Seharum Lavender
Bergegas kupakai sepatu hitam dan merapikan tempat tidur yang sempat
berantakan. Semalam kakak dan adikku, Rio dan Randi, menginap di kamar yang
berukuran 4x4 ini. Cukup luas untuk ukuran kamar kos. Aku tak ingin terlambat
walau lima menit dari jadwal OSPEK di hari pertama. Jarak dari kos ke kampus
yang hanya 200 meter, membuatku tak perlu repot mengeluarkan motor dari garasi.
Aku cukup berjalan kaki sembari menikmati embusan udara pagi dan lambaian
dedaunan pohon yang berderet rapi di sisi kanan jalan. Lalu Lalang kendaraan
sedikit terhambat oleh motor-motor mahasiswa baru yang bergegas memasuki
halaman kampus. Tak sedikit pula yang berjalan sepertiku. Beberapa kendaraan
mulai berhenti dari dua arah, macet ketika sekelompok mahasiswa menyeberangi
jalan.
Langkah kakiku seketika terhenti. Wanita
berambut hitam lebat hampir sepinggang di antara mahasiswa itu, mengingatkanku
pada seseorang. Bulu mata yang lentik, hidung mancung bak orang Arab, serta tas
cangklong kecil warna lavender, semakin membuatku yakin ia adalah Tara, teman masa
kecilku. Tara suka sekali bunga lavender, hampir di semua sisi rumahnya
terdapat tanaman itu. Aromanya yang khas dan menenangkan, membuat bunga berwarna
ungu itu menjadi idola bagi pecinta bunga. Tak terkecuali orang tua Tara.
Rumahku dan Tara tepat berhadap-hadapan. Kami berada dalam satu komplek
perumahan dosen. Setiap aku bertandang ke rumahnya, selalu kutemui Tara sedang
duduk tepat di sisi pot lavender, sambil menciumi aromanya. Jelang senja itu, Aku
mengajaknya ke taman komplek yang sempit namun asri. Tara hanya duduk di kursi tepat
di sisi utara pohon bambu Jepang yang tumbuh menjulang, tempat favoritnya. Gadis
kecil itu hanya diam termangu, sesekali matanya tertuju pada kolam yang
dipenuhi ikan Cupang.
Raut wajahnya menyiratkan ada kegundahan. Entahlah, saat itu aku belum
mampu menebak isi hatinya. Tak ada keberanian walau sekadar menegur. Kubiarkan
ia bermain-main dengan pikirannya, dan aku masih asyik membaca dongeng di
majalah Mentari kesukaanku.
Seperti biasa, setiap jelang senja aku bertandang ke rumah Tara. Namun saat
memasuki halaman rumahnya, tak satu pun kutemui bunga lavender. Aku melangkah
mendekati rumah itu. Dari balik kaca jendela teras, kulihat seisi ruangan
kosong, tak satu pun kutemui perabot rumah. Sofa ungu, jam dinding kuno, lemari
ukir khas Jepara, dan lukisan kanvas pemandangan alam Eropa, semua tak tampak.
Hanya lampu gantung kristal model teratai yang masih menghiasi ruang tamu berukuran
minimalis itu.
Kupercepat langkahku menuju wanita yang menarik perhatianku dan aku
telah berada tepat di belakangnya tanpa ia tahu. Embusan angin menyemburkan
aroma lavender dari tubuhnya, hingga membuat getaran di dada ini semakin
kencang. Debarannya masih sama seperti dulu, saat pertama kali aku mengenalnya.
Ah, Tara. Ratusan purnama aku mencarimu.
Tara melangkah menuju gedung fakultas kedokteran. Tak kusangka, aku sefakultas
dengannya. Langkahnya terhenti tepat di depan papan pengumuman, yang memampang
nama-nama mahasiswa fakultas kedokteran semester satu.
Aku masih berdiri satu langkah di belakangnya. Rambut panjang berombak
membuatnya tampak anggun. Aku semakin mendekat dan mataku tertuju pada sebuah
nama. Tiara Paramitha Wiryamanta.
“Tara.”
Lirih kusebut nama itu. Tara menoleh dan matanya menyapu ke seluruh
tubuhku. Sesaat kami saling pandang. Ada butiran putih sebening zam-zam di
sudut matanya, senyumnya pun mengembang.
“Erlangga?”
“Iya. Aku Erlangga, teman masa kecilmu.”
Kami masih berdiri mematung. Kubiarkan rasa di dada ini semakin gaduh. Bunga-bunga di hatiku bermekaran dan melangitkan aromanya seharum lavender, saat Tara menganggukkan kepala tanda ia menerimaku menjadi kekasihnya. (*.*)
*****
#Cerpen ini telah dimuat di buku antologi berjudul "Cinta Pertama dan Warna Kasih yang Pernah Ada"
Penerbit: CV. Pustaka MediaGuru
Tahun terbit: 2021

Tuhan mempertemukan dengan caranya , kalimat2nya enak dibaca
BalasHapusTerima kasih, Bu
Hapus