Secangkir Macchiato
Satu
jam aku duduk di sini, di kursi sofa gaya Eropa warna biru. Walau tak begitu
luas, café ini memberiku kenyamanan. Beberapa lampu gantung bohlam vintage
menghiasi setiap sudut ruangan. Sebuah lampu yang dipasang di dinding warna madi
green, semakin menambah segar dan nyaman suasananya. Di pojok utara ruangan
ini, empat kursi ukir kayu warna putih diletakkan melingkari meja berbentuk
oval. Rak kaca berisi berbagai macam dessert, menggodaku untuk betah
berlama-lama di café ini.
Aku
sengaja duduk menghadap ke sisi jendela luar, untuk melihat kendaraan yang lalu
lalang, dan orang-orang yang memaksa berjalan di rerintik hujan. Aku berharap
salah satu mobil yang lewat akan berhenti tepat di depan café, dan Fahran
pemiliknya. Lelaki yang setahun lalu menyatakan cintanya tepat pada saat
rerintik hujan seperti siang ini.
Masih
kuingat masa itu, dengan balutan kaos putih lengan pendek berlogo Erigo, celana
jeans biru muda, dan sandal jepit berbahan karet, tak menunjukkan Fahran anak
konglomerat terkenal. Sangat sederhana dan simpel. Tutur kata dan sikapnya,
menandakan ia sangat menghargai wanita. Ramah dan selalu merendah. Aku semakin
mengaguminya.
Ia
hanya memesan secangkir macchiato, saat pelayan menyodorkan buku menu. Sekilas
kuamati raut wajah, dan gerakan jemari tangannya. Sesekali kami saling tatap,
dan ia pun menyunggingkan bibirnya membentuk senyum. Lalu dipalingkannya
pandangan ke arah pelayan yang melayani pelanggan yang baru datang. Jari-jari
tangan ia rapatkan, menyatukannya, dan digerakkan maju mundur dengan lambat.
Pandangannya semakin tidak fokus, dan ia berusaha menenangkan diri. Kubiarkan
saja Fahran dengan tingkahnya. Aku tak tahu, mengapa Fahran mengajakku ke
tempat yang romantis itu. Selama dua tahun bersahabat, ia tak pernah mengajakku
ke café.
Lantunan
merdu suara Al Jarreau dengan After Allnya mengiringi langkah pelayan menuju
meja kami. Secangkir macchiato ia letakkan di atas alas piring yang terbuat
dari rotan, tepat di depan Fahran, dan semangkuk kecil kentang goreng
mozzarella yang kupesan siap untuk kusantap. Uap putih yang mengepul dari
cangkir putih itu, membumbung perlahan lalu menghilang. Fahran menyentuh
pegangan cangkir dan memutar perlahan ke kiri dan kanan, matanya tertuju pada
kepulan uap putih itu. Sesekali ia menghirup aromanya. Tak sepatah kata pun
keluar dari bibirnya.
Aku
tak dapat mengira-ngira apa yang ada di benak Fahran, hingga ia tak kunjung
menyesap kopi yang terbuat dari campuran espresso dengan susu itu. Aku masih
asyik menikmati satu per satu kentang goreng dengan lelehan keju mozzarella,
sambil menahan gejolak yang kurasakan. Entahlah, aku selalu merasa nyaman
berada di dekat Fahran.
Sesaat
kemudian tiba-tiba kudengar lirih suara Fahran.
“Dinda.
Aku mencintaimu.”
***
Secangkir
macchiato belum sedikit pun kusesap. Kubiarkan ia dingin, sedingin hatiku yang
membeku. Aromanya merasuk hingga ke ujung nadi, dan menyebar ke seluruh ruang
hatiku. Sama seperti rinduku pada Fahran, menyebar hingga tak ada celah.
Setelah
langit menghentikan rintiknya, aku enggan beranjak dari café ini. Aku masih
berharap Fahran menemuiku, seperti janjinya sepuluh purnama lalu.
“Dinda,
tunggu aku di café. Jangan pergi sebelum aku datang. Ada kejutan untukmu.”
Kumain-mainkan
cangkir putih itu, memutar perlahan ke kiri dan kanan, seperti yang pernah
Fahran lakukan, dulu. Lalu, kuangkat dan menyesap sedikit macchiato sambil
kuarahkan pandangan ke luar jendela kaca. Sebuah honda accord putih berhenti
tepat di depan café. Perlahan kuletakkan kembali cangkir ke atas meja, sambil
mataku tetap tertuju pada mobil putih itu. Seorang wanita muda berkaos kuning
bahan tunik lengan panjang, celana jeans hitam, dan sepatu sport putih turun
dari pintu sopir. Dibiarkannya beberapa helai rambutnya yang hitam dan tergerai
melebihi pundak, tertiup sepoi angin hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia
bergegas menuju pintu kiri mobil dan membukanya.
Tanpa sadar, kubelalakkan mata lalu
kuusap-usap untuk memastikan aku tidak bermimpi melihat lelaki yang turun dari
mobil. Detak jantungku mulai tak menentu, Kusapu tubuh lelaki itu dari ujung
rambut hingga kaki. Sandal jepit dan kaos berlogo Erigo.yah, dia Fahran!
Perlahan
langkah kaki Fahran dan wanita disampingnya memasuki café, dan menuju meja di
salah satu sudut ruangan, bersebelahan dengan rak kaca berisi aneka dessert.
Seorang pelayan mendekati mereka dan menyodorkan buku menu. Ingin sekali
kudekati Fahran, namun rasa kecewa telah menguasai pikiranku saat tahu Fahran
bersama seorang wanita. Inikah alasan mengapa ia tak menepati janjinya untuk
menemuiku? Apakah wanita itu pilihan orang tuanya? Satu per satu
kristal-kristal bening mulai keluar dari kedua sudut mataku.
Aku
masih memperhatikan mereka dari tempatku duduk. Rupanya Fahran belum menyadari
keberadaannku di café ini. Semangkuk kecil kentang goreng mozzarella, seperti
yang kupesan setahun lalu, telah berada di atas alas piring di depannya. Hingga
beberapa menit belum dimakannya, dan hanya memandangi kentang itu dengan
tatapan kosong. Sesekali ia arahkan tatapannya ke luar jendela dengan wajah
yang menyiratkan kesedihan mendalam. Ia acuhkan wanita dihadapannya.
Suara saxophone lagu Kangen milik Dewa 19,
semakin menderaikan rinduku. Aku semakin larut dalam rasa yang mendalam hingga
membuatku terpuruk dalam cinta yang tak berkesudahan. Mataku tak lagi dapat
membendung airnya dan mengalir deras menuruni lereng pipiku. Kusesap macchiato
yang tinggal beberapa tetes sebelum kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Aku tak ingin berlama-lama melihat mereka berdua. Aku kecewa. Hatiku patah, sepatah-patahnya.
Serupa pecahan kaca yang tertembus peluru. Hancur berkeping-keping.
Aku
beranjak dari tempatku duduk, dan ketika kubalikkan tubuhku hendak menuju pintu
keluar, Fahran telah berdiri di hadapanku. Segera kuusap pipiku yang penuh
dengan butiran bening. Tatapan teduh Fahran, membuatku salah tingkah. Bibirku
bergetar, tak mampu berucap walau satu kata. Menyadari hal itu, seketika Fahran
memegang lenganku dan menuntunku kembali duduk di kursi yang aku tempati.
Kami
masih diam, berusaha saling menenangkan, menata rasa yang begitu riuh, dan
menahan gejolak yang ada.
“Din,
maafkan aku. Janji untuk bertemu denganmu sepuluh bulan lalu telah kutepati.
Tapi sesaat sebelum sampai di café ini, sebuah truk menabrak mobilku hingga aku
terpelanting keluar dari mobil. Aku tak punya keberanian lagi menemuimu. Sejak
saat itu, kuputuskan untuk melupakanmu. Tapi semakin aku melupakanmu,
bayanganmu selalu menghantuiku. Saat itu, aku ingin melamarmu.”
Aku
masih terdiam, berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Masih tidak percaya
dengan apa yang diucapkan Fahran.
“Dinda,
izinkan aku menyematkan cincin ini di jari manismu.”
“Lalu,
wanita itu?”
“Dia
Amel, sepupuku. Amel yang selalu menemaniku ke tempat ini di saat aku
merindukanmu. Aku tak akan mampu berpaling darimu.”
Hari-hari
berikutnya, aku dan Fahran merajut kebahagiaan bersama, memberi seluruh ruang
hati untuk menyimpan cinta selamanya. Secangkir macchiato menjadi teman kami di
setiap rerintik hujan tiba. Menjadi kenangan manis antara aku dan Fahran. (*,*)
SELESAI
.#Cerpen ini telah dimuat di majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) Kemenag. Jatim edisi Maret 2022
.png)
Ungkapan korea mengatakan: orang baik selalu ingin ending yg baik ..bagus bu setingnya detil
BalasHapusTerima kasih Bu
HapusBu ketua memang sellaluh
BalasHapusMasih belajar Bu, he he
HapusFarhaaaan dimana kau...?
BalasHapusFarhan apa Fahran pak? wkwkwk
Hapus