Panggilan Menara Hijau

Author
Published Juni 29, 2022
Panggilan Menara Hijau

 


Siang begitu terik, hawa panas menyeruak ke seluruh ruangan kamar bernuansa wild rose ini. Kuhidupkan kipas angin kecil yang terletak di meja, tak jauh dari tempat tidurku. Tubuhku yang sejak tadi berkeringat mulai merasakan kesejukan, namun embusan angin itu belum mampu menyejukkan hatiku. Kubuka buku diary berwana kulit bergambar Menara Eifel, buku yang paling ikhlas menampung semua ceritaku. Kutumpahkan semua isi hatiku di situ, tentang keluh kesah, rasa senang, kecewa, marah, sedih, bahkan perasaan ketika hatiku berbunga-bunga.

 Beberapa hari ini aku bimbang, ayah ibuku menginginkan aku melanjutkan sekolah di sebuah pondok pesantren. Sedangkan aku ingin melanjutkan ke sekolah kejuruan jurusan tata boga. Aku ingin memperdalam ilmu tentang dunia masak memasak. Entahlah, semenjak ibu mengajariku memasak dan mencoba resep-resep masakan, aku seolah telah terjerumus ke dalam dunia kuliner. Bagiku, menjadi santri akan memupuskan semua harapanku.

Kututup diaryku dan meletakkannya di antara deretan novel koleksiku. Lalu, mataku tertuju pada album foto berwarna biru, mengambilnya dan membuka lembar demi lembar foto kebersamaanku dengan Dita, Rara, dan Sinta. Mereka sahabat yang selalu menemani hari-hariku. Kami saling menyemangati dan berbagi dalam suka maupun duka.

Tampak di foto itu Dita mengenakan kaos kuning dan jilbab bunga-bunga warna senada, membuatnya semakin cantik. Sementara Rara, setiap kali berfoto selalu mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan, membentuk huruf V yang bermakna peace, simbol perdamaian. Sedangkan Sinta yang berkaca mata minus itu, selalu memakai rok jeans, sepatu ket putih, dan tas slempang biru toska kemana pun dia pergi. Kebersamaan di Kawah Wurung itu menjadi momen terakhir pertemuanku dengan mereka. Sebab tak lama lagi aku akan meninggalkan kota ini. Kota yang memberiku banyak kenangan. Tawa, canda, mimpi-mimpi, dan kota yang mengajarkanku bahwa harapan pasti ada. Tanpa kusadari puluhan tetes air mataku jatuh melihat foto itu.

Kuperhatikan satu per satu kertas yang penuh coretan puisi, lukisan-lukisan, dan foto-fotoku yang menempel di grid yang terpajang di dinding kamar. Aku tak tahu apakah hobiku ini masih bisa kulakukan setelah memondok nanti. Memikirkannya semakin membuat hatiku gundah. Bahkan alunan merdu Anneth Delliecia dari Spotify di ponselku, belum mampu mengobati kegundahan hatiku. Aku semakin galau teringat perdebatanku dengan ayah dan ibu sore itu di ruang tengah.

“Ayah dan Ibu tidak sayang lagi sama Khayra. Ibu sengaja ingin menyingkirkan Khayra!”

“Khayra, dengarkan ibu, sayang. Di pondok nanti kamu akan belajar banyak hal yang berguna untuk masa depanmu. Kamu akan belajar hidup mandiri, disiplin, dan bertemu dengan teman-teman yang membuatmu senang dan bahagia.”

“Bukan bahagia, Bu. Itu namanya dikekang. Aku harus melakukan dan patuh pada semua aturan. Bangun sebelum subuh, ngaji, makan seadanya, sekolah mulai pagi sampai malam, begitu setiap hari. Apalagi tidak boleh pegang HP, semua akan membuatku tertekan. Aku gak mau mondok, Bu.”

Aku hendak beranjak dan pergi dari ruangan itu, namun ayah yang duduk di sampingku memegang pundakku agar aku tetap duduk.

“Khayra, Ayah ingin kamu tetap mondok. Di pondok nanti kamu akan diajarkan AlQuran dan AlHadist lebih mendalam. Belajar tentang bagaimana sebaiknya hidup berdampingan dengan sesama. Kamu akan mengenal lebih banyak bahasa, dan pergaulanmu lebih luas.”

“Lalu untuk apa Ibu mengajariku memasak?”

Aku semakin tidak bisa mengendalikan rasa kesalku.

“Ayah dan ibu tidak mau mengerti keinginan Khayra. Di pondok nanti Khayra pasti tidak punya teman yang cocok!”

Seketika aku meninggalkan ruangan itu, tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan ayah ibu.

“Khayra!”

Tak kuhiraukan suara ayah yang agak keras memanggilku. Aku terus saja berjalan menuju kamar. Kuhempaskan tubuh ke tempat tidur, kudekap guling hingga menutupi wajahku. Aku tak henti-hentinya berpikir, mengapa ayah dan ibu bersikeras menyuruhku mondok? Aku bukan remaja yang nakal. Nilai ulangan harian dan raporku bagus, aku selalu masuk tiga besar di kelas. Apakah keberadaanku mengganggu kebahagiaan mereka, padahal aku anak semata wayang mereka.

                                                                   ****

Besok batas terakhir penerimaan santri di pondok. Semua keperluan selama memondok belum kusiapkan. Aku masih berbaring sambil mendengarkan alunan suara Anneth kesukaanku. Berat rasanya meninggalkan ruangan yang selama bertahun-tahun menjadi tempat paling nyaman bagiku. Foto-foto, lukisan, dan puisi-puisi yang kutempel di dinding, serta novel-novel koleksiku menjadi alasan betapa berat meninggalkan ruangan ini.

 Aku belum bisa membayangkan bagaimana kehidupan di pondok nanti. Aku tak tahu, apakah mampu menjalani semua aturan-aturan yang mereka terapkan? Sementara aku sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Bermain ke rumah sahabat-sahabatku, nonton, kuliner, mengunjungi tempat-tempat wisata setiap akhir pekan, atau sekadar duduk-duduk di teras sambil membaca novel.

“Khayra.”

Suara lembut ibu dari balik pintu kamar menyadarkan lamunanku. Aku segera beranjak membuka pintu. Raut wajah ibu tampak sangat lelah. Ibu masuk kamar sambil membawa koper dan baju-bajuku yang telah diseterikanya.

“Kemasi barang-barangmu, Khayra. Besok kita ke pondok. Mulai sekarang Khayra harus belajar mandiri,” kata Ibu sambil menata tempat tidurku yang berantakan penuh dengan buku-buku dan novel.

“Iya, Bu.” 

Hanya kata itu yang mampu kuucapkan.

Dengan berat hati satu per satu kumasukkan baju-baju ke dalam koper. Sengaja aku membelakangi ibu, agar ibu tak melihat ada air mata mengalir menuruni pipiku. Andai ibu tahu, betapa aku masih ingin menjalani hari-hariku bersamanya setiap hari. Tempat mengadu saat ada masalah di sekolah, bercerita tentang sosok guru yang aku idolakan, sampai tentang perasaan sukaku pada seorang teman. Tapi, aku tidak ingin mengecewakan hati ayah dan ibu. Walau aku tahu, ayah dan ibu juga merasa berat melepasku yang sudah 14 tahun diasuhnya dengan penuh kasih sayang. Semua itu harus mereka ikhlaskan demi masa depanku.

Malam pun telah larut, namun mataku belum bisa berkompromi untuk membawaku ke alam mimpi. Hingga menjelang waktu Subuh, aku belum bisa memejamkan mata. Kehidupan pondok yang akan kujalani, telah membelenggu hati dan pikiranku.

Seketika kudengar deru mobil. Samar-samar kulihat dari balik tirai kamar, sebuah mobil sewa yang akan kami tumpangi telah berhenti tepat di depan rumah. Inilah awal aku akan menjejaki dunia baruku sebagai santri.

Aku tak dapat menahan rasa kantuk begitu mobil mulai melaju. Pembicaraan ayah dan ibuku semakin lama makin tak terdengar. Sandaran kepalaku di pangkuan ibu, membuat tidurku nyenyak. Entah sudah berapa lama aku tertidur, hingga terbangun ketika mobil terguncang-guncang meniti jalan kecil berbatu. Saat aku duduk, kulihat di kejauhan di balik pepohonan tampak ujung menara hijau sebuah masjid.

“Itu pasti pondoknya,” batinku.

Perasaanku mulai tak karuan saat mobil semakin mendekati menara, hingga berhenti di tempat parkir tepat di sisi utara gedung tempat para santri menimba ilmu. Gedung megah berwarna serba hijau dibaluti ornamen-ornamen mewah di sisi depan, dan berlantai lima itu akan menjadi rumah keduaku beberapa tahun ke depan. Tak kusangka pondok pesantrennya semegah itu.

Ketika turun dari mobil, aku tertegun melihat masjid yang memiliki empat kubah dengan menara hijau yang menjulang. Gaya arsitektur dan ukiran-ukiran indah di menara itu sangat memukau, di depan masjid terdapat taman luas dengan kolam pancuran air. Belum selesai kekagumanku melihat keindahan masjid, ketika memasuki pondok aku merasakan kesejukan di hampir seluruh ruangan. 

Seorang petugas pondok mengantar kami menuju kamar tempat aku menginap. Kami melewati kamar-kamar santri putri yang lumayan luas. Tampak dua orang santri berjalan ke arah kami. Tak seperti yang aku bayangkan, busana polos warna gelap yang mereka pakai sederhana tetapi terkesan elegan. Wajah keduanya bercahaya seperti rembulan, mungkin itu berkah seringnya mereka berwudu. Mereka terlihat lebih smart daripada aku. Mereka tersenyum, menganggukkan kepala sambil menyusun sepuluh jari dan menempatkannya di depan dada, tanda hormat kepada kami.

Pondok pesantren ini sangat bertolak belakang dengan yang aku bayangkan sebelumnya. Tempat ini tidak menakutkan, dan bukan penjara atau buangan bagi anak-anak nakal. Masjid yang megah, menara hijau nan cantik, dan santri-santrinya yang ramah telah meluluhkan hatiku yang sekeras batu. Aku merasa tertantang dan bertekad untuk menimba ilmu di sini, agar aku siap mengarungi masa depan yang lebih baik.

Kupeluk ayah dan ibu sesaat sebelum meninggalkanku. Senyum mereka menjadi semangat bagiku. Aku belum beranjak dari tempatku berdiri hingga langkah ayah dan ibu menghilang dari balik tembok pondok pesantren ini.

“Ayah, ibu, doakan Khayra.”

                                                            ****

#Cerpen ini telah dimuat di majalah nasional Elipsis edisi 012, Mei-Juni 2022.


4 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021