Penggoda
![]() |
| Gambar koleksi pribadi |
Aldi
dan Diana memulai kedekatannya sejak setahun lalu. Mereka memiliki banyak
perbedaan, bagai minyak dan air selalu tidak ada titik temu saat terjadi
pertengkaran.
Aldi lelaki yang tak banyak bicara, egois,
keras kepala, cara bicaranya to the point, tanpa basa basi. Sementara Diana, saat
berbicara nyaris tidak ada titik komanya. Candaannya terkadang membuat Aldi
terpaksa menarik ujung bibir beberapa sentimeter ke atas. Apa pun yang Diana
inginkan harus dituruti, membuat Aldi sering kali tersenyum kecut. Cintalah yang
menyebabkan mereka bertahan dengan situasi itu.
Kaus
putih lengan panjang bertuliskan Hard Rock Cafe telah melekat di tubuh Aldi.
Digulungnya lengan hingga siku agar terlihat lebih santai. Celana jeans hitam,
jaket warna senada, serta sepatu kets putih dia pakai malam itu. Sedikit Bellagio
Hair Pomade dia usap pada rambut pendeknya agar terlihat rapi. Aldi berdiri di
depan cermin, untuk memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya. Dia
ingin terlihat paripurna di mata Diana, wanita yang telah memikat hatinya
sedemikian rupa.
Aldi
berjalan menuju motor sport yang terparkir di garasi sambil mengalungkan gitar
akustik coklat kesayangannya. Seketika motor itu telah melaju cepat di tengah
deru mesin-mesin kendaraan. Lampu-lampu jalanan bagaikan kunang-kunang
mengikutinya hingga batas kota. Setelah itu, jalanan pekat tanpa satu pun sorot
lampu. Aldi ingin cepat sampai di kafe yang Diana inginkan. Meski cukup jauh,
tempat itu menyuguhkan pemandangan kota dari atas bukit.
Halaman
kafe masih sepi, hanya dua mobil dan tiga motor terparkir di situ. Begitu
memasuki kafe, mata Aldi menyapu seluruh ruangan hingga berjalan menuju bagian
belakang. Namun, Diana tak tampak di kursi tempat mereka biasa duduk. Aldi
mencoba menelepon Diana, tapi nada sambung dialihkan, segera dia tulis pesan di
WhatsApp-nya,
“Dien,
aku sudah di kafe. Kamu di mana?”
Hingga
beberapa menit belum ada balasan. Aldi menduga mungkin Diana masih dalam
perjalanan. Di bawah rembulan yang tersenyum di langit gulita, dia lantunkan Sang
Penggoda dari Tata Janeeta. Tak dia hiraukan orang-orang di sekeliling yang
menikmati alunan petikan gitarnya. Pandangan Aldi terus tertuju pada pintu
masuk ruangan itu, berharap Diana segera datang. Tapi, hingga bait terakhir
lagu usai dinyanyikan, Diana belum juga muncul.
Aroma
khas dari secangkir kopi hitam yang Aldi pesan, lumayan menghilangkan rasa
jenuh yang menyelimutinya. Baru satu tegukan, seketika matanya melihat Diana
berdiri di depan pintu. Kaus tunik fuchsia dan outer hitam bahan rajut, pipi
merah ranum, hidung bangir, serta rambutnya yang ikal sebahu semakin membuat Aldi
terpesona. Bibir tipis dan senyumnya selalu membuat jantung Aldi berdetak
kencang.
Aldi
beranjak hendak menghampiri Diana, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba seorang
lelaki mendekati Diana. Beberapa menit kemudian mereka terlihat begitu akrab,
bahkan Diana sengaja membiarkan lelaki itu membelai rambut ikalnya. Melihat
keakraban mereka, Aldi tak dapat berpikir jernih lagi. Dia tak akan membiarkan
lelaki itu merebut Diana darinya. Kepala Aldi bak disambar petir hingga
meluluhlantakkan semua isinya.
Setengah
berlari Aldi mendekati mereka. Diana belum menyadari keberadaannya. Secepat
kilat Aldi menarik kerah baju lelaki itu dengan tangan kiri dan tangan kanan
siap menampar wajahnya. Sontak Diana terkejut.
“Aldi,
lepaskan!” teriak Diana sambil berusaha menarik lengan Aldi.
Aldi tak menghiraukannya. Seketika pipi lelaki
itu memerah oleh tamparannya.
“Aldi,
hentikan. Dia Rangga sepupuku!”
Diana
memegang lengan Rangga dan mengajaknya pergi meninggalkan kafe itu. Sementara
Aldi masih mematung, teringat lirik lagu Sang Penggoda yang dia lantunkan tadi. (*.*)
****
#Cerpen ini telah dimuat di buku antologi berjudul “Jika Cemburu Menyergap, Mari Minum Teh Berdua dan Mendekatkan Takdir saat Bibirku Dekat di Keningmu”
Penerbit: CV. Pustaka MediaGuru
Tahun terbit: 2022

Kisah nyata? , lama tetapi baru?keren
BalasHapus