Secangkir Macchiato

Author
Published Juni 29, 2022
Secangkir Macchiato

 





Satu jam aku duduk di sini, di kursi sofa gaya Eropa warna biru. Walau tak begitu luas, café ini memberiku kenyamanan. Beberapa lampu gantung bohlam vintage menghiasi setiap sudut ruangan. Sebuah lampu yang dipasang di dinding warna madi green, semakin menambah segar dan nyaman suasananya. Di pojok utara ruangan ini, empat kursi ukir kayu warna putih diletakkan melingkari meja berbentuk oval. Rak kaca berisi berbagai macam dessert, menggodaku untuk betah berlama-lama di café ini.

Aku sengaja duduk menghadap ke sisi jendela luar, untuk melihat kendaraan yang lalu lalang, dan orang-orang yang memaksa berjalan di rerintik hujan. Aku berharap salah satu mobil yang lewat akan berhenti tepat di depan café, dan Fahran pemiliknya. Lelaki yang setahun lalu menyatakan cintanya tepat pada saat rerintik hujan seperti siang ini.

Masih kuingat masa itu, dengan balutan kaos putih lengan pendek berlogo Erigo, celana jeans biru muda, dan sandal jepit berbahan karet, tak menunjukkan Fahran anak konglomerat terkenal. Sangat sederhana dan simpel. Tutur kata dan sikapnya, menandakan ia sangat menghargai wanita. Ramah dan selalu merendah. Aku semakin mengaguminya.

Ia hanya memesan secangkir macchiato, saat pelayan menyodorkan buku menu. Sekilas kuamati raut wajah, dan gerakan jemari tangannya. Sesekali kami saling tatap, dan ia pun menyunggingkan bibirnya membentuk senyum. Lalu dipalingkannya pandangan ke arah pelayan yang melayani pelanggan yang baru datang. Jari-jari tangan ia rapatkan, menyatukannya, dan digerakkan maju mundur dengan lambat. Pandangannya semakin tidak fokus, dan ia berusaha menenangkan diri. Kubiarkan saja Fahran dengan tingkahnya. Aku tak tahu, mengapa Fahran mengajakku ke tempat yang romantis itu. Selama dua tahun bersahabat, ia tak pernah mengajakku ke café.

Lantunan merdu suara Al Jarreau dengan After Allnya mengiringi langkah pelayan menuju meja kami. Secangkir macchiato ia letakkan di atas alas piring yang terbuat dari rotan, tepat di depan Fahran, dan semangkuk kecil kentang goreng mozzarella yang kupesan siap untuk kusantap. Uap putih yang mengepul dari cangkir putih itu, membumbung perlahan lalu menghilang. Fahran menyentuh pegangan cangkir dan memutar perlahan ke kiri dan kanan, matanya tertuju pada kepulan uap putih itu. Sesekali ia menghirup aromanya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Aku tak dapat mengira-ngira apa yang ada di benak Fahran, hingga ia tak kunjung menyesap kopi yang terbuat dari campuran espresso dengan susu itu. Aku masih asyik menikmati satu per satu kentang goreng dengan lelehan keju mozzarella, sambil menahan gejolak yang kurasakan. Entahlah, aku selalu merasa nyaman berada di dekat Fahran.  

Sesaat kemudian tiba-tiba kudengar lirih suara Fahran.

“Dinda. Aku mencintaimu.”

                                                                            ***

Secangkir macchiato belum sedikit pun kusesap. Kubiarkan ia dingin, sedingin hatiku yang membeku. Aromanya merasuk hingga ke ujung nadi, dan menyebar ke seluruh ruang hatiku. Sama seperti rinduku pada Fahran, menyebar hingga tak ada celah.

Setelah langit menghentikan rintiknya, aku enggan beranjak dari café ini. Aku masih berharap Fahran menemuiku, seperti janjinya sepuluh purnama lalu.

“Dinda, tunggu aku di café. Jangan pergi sebelum aku datang. Ada kejutan untukmu.”

 Begitu bunyi pesan yang kubaca di WhatsApp saat itu. Kupenuhi permintaannya, menunggu hingga rembulan bercengkerama dengan bintang-bintang, tapi Fahran tak kunjung datang.

Kumain-mainkan cangkir putih itu, memutar perlahan ke kiri dan kanan, seperti yang pernah Fahran lakukan, dulu. Lalu, kuangkat dan menyesap sedikit macchiato sambil kuarahkan pandangan ke luar jendela kaca. Sebuah honda accord putih berhenti tepat di depan café. Perlahan kuletakkan kembali cangkir ke atas meja, sambil mataku tetap tertuju pada mobil putih itu. Seorang wanita muda berkaos kuning bahan tunik lengan panjang, celana jeans hitam, dan sepatu sport putih turun dari pintu sopir. Dibiarkannya beberapa helai rambutnya yang hitam dan tergerai melebihi pundak, tertiup sepoi angin hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia bergegas menuju pintu kiri mobil dan membukanya.

 Tanpa sadar, kubelalakkan mata lalu kuusap-usap untuk memastikan aku tidak bermimpi melihat lelaki yang turun dari mobil. Detak jantungku mulai tak menentu, Kusapu tubuh lelaki itu dari ujung rambut hingga kaki. Sandal jepit dan kaos berlogo Erigo.yah, dia Fahran!

Perlahan langkah kaki Fahran dan wanita disampingnya memasuki café, dan menuju meja di salah satu sudut ruangan, bersebelahan dengan rak kaca berisi aneka dessert. Seorang pelayan mendekati mereka dan menyodorkan buku menu. Ingin sekali kudekati Fahran, namun rasa kecewa telah menguasai pikiranku saat tahu Fahran bersama seorang wanita. Inikah alasan mengapa ia tak menepati janjinya untuk menemuiku? Apakah wanita itu pilihan orang tuanya? Satu per satu kristal-kristal bening mulai keluar dari kedua sudut mataku.

Aku masih memperhatikan mereka dari tempatku duduk. Rupanya Fahran belum menyadari keberadaannku di café ini. Semangkuk kecil kentang goreng mozzarella, seperti yang kupesan setahun lalu, telah berada di atas alas piring di depannya. Hingga beberapa menit belum dimakannya, dan hanya memandangi kentang itu dengan tatapan kosong. Sesekali ia arahkan tatapannya ke luar jendela dengan wajah yang menyiratkan kesedihan mendalam. Ia acuhkan wanita dihadapannya.

 Suara saxophone lagu Kangen milik Dewa 19, semakin menderaikan rinduku. Aku semakin larut dalam rasa yang mendalam hingga membuatku terpuruk dalam cinta yang tak berkesudahan. Mataku tak lagi dapat membendung airnya dan mengalir deras menuruni lereng pipiku. Kusesap macchiato yang tinggal beberapa tetes sebelum kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu. Aku tak ingin berlama-lama melihat mereka berdua. Aku kecewa. Hatiku patah, sepatah-patahnya. Serupa pecahan kaca yang tertembus peluru. Hancur berkeping-keping.

Aku beranjak dari tempatku duduk, dan ketika kubalikkan tubuhku hendak menuju pintu keluar, Fahran telah berdiri di hadapanku. Segera kuusap pipiku yang penuh dengan butiran bening. Tatapan teduh Fahran, membuatku salah tingkah. Bibirku bergetar, tak mampu berucap walau satu kata. Menyadari hal itu, seketika Fahran memegang lenganku dan menuntunku kembali duduk di kursi yang aku tempati.

Kami masih diam, berusaha saling menenangkan, menata rasa yang begitu riuh, dan menahan gejolak yang ada.

“Din, maafkan aku. Janji untuk bertemu denganmu sepuluh bulan lalu telah kutepati. Tapi sesaat sebelum sampai di café ini, sebuah truk menabrak mobilku hingga aku terpelanting keluar dari mobil. Aku tak punya keberanian lagi menemuimu. Sejak saat itu, kuputuskan untuk melupakanmu. Tapi semakin aku melupakanmu, bayanganmu selalu menghantuiku. Saat itu, aku ingin melamarmu.”

Aku masih terdiam, berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Fahran.

“Dinda, izinkan aku menyematkan cincin ini di jari manismu.”

“Lalu, wanita itu?”

“Dia Amel, sepupuku. Amel yang selalu menemaniku ke tempat ini di saat aku merindukanmu. Aku tak akan mampu berpaling darimu.”

 Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Fahran memegang punggung telapak tanganku, dan sesaat kemudian cincin yang indah itu telah berada di jari manisku. Lalu kedua tangannya memegang lembut jemari tanganku. Senyumnya mengembang. Rindu yang sekian lama terpendam telah tumpah, lepas, bak seekor burung kenari yang lepas dari sangkarnya. Seperti lirik di akhir lagu Kangen, “Melepas semua kerinduan yang terpendam.”

Hari-hari berikutnya, aku dan Fahran merajut kebahagiaan bersama, memberi seluruh ruang hati untuk menyimpan cinta selamanya. Secangkir macchiato menjadi teman kami di setiap rerintik hujan tiba. Menjadi kenangan manis antara aku dan Fahran. (*,*)

                                                                                                                                            

                                                                            SELESAI


.#Cerpen ini telah dimuat di majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) Kemenag. Jatim edisi Maret 2022


6 komentar

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

Halaman

Copyright © 2021