Seharum Lavender

Author
Published Juni 29, 2022
Seharum Lavender
                                           


 

Bergegas kupakai sepatu hitam dan merapikan tempat tidur yang sempat berantakan. Semalam kakak dan adikku, Rio dan Randi, menginap di kamar yang berukuran 4x4 ini. Cukup luas untuk ukuran kamar kos. Aku tak ingin terlambat walau lima menit dari jadwal OSPEK di hari pertama. Jarak dari kos ke kampus yang hanya 200 meter, membuatku tak perlu repot mengeluarkan motor dari garasi. Aku cukup berjalan kaki sembari menikmati embusan udara pagi dan lambaian dedaunan pohon yang berderet rapi di sisi kanan jalan. Lalu Lalang kendaraan sedikit terhambat oleh motor-motor mahasiswa baru yang bergegas memasuki halaman kampus. Tak sedikit pula yang berjalan sepertiku. Beberapa kendaraan mulai berhenti dari dua arah, macet ketika sekelompok mahasiswa menyeberangi jalan.

            Langkah kakiku seketika terhenti. Wanita berambut hitam lebat hampir sepinggang di antara mahasiswa itu, mengingatkanku pada seseorang. Bulu mata yang lentik, hidung mancung bak orang Arab, serta tas cangklong kecil warna lavender, semakin membuatku yakin ia adalah Tara, teman masa kecilku. Tara suka sekali bunga lavender, hampir di semua sisi rumahnya terdapat tanaman itu. Aromanya yang khas dan menenangkan, membuat bunga berwarna ungu itu menjadi idola bagi pecinta bunga. Tak terkecuali orang tua Tara.

Rumahku dan Tara tepat berhadap-hadapan. Kami berada dalam satu komplek perumahan dosen. Setiap aku bertandang ke rumahnya, selalu kutemui Tara sedang duduk tepat di sisi pot lavender, sambil menciumi aromanya. Jelang senja itu, Aku mengajaknya ke taman komplek yang sempit namun asri. Tara hanya duduk di kursi tepat di sisi utara pohon bambu Jepang yang tumbuh menjulang, tempat favoritnya. Gadis kecil itu hanya diam termangu, sesekali matanya tertuju pada kolam yang dipenuhi ikan Cupang.

Raut wajahnya menyiratkan ada kegundahan. Entahlah, saat itu aku belum mampu menebak isi hatinya. Tak ada keberanian walau sekadar menegur. Kubiarkan ia bermain-main dengan pikirannya, dan aku masih asyik membaca dongeng di majalah Mentari kesukaanku.

Seperti biasa, setiap jelang senja aku bertandang ke rumah Tara. Namun saat memasuki halaman rumahnya, tak satu pun kutemui bunga lavender. Aku melangkah mendekati rumah itu. Dari balik kaca jendela teras, kulihat seisi ruangan kosong, tak satu pun kutemui perabot rumah. Sofa ungu, jam dinding kuno, lemari ukir khas Jepara, dan lukisan kanvas pemandangan alam Eropa, semua tak tampak. Hanya lampu gantung kristal model teratai yang masih menghiasi ruang tamu berukuran minimalis itu.

Kupercepat langkahku menuju wanita yang menarik perhatianku dan aku telah berada tepat di belakangnya tanpa ia tahu. Embusan angin menyemburkan aroma lavender dari tubuhnya, hingga membuat getaran di dada ini semakin kencang. Debarannya masih sama seperti dulu, saat pertama kali aku mengenalnya. Ah, Tara. Ratusan purnama aku mencarimu.

Tara melangkah menuju gedung fakultas kedokteran. Tak kusangka, aku sefakultas dengannya. Langkahnya terhenti tepat di depan papan pengumuman, yang memampang nama-nama mahasiswa fakultas kedokteran semester satu.

Aku masih berdiri satu langkah di belakangnya. Rambut panjang berombak membuatnya tampak anggun. Aku semakin mendekat dan mataku tertuju pada sebuah nama. Tiara Paramitha Wiryamanta.

“Tara.”

Lirih kusebut nama itu. Tara menoleh dan matanya menyapu ke seluruh tubuhku. Sesaat kami saling pandang. Ada butiran putih sebening zam-zam di sudut matanya, senyumnya pun mengembang.

“Erlangga?” 

“Iya. Aku Erlangga, teman masa kecilmu.”

Kami masih berdiri mematung. Kubiarkan rasa di dada ini semakin gaduh. Bunga-bunga di hatiku bermekaran dan melangitkan aromanya seharum lavender, saat Tara menganggukkan kepala tanda ia menerimaku menjadi kekasihnya. (*.*)

                                                                *****

#Cerpen ini telah dimuat di buku antologi berjudul "Cinta Pertama dan Warna Kasih yang Pernah Ada"

Penerbit: CV. Pustaka MediaGuru

Tahun terbit: 2021

                                                                  

 









2 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021