatan jika gambarku tidak sesuai dengan ekspektasinya, maka tidak dimuat dalam bukunya. Membutuhkan waktu seminggu untuk menyelesaikan 13 gambar sesuai contoh yang disodorkan padaku. Di sinilah kesabaranku kembali di uji, beberapa gambar gagal kubuat, sebab konsentrasiku terfokus pada beberapa naskah antologi yang deadlinenya hampir bersamaan. Hingga aku butuh waktu 2 hari untuk istirahat, tidak menggambar. Inilah pentingnya mood dalam menggambar.

Melihat hasil gambarku, semula aku pesimis, khawatir mengecewakan. Namun, diluar dugaan, sahabatku cocok dengan gambarku, dan terpampang di buku novel anak berjudul “Dio Si Penggalang”. Terima kasih atas kepercayaan ini.

Tidak berhenti di situ, beberapa gambarku digunakan sebagai objek tantangan menulis kepada anggota di sebuah komunitas menulis yang kuikuti. Ketua komunitas itu memberikan tantangannya berupa menulis puisi tema sesuai gambar yang kubuat. Total ada 8 tema dan diikuti 27 penulis di komunitas itu. Dari kegiatan tersebut dihasilkan sebuah karya antologi.

Salah satu dari 8 tema itu, tema Hari Ibu sangat membuatku terkesan, sebab aku menggambar wajah almarhum Ibuku. Beliau adalah motivasiku dalam mengarungi liku-liku hidup.

Beberapa lukisan lainnya bisa dilihat DI SINI

Selanjutnya info tentang pendidikan bisa kunjungi

aleepenaku

.





2 komentar

  1. apik e artikel dan lukisane....pingin belajar bareng sampeyan terus aku ben ketularan..

    BalasHapus

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021