Panggilan Menara Hijau
Siang
begitu terik, hawa panas menyeruak ke seluruh ruangan kamar bernuansa wild rose
ini. Kuhidupkan kipas angin kecil yang terletak di meja, tak jauh dari tempat
tidurku. Tubuhku yang sejak tadi berkeringat mulai merasakan kesejukan, namun
embusan angin itu belum mampu menyejukkan hatiku. Kubuka buku diary berwana
kulit bergambar Menara Eifel, buku yang paling ikhlas menampung semua ceritaku.
Kutumpahkan semua isi hatiku di situ, tentang keluh kesah, rasa senang, kecewa,
marah, sedih, bahkan perasaan ketika hatiku berbunga-bunga.
Beberapa hari ini aku bimbang, ayah ibuku
menginginkan aku melanjutkan sekolah di sebuah pondok pesantren. Sedangkan aku
ingin melanjutkan ke sekolah kejuruan jurusan tata boga. Aku ingin memperdalam
ilmu tentang dunia masak memasak. Entahlah, semenjak ibu mengajariku memasak
dan mencoba resep-resep masakan, aku seolah telah terjerumus ke dalam dunia
kuliner. Bagiku, menjadi santri akan memupuskan semua harapanku.
Kututup
diaryku dan meletakkannya di antara deretan novel koleksiku. Lalu, mataku
tertuju pada album foto berwarna biru, mengambilnya dan membuka lembar demi
lembar foto kebersamaanku dengan Dita, Rara, dan Sinta. Mereka sahabat yang
selalu menemani hari-hariku. Kami saling menyemangati dan berbagi dalam suka
maupun duka.
Tampak
di foto itu Dita mengenakan kaos kuning dan jilbab bunga-bunga warna senada,
membuatnya semakin cantik. Sementara Rara, setiap kali berfoto selalu
mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan, membentuk huruf V yang bermakna
peace, simbol perdamaian. Sedangkan Sinta yang berkaca mata minus itu, selalu
memakai rok jeans, sepatu ket putih, dan tas slempang biru toska kemana pun dia
pergi. Kebersamaan di Kawah Wurung itu menjadi momen terakhir pertemuanku
dengan mereka. Sebab tak lama lagi aku akan meninggalkan kota ini. Kota yang
memberiku banyak kenangan. Tawa, canda, mimpi-mimpi, dan kota yang
mengajarkanku bahwa harapan pasti ada. Tanpa kusadari puluhan tetes air mataku
jatuh melihat foto itu.
Kuperhatikan
satu per satu kertas yang penuh coretan puisi, lukisan-lukisan, dan foto-fotoku
yang menempel di grid yang terpajang di dinding kamar. Aku tak tahu apakah
hobiku ini masih bisa kulakukan setelah memondok nanti. Memikirkannya semakin
membuat hatiku gundah. Bahkan alunan merdu Anneth Delliecia dari Spotify di
ponselku, belum mampu mengobati kegundahan hatiku. Aku semakin galau teringat
perdebatanku dengan ayah dan ibu sore itu di ruang tengah.
“Ayah
dan Ibu tidak sayang lagi sama Khayra. Ibu sengaja ingin menyingkirkan Khayra!”
“Khayra,
dengarkan ibu, sayang. Di pondok nanti kamu akan belajar banyak hal yang
berguna untuk masa depanmu. Kamu akan belajar hidup mandiri, disiplin, dan
bertemu dengan teman-teman yang membuatmu senang dan bahagia.”
“Bukan
bahagia, Bu. Itu namanya dikekang. Aku harus melakukan dan patuh pada semua
aturan. Bangun sebelum subuh, ngaji, makan seadanya, sekolah mulai pagi sampai
malam, begitu setiap hari. Apalagi tidak boleh pegang HP, semua akan membuatku
tertekan. Aku gak mau mondok, Bu.”
Aku
hendak beranjak dan pergi dari ruangan itu, namun ayah yang duduk di sampingku
memegang pundakku agar aku tetap duduk.
“Khayra,
Ayah ingin kamu tetap mondok. Di pondok nanti kamu akan diajarkan AlQuran dan
AlHadist lebih mendalam. Belajar tentang bagaimana sebaiknya hidup berdampingan
dengan sesama. Kamu akan mengenal lebih banyak bahasa, dan pergaulanmu lebih
luas.”
“Lalu
untuk apa Ibu mengajariku memasak?”
Aku
semakin tidak bisa mengendalikan rasa kesalku.
“Ayah
dan ibu tidak mau mengerti keinginan Khayra. Di pondok nanti Khayra pasti tidak
punya teman yang cocok!”
Seketika
aku meninggalkan ruangan itu, tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan ayah
ibu.
“Khayra!”
Tak
kuhiraukan suara ayah yang agak keras memanggilku. Aku terus saja berjalan
menuju kamar. Kuhempaskan tubuh ke tempat tidur, kudekap guling hingga menutupi
wajahku. Aku tak henti-hentinya berpikir, mengapa ayah dan ibu bersikeras
menyuruhku mondok? Aku bukan remaja yang nakal. Nilai ulangan harian dan
raporku bagus, aku selalu masuk tiga besar di kelas. Apakah keberadaanku
mengganggu kebahagiaan mereka, padahal aku anak semata wayang mereka.
****
Besok
batas terakhir penerimaan santri di pondok. Semua keperluan selama memondok
belum kusiapkan. Aku masih berbaring sambil mendengarkan alunan suara Anneth
kesukaanku. Berat rasanya meninggalkan ruangan yang selama bertahun-tahun
menjadi tempat paling nyaman bagiku. Foto-foto, lukisan, dan puisi-puisi yang kutempel
di dinding, serta novel-novel koleksiku menjadi alasan betapa berat
meninggalkan ruangan ini.
Aku belum bisa membayangkan bagaimana
kehidupan di pondok nanti. Aku tak tahu, apakah mampu menjalani semua
aturan-aturan yang mereka terapkan? Sementara aku sudah terlalu lama berada di
zona nyaman. Bermain ke rumah sahabat-sahabatku, nonton, kuliner, mengunjungi
tempat-tempat wisata setiap akhir pekan, atau sekadar duduk-duduk di teras
sambil membaca novel.
“Khayra.”
Suara
lembut ibu dari balik pintu kamar menyadarkan lamunanku. Aku segera beranjak
membuka pintu. Raut wajah ibu tampak sangat lelah. Ibu masuk kamar sambil
membawa koper dan baju-bajuku yang telah diseterikanya.
“Kemasi
barang-barangmu, Khayra. Besok kita ke pondok. Mulai sekarang Khayra harus
belajar mandiri,” kata Ibu sambil menata tempat tidurku yang berantakan penuh
dengan buku-buku dan novel.
“Iya,
Bu.”
Hanya
kata itu yang mampu kuucapkan.
Dengan
berat hati satu per satu kumasukkan baju-baju ke dalam koper. Sengaja aku membelakangi
ibu, agar ibu tak melihat ada air mata mengalir menuruni pipiku. Andai ibu
tahu, betapa aku masih ingin menjalani hari-hariku bersamanya setiap hari.
Tempat mengadu saat ada masalah di sekolah, bercerita tentang sosok guru yang
aku idolakan, sampai tentang perasaan sukaku pada seorang teman. Tapi, aku
tidak ingin mengecewakan hati ayah dan ibu. Walau aku tahu, ayah dan ibu juga
merasa berat melepasku yang sudah 14 tahun diasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Semua itu harus mereka ikhlaskan demi masa depanku.
Malam
pun telah larut, namun mataku belum bisa berkompromi untuk membawaku ke alam
mimpi. Hingga menjelang waktu Subuh, aku belum bisa memejamkan mata. Kehidupan
pondok yang akan kujalani, telah membelenggu hati dan pikiranku.
Seketika
kudengar deru mobil. Samar-samar kulihat dari balik tirai kamar, sebuah mobil
sewa yang akan kami tumpangi telah berhenti tepat di depan rumah. Inilah awal
aku akan menjejaki dunia baruku sebagai santri.
Aku
tak dapat menahan rasa kantuk begitu mobil mulai melaju. Pembicaraan ayah dan
ibuku semakin lama makin tak terdengar. Sandaran kepalaku di pangkuan ibu,
membuat tidurku nyenyak. Entah sudah berapa lama aku tertidur, hingga terbangun
ketika mobil terguncang-guncang meniti jalan kecil berbatu. Saat aku duduk,
kulihat di kejauhan di balik pepohonan tampak ujung menara hijau sebuah masjid.
“Itu
pasti pondoknya,” batinku.
Perasaanku
mulai tak karuan saat mobil semakin mendekati menara, hingga berhenti di tempat
parkir tepat di sisi utara gedung tempat para santri menimba ilmu. Gedung megah
berwarna serba hijau dibaluti ornamen-ornamen mewah di sisi depan, dan
berlantai lima itu akan menjadi rumah keduaku beberapa tahun ke depan. Tak
kusangka pondok pesantrennya semegah itu.
Ketika
turun dari mobil, aku tertegun melihat masjid yang memiliki empat kubah dengan
menara hijau yang menjulang. Gaya arsitektur dan ukiran-ukiran indah di menara
itu sangat memukau, di depan masjid terdapat taman luas dengan kolam pancuran
air. Belum selesai kekagumanku melihat keindahan masjid, ketika memasuki pondok
aku merasakan kesejukan di hampir seluruh ruangan.
Seorang
petugas pondok mengantar kami menuju kamar tempat aku menginap. Kami melewati
kamar-kamar santri putri yang lumayan luas. Tampak dua orang santri berjalan ke
arah kami. Tak seperti yang aku bayangkan, busana polos warna gelap yang mereka
pakai sederhana tetapi terkesan elegan. Wajah keduanya bercahaya seperti
rembulan, mungkin itu berkah seringnya mereka berwudu. Mereka terlihat lebih
smart daripada aku. Mereka tersenyum, menganggukkan kepala sambil menyusun
sepuluh jari dan menempatkannya di depan dada, tanda hormat kepada kami.
Pondok
pesantren ini sangat bertolak belakang dengan yang aku bayangkan sebelumnya.
Tempat ini tidak menakutkan, dan bukan penjara atau buangan bagi anak-anak
nakal. Masjid yang megah, menara hijau nan cantik, dan santri-santrinya yang
ramah telah meluluhkan hatiku yang sekeras batu. Aku merasa tertantang dan
bertekad untuk menimba ilmu di sini, agar aku siap mengarungi masa depan yang lebih
baik.
Kupeluk
ayah dan ibu sesaat sebelum meninggalkanku. Senyum mereka menjadi semangat
bagiku. Aku belum beranjak dari tempatku berdiri hingga langkah ayah dan ibu
menghilang dari balik tembok pondok pesantren ini.
“Ayah,
ibu, doakan Khayra.”
****
#Cerpen ini telah dimuat di majalah
nasional Elipsis edisi 012, Mei-Juni 2022.
.png)
Kayra Semangat ! Keren Bundaπ
BalasHapusTerima kasih, Bu ..
Hapusππ
BalasHapusTerima kasih Bu Pembina, he he
Hapus